Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 22 Februari 2026
Sama Seperti Unsur Nuklir Chernobyl

Batan Indah Tangsel Kena Paparan Radioaktif

Bisa Bikin Mandul dan Kanker
Redaksi - Minggu, 16 Februari 2020 09:14 WIB
289 view
Batan Indah Tangsel Kena Paparan Radioaktif
Foto: Ant/Muhammad Iqbal
TEMUAN RADIOAKTIF: Tim Teknis Kimia Biologi Radioaktif Gegana Brimob Mabes Polri dan Tim Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETAN) melakukan pengukuran tingkat paparan tinggi radioaktif yang ditemukan di Perumahan Batan Indah, Serpong, Tangerang Sel
Jakarta (SIB)
Perumahan Batan Indah, Kecamatan Setu, Tangerang Selatan, Banten, terpapar radioaktif. Di kawasan itu, unsur radioaktif lebih tinggi ketimbang kawasan lainnya.

Hal ini diketahui dari pernyataan resmi Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), tertanggal 14 Februari 2020. Awalnya, pada 30-31 Januari, Bapeten melakukan pemantauan, dan teramati Perumahan Batan Indah mempunyai nilai paparan radiasi di atas normal.
Bapeten sudah melakukan pengecekan ulang dan penyisiran ke lokasi terkait penemuan adanya kenaikan laju radioaktif. Bapeten juga melakukan koordinasi ke RT setempat untuk memasang safety perimeter, membatasi kawasan yang aman dan kawasan yang tidak aman.

Pada 7 dan 8 Februari, Bapeten juga telah menemukan sumber serpihan yang diduga menyebabkan kenaikan paparan radioaktif di Perumahan Batan Indah, Tangerang Selatan. Bapeten pun mengambil tanah untuk dianalisis. Beberapa warga pun dicek tingkat kontaminasi menggunakan whole body counting (WBC).

Unsur Nuklir Chernobyl
Ternyata, Cs 137 adalah unsur yang sama dengan yang menyebar ke dunia akibat bencana nuklir Chernobyl.
Ledakan akibat kecelakaan reaktor nuklir di Chernobyl terjadi pada 26 April 1986 di kawasan Ukraina, saat itu masih menjadi kawasan Uni Soviet. Peristiwa itu menjadi bencana terparah sepanjang masa, mengubah daerah yang tadinya padat penduduk menjadi kota hantu, dan membuat zona terlarang seluas 2.600 kilometer persegi.

Dilansir dari situs National Cancer Institute, Departemen Kesehatan dan Pelayanan Manusia Amerika Serikat (AS), Cs 137 muncul akibat produksi spontan lewat fisi nuklir. Apa pula itu fisi nuklir? Fisi adalah pembelahan inti atom menjadi inti-inti atom baru yang lebih ringan sambil melepaskan energi.

Dilansir situs Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), peluruhan inti atom Cs 137 itu sendiri punya waktu yang relatif panjang ketimbang unsur radioaktif lainnya. Waktu ini disebut sebagai 'waktu paro/waktu paruh (half-life)'. Cs 137 punya waktu paro 30 tahun.
Zubaidah Alatas, Mukh Syaifudin, dan Siti Nurhayati dari BATA menjelaskan lewat penelitiannya, Cs 137 adalah salah satu radionuklida yang dihasilkan oleh percobaan senjata nuklir di atmosfer, bisa mengontaminasi manusia dan lingkungan, masuk ke tubuh baik lewat makanan maupun pernapasan. Cs 137 adalah hasil fisi bahan bakar uranium atau plutonium di reaktor nuklir, sehingga kemampuan dalam menangani seseorang yang terkontaminasi radionuklida tersebut sangat diperlukan pada kecelakaan instalasi nuklir.

Cs 137 juga menyebar saat reaktor nuklir Chernobyl mengalami kecelakaan tahun 1986. Dilansir situs Batan, Cs 137 lepas ke lingkungan setelah kecelakaan Chernobyl, menyebar ke wilayah yang cukup luas, termasuk ke negara-negara di Eropa.

Waktu paruh fisiknya adalah 30 tahun. Oleh karena itu, zat tersebut dapat ditemukan untuk waktu yang cukup lama di alam ini. Sebenarnya, sesium sudah ada di alam ini, juga sebelum terjadi kecelakaan, karena hampir setengah dari sesium yang lepas di atmosfer akibat uji senjata nuklir yang dilakukan pada tahun 1960-an masih tetap ada.

Namun, efektivitas waktu paro sesium dalam tubuh hanya 100 hari. Efektivitas waktu paruh menunjukkan waktu selama separuh aktivitas sesium yang diterima tubuh dibuang. Keefektifan waktu paruh ditentukan oleh pengaruh campuran dari waktu paruh fisik dan jumlah buang air besar.

Namun, ada zat langka tertentu, yang metabolisme atau sifatnya dalam tubuh spesifik sehingga zat-zat tersebut dapat mencapai organ tertentu dan tetap berada di dalam organ tersebut. Dalam hal ini, berkurangnya tingkat aktivitas dalam tubuh tergantung pada waktu paruh fisik dari zat tersebut.

Tak hanya menyebar akibat bencana Chernobyl tahun '80-an, Cs 137 juga mencemari lingkungan akibat bencana nuklir Fukushima saat gempa dan tsunami Jepang 11 Maret 2011. Dilansir LiveScience, Cs 137 akibat bencana Fukushima masih tergolong rendah.
"Unsur ini memang umum di ketenaganukliran, di Chernobyl maupun Fukushima ada," kata Indra Gunawan.

Cs 137 bereaksi dengan air menghasilkan senyawa yang larut dalam air (cesium hidroksida). Setelah memasuki tubuh, Cesium akan terdistribusi ke seluruh tubuh, dengan konsentrasi lebih tinggi dalam jaringan otot dan lebih rendah dalam tulang. Apabila air yang terkontaminasi tersebut terminum maka dapat menyebabkan terbentuknya radikal bebas di dalam tubuh sehingga menimbulkan efek buruk bagi kesehatan.

5 Warga Diperiksa
Lima orang warga diperiksa untuk dijadikan sampel setelah ditemukan paparan radioaktif di Perumahan Batan Indah. Pemeriksaan itu akan dilakukan bergantian oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan).
"Warga yang akan diperiksa akan didata dulu, supaya nanti bergantian karena terbatasnya fasilitas Batan. Kita akan ambil sampel 5 orang warga dulu," kata Indra.

Indra mengatakan, paparan radio aktif yang berlebihan bisa membuat seseorang mengalami kemandulan dan kanker. Namun dampak kesehatan itu tak langsung dapat terlihat dan dirasakan dalam kurun waktu singkat.

"Cuma kan efeknya sifatnya tidak spontan, itu yang malah jadi bahaya karena aware kita terhadap radiasi, beda dengan terbakar, udah gitu dia tidak berbau, tidak berasa, membuat kita tidak bisa deteksi ada paparan radiasi berlebihan di sekitar kita kecuali menggunakan alat," ucap Indra.

"Secara umum paparan radiasi berlebihan itu secara umum itu, kan sifatnya yang karsinogenik, artinya menyebabkan kanker, kemudian yang paling populer dia menyebabkan infertilitas atau kemandulan kepada orang, kalau untuk yang laki-laki kemudian perubahan kromosom," kata Indra.

Indra juga meminta warga tak mendekati area terpapar yang sudah dipasang pembatas.
"Kita juga sudah mengukur untuk di trotoar dan di jalan serta permukiman penduduk terdekat, hasil pengukuran kita menunjukkan masih tingkat aman di sekitar situ. Cuma memang warga kita minta untuk tidak beraktifitas atau masuk di wilayah tali kuning yang sudah kita berikan di situ," kata Indra.

Ditemukan
Kabar terakhir, sumber radioaktif di Perumahan Batan Indah sudah diangkat. Badan Pengawas Tenaga Nuklir mengungkapkan, sumber radioaktif itu kini disimpan di fasilitas limbah Batan.

"Alhamdullilah, kita menemukan sumbernya. Ada lima spot. Sudah kita temukan semua, kita angkat, kita simpan di fasilitas limbahnya milik Batan. Oleh karena itu, saat ini daerah ini sudah kosong, ini sudah tidak ada sumber kontaminannya," kata Sekretaris Utama (Sestama) Bapeten, Hendrianto Hadi Tjahyanto, Sabtu (15/2).

Meskipun telah diangkat, Hadi mengungkapkan bahwa tanah di sekitar titik penemuan sumber radioaktifnya sudah tercemar. Karena itulah, pihak Bapeten mengeruk tanah-tanah di sekitar titik penemuan tersebut.

"Tapi sumber kontaminan itu cukup lama ada di sini, sehingga dia sudah kehujanan dan lain-lain. Itu jadi mungkin mencemari tanah. Oleh karena itu, tanah-tanah di sini, meski sumbernya sudah diangkat, tapi tanah-tanah di sini nampaknya juga tercemar," ungkap Hadi.

"Oleh karena itu, di sini ada traktor, segala macam, mulai mengeruk tanah-tanah daerah yang tercemar itu. Kita keruk 2-3 hari kemarin, dan tanahnya sudah kita amankan di fasilitas limbahnya Batan," imbuhnya.
Kini, tanah yang diduga tercemar juga sudah diangkat. Hadi memastikan daerah tempat penemuan radioaktif itu aman dari radiasi.
"Jadi, oleh karena itu, saat ini bisa dikatakan sumbernya sudah tidak ada. Tanah-tanah yang terkontaminan pun sudah kita angkat, daerah ini sudah aman. Walaupun begitu, tetap kita kasih garis kuning," imbuhnya.

Peringatan Keras!
Komisi VII DPR ingin agar peristiwa terpaparnya Perumahan Batan Indah Tangerang Selatan oleh radioaktif bisa menjadi peringatan bahaya nuklir bagi lembaga yang mengurusi nuklir di Indonesia, yakni Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) dan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten).

"Ini harus menjadi peringatan keras. Ini karena segala sesuatu tentang nuklir harus terukur secara presisi, tidak boleh ada kelalaian atau kelengahan yang mengakibatkan radiasi," kata Ketua Komisi VII DPR, Sugeng Suparwoto, kepada wartawan, Sabtu (15/2).
Untuk saat ini, Sugeng tidak ingin menduga-duga asal radiasi di Batan Indah itu. Maka Bapeten harus menyelidiki secara seksama untuk menemukan fakta-fakta sumber radiasi itu.

"Komisi VII meminta Bapeten dan Batan untuk menyelidiki lebih lanjut kenapa di satu titik terpapar dengan radiasi relatif lebih tinggi dari ambang batas normal," kata Sugeng yang merupakan politikus Partai NasDem ini.

"Kita sama-sama tahu, radiasi itu berbahaya. Meski begitu, kita apresiasi Bapeten karena temuan ini juga berasal dari temuan Bapeten, dari pengukuran berkala," kata Sugeng.

Ambil Sampel
Sementara itu, Tim Teknis Kimia, Biologi, Radiokatif (KBR) dari Korps Brimob Polri mengecek titik radioaktif dan mengambil sampel tanah dari lokasi di Perumahan Batan Indah.

Tim Teknisi KBR membawa ember kotak berwarna kuning menuju titik gundukan tanah tersebut. Saat tiba di gundukan, salah seorang personel membuka terpal tersebut lalu memasukkan sejumlah tanah ke dalam ember kuning kemudian ember ditutup.
Usai memasukkan sampel tanah, Tim Teknisi KBR menutup kembali gundukan tanah menggunakan terpal. Setelah itu, para personel meninggalkan lokasi tersebut. (detikcom/d)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru