Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 22 Februari 2026
Siaga Satu Corona

Korsel Liburkan Semua Sekolah

* Trump Marah Warga AS Terpapar Corona Dipulangkan
Redaksi - Senin, 24 Februari 2020 09:31 WIB
343 view
Korsel Liburkan Semua Sekolah
yonhap/yahoonews
SIAGA SATU : Tim medis memindahkan seorang pasien terpapar virus corona ke Kyungpook National University Hospital,di Daegu,Korea Selatan.Presiden Moon Jae-in,Minggu (23/2) menetapkan Korea Selatan siaga satu corona.
Seoul (SIB)
Pemerintah Korea Selatan memutuskan menghentikan kegiatan sekolah mulai pekan depan. Keputusan diambil setelah korban terinfeksi virus corona (COVID-19) bertambah menjadi 602 orang pada akhir pekan lalu. Keputusan itu juga diambil setelah Presiden Moon Jae-in menetapkan Korea Selatan siaga satu corona.

Menteri Pendidikan Yoon Eun-hae mengatakan kegiatan belajar dan mengajar di sekolah mulai dari TK, SD, SMP dan SMA di seluruh Korea Selatan libur pada 2-9 Maret 2020. Tanggal itu menandai penundaan sepekan dari awal tahun ajaran baru. Pemerintah menyatakan bakal menyediakan program pengasuhan anak di taman kanak-kanak dan sekolah dasar bagi anak-anak yang orangtuanya tidak bisa merawat di rumah atau yang tidak mendapatkan libur dari perusahaan.

Pemerintah meminta perusahaan-perusahaan swasta juga mengambil bagian dari kebijakan pemerintah untuk mencegah penyebaran wabah virus corona, mengurangi hal atau acara yang dihadiri banyak orang.

Melansir Yonhap, pemerintah Korea Selatan juga menetapkan 7-10 hari mendatang menjadi momen krusial melawan penyebaran wabah virus corona. Berdasarkan laporan terakhir, melansir The Korea Herald, salah satu korban yang baru dikonfirmasi terdampak virus corona adalah anak berusia 4 tahun di Daegu. Anak perempuan tersebut menjadi yang pasien termuda terdampak corona.

Sebelumnya, pasien termuda berusia 11 tahun. Saat ini, anak perempuan 4 tahun tersebut telah dikarantina dan menjalani perawatan bersama sang ibu setelah mengalami demam. Kesehatannya langsung dicek karena mengetahui salah satu gurunya terinfeksi virus corona.

Selain sekolah, sejumlah pusat perbelanjaan di Korea Selatan juga memilih menutup toko sementara seperti Shinsegae Department Store di Gangnam akibat dikunjungi pasien terinfeksi virus corona beberapa waktu lalu. Pihak manajemen memilih menutup sementara untuk desinfeksi dan sanitasi seluruh bangunan terlebih dahulu.

Hal serupa dilakukan Lotte Department Store yang menutup toko di bagian barat Seoul setelah dikunjungi pasien terinfeksi virus corona. Penutupan sementara dinilai untuk mencegah penyebaran dan alasan keselamatan masyarakat. Berdasarkan data resmi pemerintah Korea Selatan, hingga Minggu (23/2) sore, lima orang telah meninggal dunia akibat virus corona.

Takut Kuman
Sementara itu, presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diberitakan marah karena 14 warga AS yang terinfeksi virus corona (COVID-19) dipulangkan ke ‘Negeri Paman Sam’ pada pekan ini. Dua pejabat pemerintahan AS mengatakan keputusan tersebut mengejutkan Trump yang mengaku sebagai germaphobia alias memiliki ketakutan berlebih terhadap kuman. Pejabat Kementerian Luar Negeri AS memutuskan membawa kembali warga yang telah dikarantina di kapal pesiar Diamond Princess Jepang ke Amerika setelah berkonsultasi dengan pejabat senior Kementerian Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS.

Namun, keputusan tersebut dipermasalahkan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, dengan alasan kepulangan warga AS terinfeksi virus corona bisa menularkan virus kepada lebih banyak penduduk AS. Melansir The Strait Times, kemarahan Trump muncul karena dirinya tidak mendapat pengarahan terlebih dahulu mengenai warga AS yang terinfeksi virus corona. Kemarahan itu dilampiaskan kepada Menteri Kesehatan dan Layanan Sosial Alex Azar dan beberapa petinggi lainnya.

Salah satu perwakilan pemerintah mengatakan Trump sedang mempertimbangkan untuk menutup perbatasan bagi orang yang terinfeksi virus corona, agar negaranya tetap aman dan ingin dilihat dapat mengatasi permasalahan dengan tepat. Pemerintah AS membentuk satuan tugas lintas kementerian dan lembaga yang diawasi langsung Menteri Kesehatan dan Layanan Sosial Alex Azar. Wakil Menteri Luar Negeri Stephen Biegun juga menjadi bagian satuan tugas tersebut.

Pada Jumat (21/2), perwakilan pemerintah AS mengonfirmasi 34 warga AS terinfeksi virus corona, 18 di antaranya merupakan penumpang Diamond Princess. Belum ada tanda-tanda penyebaran virus di antara kelompok masyarakat AS. Kementerian Luar Negeri menyatakan mengawasi ketat 92 warga AS yang berada di kapal pesiar di Kamboja, Westerdam, dan 260 orang di hotel-hotel Kamboja. Warga AS di sana, salah satunya wanita berusia 83 tahun diperkirakan akan melanjutkan perjalanan ke Malaysia, yang terdampak virus corona.

Berdasarkan data Minggu (23/1), total korban jiwa akibat wabah virus corona (Covid-19) mencapai 2461 orang pada Minggu (23/2). Total korban jiwa bertambah di beberapa negara mulai dari China, Korea Selatan hingga Iran. Hubei melaporkan total kematian akibat virus corona di China setidaknya mencapai 2.441 korban dan secara global paling sedikit 2.461 korban dengan data 3 pasien meninggal di Jepang, 6 orang di Iran, dan 4 orang di Korea Selatan. Hong Kong dan Italia sama-sama mengonfirmasi dua warganya meninggal akibat virus corona. Sementara itu, Taiwan, Filipina, dan Prancis sama-sama melaporkan satu kasus kematian akibat virus corona.

Minta Maaf
Menteri kesehatan Jepang Katsunobu Kato mengakui kesalahan dan meminta maaf karena 23 penumpang kapal pesiar Diamond Princess keluar tanpa menjalani pemeriksaan kesehatan dengan benar dan menyeluruh. Hal ini disampaikan menyusul 100 orang lagi diizinkan keluar dari kapal tersebut, pada Sabtu (22/2). Proses pemeriksaan dilakukan terkait merebaknya wabah virus corona atau COVID-19.

"Kami amat menyesalkan kesalahan operasional yang bisa bermasalah. Penumpang akan menjalani pemeriksaan kembali," ungkap Kato. Kabar tersebut muncul setelah seorang perempuan Jepang yang meninggal ketika pulang ke Tochigi. Ia menjadi orang pertama yang positif korona di antara 970 penumpang yang turun sejak awal pekan.

Sementara itu, 100 penumpang yang keluar pada Sabtu (22/2) terdiri atas penumpang Jepang yang terakhir. Berdasarkan keterangan pejabat setempat yang dilansir AFP, mereka akan dikarantina dua minggu di dekat Tokyo. Beberapa penumpang warga negara lain masih menunggu pemerintah mereka mengirimkan pesawat. Dengan data penumpang keluar terbaru, karantina 14 hari diperkirakan akan dimulai untuk lebih dari 1.000 kru yang masih berada di kapal. Sebagian besar dari mereka tidak dalam isolasi karena diperlukan untuk tetap menjalankan kapal, menyiapkan makanan ke kabin.

Situasi tersebut mendapat banyak kritik karena dianggap secara tidak langsung menyebarkan virus ke seluruh penumpang kapal. Kritikan muncul karena virus ini telah menyebar luas di kawasan Jepang. Berdasarkan data Jumat (21/2), Jepang menjadi negara kedua yang memiliki kasus virus corona terbanyak setelah China dengan 717 kasus.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Katsunobu Kato sempat mengatakan tidak ada fasilitas medis yang cukup besar untuk menampung lebih dari tiga ribu orang sekaligus. Dalam kesempatan itu, Kato mengungkapkan enam penumpang asal Australia, 18 orang Amerika dan satu orang Israel yang dinyatakan positif virus corona telah meninggalkan Jepang.

Kato juga mengonfirmasi rumah sakit Jepang menggunakan pengobatan anti-flu Avigan atau yang juga disebut Favipiravir, untuk mengobati pasien terinfeksi virus corona. Pemerintah, kata Kato, akan terus menggunakan obat semacam itu apabila terbukti efektif menyembuhkan.

Lolos dari Laboratorium
Sementara itu, dari mana asal muasal virus corona masih menjadi spekulasi dan dikemukakan beberapa teori. Terbaru, seorang ilmuwan yakin virus tersebut lolos dari laboratorium milik China sendiri.

Steven W Mosher selaku President of the Population Research Institute dalam kolomnya mengemukakan teori itu dengan beberapa dukungan. Ia menyebut dalam pertemuan darurat Jumat silam, presiden China Xi Jinping menyinggung pula soal keamanan laboratorium.

"Sistem nasional untuk mengontrol biosekuriti harus diterapkan untuk melindungi kesehatan warga, kata Xi, karena keamanan lab adalah keamanan nasional," tulis Steven.

"Xi tak mengakui coronavirus lolos dari salah satu laboratorium di negeri itu. Tapi di hari selanjutnya, bukti muncul mengindikasikan ini yang terjadi, kala Kementerian Sains dan Teknologi memberi arahan memperkuat manajemen biosekuriti di laboratorium mikrobiologi yang menangani virus maju seperti corona," papar dia.

Terlebih lagi, laboratorium mikrobiologi Level 4 yang punya alat untuk mengendalikan corona, bernama National Biosafety, adalah bagian dari Wuhan Institute of Virology. Wuhan adalah kota di mana corona berasal.

"Kemudian, pakar senjata biologi top dari Tentara Kemerdekaan China, Mayjen Chen Wei, diminta ke Wuhan untuk membantu upaya menangkal wabah. Menurut PLA Daily, Jenderal Chen meneliti corona sejak wabah SARS di 2003, juga Ebola dan anthrax," cetusnya.

Steven juga menuding bahwa beberapa periset China punya kebiasaan menjual hewan yang diujicoba di laboratorium ke pedagang jalanan saat eksperimen sudah selesai. Jadi, alih-alih dikremasi, hewan dijual demi uang.

"Salah satu periset di Beijing, sekarang dipenjara, menghasilkan jutaan dolar menjual monyet dan tikus di pasar binatang, yang berakhir di perut seseorang," tulisnya, dikutip dari New York Post.

Steven juga menyoroti kurang konsistennya dari mana virus corona berasal. Padahal menurutnya, kasus pertama corona berasal dari orang yang tidak pernah menginjakkan kaki di pasar hewan di Wuhan. Kemudian, ular tidak membawa corona dan kelelawar tak dijual di pasar tersebut.

"Virus mungkin lolos dari lab oleh pegawai yang terinfeksi atau menular ke manusia ketika mereka tak tahu memakan hewan lab. Apapun itu, otoritas Beijing secara jelas ingin memperbaiki masalah serius soal bagaimana lab mereka menangani pathogen mematikan," begitu teorinya.

Tentunya, apa yang dikemukakan oleh Steven dalam kolomnya tersebut masih sebatas teori yang belum ada bukti sahihnya. (AFP/detikcom/CNNI/f)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru