Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 23 April 2026

Cegah Virus Corona Mendunia, Sejumlah Negara Waspadai Penumpang dari China

* Korban Virus Misterius China Melonjak 139 Kasus dalam Dua Hari
Redaksi - Rabu, 22 Januari 2020 10:22 WIB
229 view
Cegah Virus Corona Mendunia, Sejumlah Negara Waspadai Penumpang dari China
bebas.kompas.id
Ilustrasi
Beijing (SIB)
Asia kian meningkatkan pertahanannya terhadap virus baru dari China yang menyerupai SARS. Sejak Selasa 21 Januari, diberlakukan pemeriksaan wajib di bandara kedatangan dari daerah-daerah berisiko tinggi di China ketika pihak berwenang bergerak untuk mencegah krisis kesehatan regional.

Dari Bangkok ke Hong Kong dan Seoul hingga Sydney, pemerintah setempat melakukan travel alert terhadap penumpang dari China, untuk mewaspadai virus corona baru, mengikuti konfirmasi Tiongkok tentang kasus pertama penularan penyakit mematikan dari manusia ke manusia. Empat orang telah meninggal di China sementara banyak lagi yang terinfeksi virus itu.

Kasus penularan virus corona baru telah terdeteksi di Thailand, Jepang dan Korea Selatan ketika Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan akan bertemu untuk membahas deklarasi darurat kesehatan masyarakat global atas wabah tersebut. Sejauh ini pihak berwenang Thailand telah memperkenalkan pemindaian termal wajib bagi penumpang yang datang dari daerah berisiko tinggi di bandara China di Bangkok, Chiang Mai, Phuket dan Krabi.

"Penumpang itu akan diperiksa tanpa pengecualian," ujar Menteri Kesehatan Anutin Charnvirakul dalam sebuah pernyataan. Menteri Kesehatan Anutin Charnvirakul menambahkan, jika mereka menunjukkan tanda-tanda demam, maka akan dikarantina selama 24 jam untuk pemantauan.

Seperempat dari penerbangan internasional dari Wuhan - pusat virus mematikan - tiba di Thailand. Sekitar 1.300 penumpang diperkirakan tiba dari Wuhan selama Tahun Baru Imlek, yang dimulai akhir pekan ini. Thailand sangat ingin menghindari wabah mematikan itu selama musim puncak liburan. Dua orang China yang baru datang di Thailand ditemukan dengan jenis virus baru itu- yang satu di antaranya telah dikeluarkan dari rumah sakit dan telah kembali ke China.

Di Hong Kong, kota di selatan China itu menjadi ingatan akan wabah Sindrom Pernafasan Akut (SARS) 2002-2003 yang menewaskan ratusan orang masih menghantui kota itu. Pihak berwenang mengatakan mereka berada dalam "siaga sangat ekstrem". "Kami ... bersiap untuk yang terburuk. Kami belum menurunkan penjagaan kami," kata pemimpin nomor dua Hong Kong, Chief Secretary Matthew Cheung, kepada wartawan.

Bandara Hong Kong telah secara rutin menyaring suhu semua penumpang yang tiba di bandara, salah satu yang tersibuk di dunia. Mereka yang tiba dari Wuhan harus mengisi deklarasi kesehatan dan menghadapi denda dan hukuman penjara hingga enam bulan jika mereka gagal menyatakan gejalanya.

Sementara Taiwan menaikkan status ke tingkat siaga tertinggi kedua bagi mereka yang bepergian ke dan dari Wuhan, menyarankan pengunjung untuk menghindari mengunjungi pasar unggas hidup mana pun sementara penyaringan telah ditingkatkan di bandara.

Perbatasan darat China yang luas dengan para tetangganya juga berada di bawah pengawasan. Kementerian kesehatan Vietnam telah memerintahkan lebih banyak pemeriksaan perbatasan karena "risiko infeksi tinggi" mengingat arus barang dan orang lintas perbatasan setiap hari. Karena khawatir akan jangkauan wabah meningkat, pejabat kesehatan Australia mengatakan, mereka telah membatasi seorang pria di rumahnya setelah dia kembali dari Wuhan menunjukkan gejala virus - kasus yang diduga pertama di negara itu.

Saat ini pihak berwenang China telah melaporkan 139 kasus baru virus misterius dalam dua hari terakhir. Situasi itu menandai pertama kalinya infeksi telah dikonfirmasi di China menyebar ke luar kota Wuhan. Kasus-kasus baru diidentifikasi di kota-kota Wuhan, Beijing dan Shenzhen. Jumlah total kasus yang dikonfirmasi saat ini telah melebihi 200, dengan tiga korban telah dikonfirmasi meninggal dunia karena penyakit pernapasan, demikian diwartakan BBC, Senin (20/1).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan jumlah kasus meningkat karena "peningkatan pencarian dan pengujian". Jenis corona virus ini, pertama kali muncul di Wuhan pada Desember tahun lalu dan telah menyebar ke luar negeri. Dua kasus dilaporkan terjadi di Thailand dan satu kasus lain di Jepang. Jumlah korban yang telah terjangkit kemungkinan lebih tinggi dari yang telah dilaporkan sejauh ini.

WHO mengatakan "peningkatan pencarian dan pengujian untuk (virus) di antara orang yang sakit dengan penyakit pernapasan" telah menyebabkan lonjakan dalam kasus yang dikonfirmasi. Badan kesehatan dunia itu mengatakan "hewan tampaknya merupakan sumber yang paling memungkinkan" dari virus tersebut, meski ada "beberapa penularan terbatas manusia ke manusia yang terjadi antara orang yang melakukan kontak jarak dekat."

Komisi Kesehatan Nasional China sebelumnya mengatakan virus itu "masih dapat dicegah dan dikendalikan". Sementara itu pihak berwenang memperingatkan bahwa pemantauan ketat diperlukan mengingat sumber metode transmisi dan mutasi tidak diketahui.

Badan kesehatan China telah berjanji untuk meningkatkan pemantauan selama perayaan Tahun Baru Imlek yang jatuh pekan ini, ketika jutaan orang akan bepergian untuk berkumpul bersama keluarga mereka. Sampel virus telah diambil dari pasien dan dianalisis di laboratorium. Para pejabat di China dan WHO menyimpulkan bahwa infeksi tersebut adalah virus corona virus.

Corona virus adalah keluarga besar virus, tetapi baru ada enam varian yang diketahui menginfeksi manusia, corona virus ini akan menjadi yang ketujuh. Efek ringan virus itu hanya akan menyebabkan pilek, tetapi di sisi lain, sindrom pernafasan akut (Sars) yang menewaskan 774 dari 8.098 orang yang terinfeksi dalam wabah pada 2002 juga disebabkan. Analisis kode genetik menunjukkan virus baru itu lebih terkait erat dengan Sars daripada corona virus lainnya yang menulari manusia.

Perketat
Kementerian Perhubungan bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan meningkatkan kewaspadaan dan mengantisipasi penyebaran wabah pneumonia berat yang belum diketahui etiloginya di Indonesia.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Polana B. Pramesti mengatakan pihaknya akan menindaklanjuti pemberitahuan Kementerian Kesehatan terkait penyebaran wabah Pneumonia Berat melalui peningkatan pengawasan di bandar udara, khususnya bandar udara internasional.

"Kami akan bekerja sama dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) untuk meningkatkan pengawasan di bandar udara terutama terminal kedatangan internasional untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut di Indonesia," ujar Polana dalam keterangannya Selasa (21/1).

Polana juga mengimbau pihak operator bandara dan maskapai untuk melakukan langkah-langkah yang disampaikan oleh Kementerian Kesehatan untuk mencegah penyebaran wabah Pneumonia Berat di Indonesia.

Antara lain, pertama, maskapai yang melayani penerbangan langsung maupun transit dari Tiongkok dan Hong Kong untuk segera menyampaikan dokumen kesehatan berupa gendec dan manifest penumpang kepada petugas kesehatan di pos Kesehatan KKP terminal penerbangan internasional sesaat setelah mendarat.

"Kedua, operator bandara dan pihak KKP untuk meningkatkan pengawasan di terminal kedatangan internasional utamanya bagi penumpang yang datang dari negara terjangkit dengan skinning menggunakan kamera pemindai suhu tubuh Thermal Scanner dan Surveilance Syndrome," jelasnya.

Ketiga, lanjut Polana agar operator bandara meneruskan sosialisasi yang dilakukan pihak Kemenkes kepada maskapai, ground handling, imigrasi dan stakeholder lainnya terkait untuk mengenali secara dini gejala penyakit. Bila terdampak diharapkan segera melaporkan kepada petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP).

Keempat, pihak operator penerbangan menggunakan alat pelindung dini seperti masker untuk melindungi diri dari resiko tinggi kontak dengan penderita.

"Ditjen Hubud akan terus melakukan pengawasan untuk meningkatkan pelayanan terbaik kepada para pengguna transportasi udara dengan tetap mengutamakan keselamatan, keamanan dan kenyamanan," pungkasnya.

Sebagai informasi, pneumonia merupakan tipe baru dari virus sindrom pernapasan akut berat atau SARS yang berasal dari China. Pada akhir bulan Desember 2019 hingga awal Januari 2020, virus Pneumonia tersebar di China, setelah ditemukan pasien-pasien Pneumonia atau radang paru-paru berat yang diantaranya dalam kondisi krisis. Wabah Pneumonia termasuk wabah misterius dan sempat memicu kekhawatiran karena terkait dengan wabah SARS. (liputan6/okz/detikcom/q)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru