Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 22 Februari 2026
FOKUS

Bergerak Cepat Meningkatkan Daya Saing Pariwisata

Redaksi - Minggu, 23 Februari 2020 10:41 WIB
160 view
Bergerak Cepat Meningkatkan Daya Saing Pariwisata
reqnews.com
Ilustrasi
Travel Tourism Competitiveness Index Indonesia yang saat ini berada pada posisi 40. Negara-negara sesama ASEAN memiliki posisi lebih baik. Thailand saat ini berada pada posisi 31, Vietnam 63, dan Malaysia 29.

Pada 2015 peringkat Indonesia masih berada di peringkat 50. Kemudian 2 tahun berikutnya 2017 naik ke peringkat 42 dan di tahun 2019 peringkat Indonesia kembali naik meskipun hanya sedikit pada peringkat 40. Artinya, ada perbaikan dari tahun ke tahun.

Seat capacity menuju Indonesia sebenarnya masih relatif tinggi di jajaran negara-negara Asia Tenggara. Tercatat Thailand memiliki seat capacity sebanyak 57 juta, sementara Singapura ada 35 juta. Kemudian, Malaysia 44,8 juta, dan Indonesia 25 juta.

Pariwisata Indonesia memiliki kelebihan dan kelemahan. Lima keunggulan terkait dengan daya saing harga, prioritas kebijakan, daya tarik alam, keterbukaan dan daya tarik budaya, dan kunjungan bisnis. Kelemahan dalam 5 pilar, yaitu di bidang lingkungan yang berkelanjutan, kesehatan dan kebersihan, infrastruktur pariwisata, keamanan, dan teknologi informasi.

Untuk membantu pariwisata, pemerintah berencana akan memberikan diskon bagi wisman sebanyak 30 persen dari tarif riil. Angka ini masih bisa berubah sesuai situasi. Ada kemungkinan untuk travel bironya diberi diskon yang lebih misalnya 50 persen.

Banyak hal yang masih harus dibenahi jika ingin sektor pariwisata Indonesia menjadi nomor satu di Asia Tenggara. Padahal dari potensi, Indonesia memiliki kekayaan yang luar biasa. Lalu kenapa masih kalah dari negara-negara yang kondisinya relatif sama dengan Tanah Air. Malaysia misalnya, unggul di pilar lingkungan pendukung pariwisata, persaingan harga, dan infrastruktur pendukung.

Indonesia memang relatif terlambat melakukan pembenahan di sektor pariwisata. Pembangunan infrastruktur misalnya, baru gencar di era Jokowi. Di kawasan Danau Toba bisa dilihat pesatnya pembangunan untuk memudahkan akses wisatawan.
Tugas berat menanti Kementerian Pariwisata pada periode kedua Jokowi. Sebab telah dicanangkan untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai penyumbang devisa nomor satu di Indonesia. Selama ini pendapatan negara masih ditopang sektor perkebunan dan pajak.

Target untuk sementara bukan menjadi destinasi wisata terbaik dunia. Lebih baik fokus dulu menjadi nomor satu di Asia Tenggara. Gerakan mesti lebih cepat, sebab negara lain juga bergegas dalam rangka menarik perhatian wisatawan mancanegara.
Langkah pemerintah sudah tepat menetapkan destinasi wisata prioritas dan super prioritas. Sebab tak mungkin dalam saat bersamaan membangun dan membenahi semua. Danau Toba termasuk super prioritas untuk menjadi objek wisatawan andalan. (**)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru