WASHINGTON DC (SIB)
Sebelum pandemi Covid-19 dimulai tahun lalu, orang-orang telah melihat aneh ketika Kyung Cho yang orang Asia berbicara dengan bahasa Inggris. Saat ini, Cho merasakan perilaku orang Amerika Serikat terhadap warga Asia-Amerika seperti dirinya menjadi semakin tidak bersahabat, seperti dilansir dari Reuters, Kamis (18/3). "Menjadi lebih buruk," kata Cho yang berprofesi sebagai tukang berusia 50 tahun, saat berada di toko kelontong Asia di pinggiran kota Atlanta pada Rabu (17/3). “Suatu hari saya berada di tempat parkir dan beberapa anak berteriak agar saya kembali ke China. Saya dari Korea," ungkapnya.
Di seluruh Amerika Serikat (AS), banyak warga Asia-Amerika terkejut dengan berita penembakan di tiga spa dan di sekitar Atlanta, Georgia yang terjadi, Selasa (16/3) malam waktu setempat, yang menewaskan 8 orang, 6 orang adalah wanita keturunan Asia. Saat ini, pihak berwenang mengatakan tersangka adalah laki-laki kulit putih berusia 21 tahun, yang memberitahu mereka bahwa dia mengalami kecanduan seks dan serangan itu mungkin tidak memiliki motivasi rasial.
Setelah setahun, di mana laporan kejahatan rasial terhadap orang Asia-Amerika “meroketâ€, penembakan di Atlanta memicu kemarahan, ketakutan, dan tuntutan baru untuk tanggapan dari pemerintah. “Kami dikepung,†kata Russell Jeung, profesor Kajian Amerika Asia di Universitas Negeri San Francisco dan pendiri Stop AAPI Hate, koalisi yang melacak kekerasan anti-Asia selama pandemi Covid-19. “Seluruh komunitas mengalami trauma,†ucapnya.
Lily Huynh (24 tahun) mengatakan dia kesal dengan kematian para wanita di Georgia. Dia mengatakan, semakin khawatir kalau ibunya yang seorang imigran dari Vietnam dan memiliki salon kuku di Mesquite, Texas, dapat menjadi sasaran kebencian oknum masyarakat terhadap warga Asia-Amerika, karena aksen dan kewarganegaraan ibunya yang kental. "Anda memikirkan wanita-wanita ini, dan Anda tahu ibu Anda sendiri bisa jadi mereka," kata Huynh cemas.
Dalam laporan yang dirilis pada Selasa (16/3), sebelum penembakan, lembaga koalisi mengatakan telah menerima 3.795 laporan insiden kebencian antara Maret 2020 dan Februari 2021. Mayoritas diskriminasi, seperti pelecehan verbal dan pengucilan, dengan perempuan melaporkan insiden itu terjadi sekitar 2 kali lebih sering dari pada laki-laki.
Satu studi yang diterbitkan awal bulan ini oleh Center for the Study of Hate and Extremism, satu pusat penelitian nonpartisan, menunjukkan bahwa kejahatan rasial mengalami peningkatan terhadap orang Asia-Amerika. Di 16 kota besar AS jumlahnya naik 149 persen dari 2019 hingga 2020, sementara kejahatan rasial secara keseluruhan turun 7 persen dalam periode waktu yang sama. Para pendukung komunitas mengatakan lonjakan tersebut sebagian besar disebabkan oleh orang Asia-Amerika yang disalahkan atas virus corona, yang pertama kali diidentifikasi di Wuhan, China pada akhir 2019.
Mantan Presiden AS Donald Trump berulang kali menyebut Covid-19 sebagai "Virus China" dan Retorika "kung flu", dianggap oleh beberapa orang sebagai sentimen anti-Asia yang dikobarkan. Hampir setengah dari insiden kebencian anti-Asia yang dicatat oleh Stop AAPI Hate terjadi di California, di mana orang Asia-Amerika mencapai sekira 15 persen dari populasi negara.
Ronald Lisam, seorang China-Amerika berusia 45 tahun yang sedang berbelanja bahan makanan di Pecinan San Francisco pada Rabu (17/3), mengatakan dia mulai mempertanyakan keselamatannya di tempat umum. “Setiap hari saya khawatir diserang, dirampok,†ungkapnya. Para pemimpin Asia-Amerika pada Rabu (17/3) meminta pejabat pemerintah berbuat lebih banyak untuk melindungi dan mendukung komunitas mereka. Tagar #StopAsianHate beredar luas di media sosial.
Komite DPR AS merencanakan sidang pada Kamis (18/3) untuk membahas masalah tersebut. “Orang Asia-Amerika takut meninggalkan rumah mereka, dan bukan hanya karena penyakit (Covid-19)," kata Frank Wu, presiden Queens College, City University of New York, yang mempelajari diskriminasi anti-Asia di Amerika Serikat. Ia menerangkan kemudian, "Mereka takut meninggalkan rumah karena ada risiko nyata, hanya berjalan di jalan mengurus urusan Anda sendiri, bahwa Anda akan disalahkan atas pandemi global dan orang-orang akan mengejar Anda."
Sangat Meresahkan
Sementara itu, presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, menyebut tindak kekerasan terhadap warga Asia-Amerika yang akhir-akhir ini marak 'sangat meresahkan'. Seperti dilansir AFP, Kamis (18/3), komentar itu disampaikan Biden setelah terjadi penembakan massal yang menewaskan 8 orang di Atlanta. Enam korban tewas di antaranya merupakan wanita keturunan Asia. "Saya tahu bahwa warga Asia-Amerika sangat khawatir karena, seperti yang Anda ketahui, saya telah berbicara soal kebrutalan terhadap warga Asia-Amerika selama beberapa bulan terakhir," ucap Biden. "Saya pikir itu sangat, sangat meresahkan," cetusnya.
Biden menekankan bahwa motivasi dalam penembakan brutal di Atlanta belum diketahui pasti. Penembakan di Atlanta itu terjadi di satu panti pijat dan spa pada Selasa (16/3) waktu setempat. Pelaku penembakan yang diidentifikasi sebagai Robert Aaron Long telah ditangkap. Kepada polisi, Long mengakui perbuatannya tapi membantah serangan ini bermotifkan ras. Sheriff Cherokee, Frank Seynolds, mengatakan pelaku kemungkinan seorang pelanggan dan mengaku memiliki "kecanduan seks".
Panti pijat yang menjadi lokasi penembakan diketahui terkadang menyediakan layanan prostitusi, tapi pihak berwenang mengatakan belum ada indikasi lokasi ini telah diincar sebelumnya.
Dalam kasus ini, menurut Departemen Sheriff wilayah Cherokee seperti dilansir BBC, Long akan menghadapi dakwaan berlapis, mulai dari empat dakwaan pembunuhan hingga satu dakwaan penyerangan
Serangan ini terjadi di tengah peningkatan kejahatan yang menyasar warga keturunan Asia-Amerika. Empat korban telah teridentifikasi sebagai Ashley Yaun, 33 tahun; Paul Andre Michels, 54 tahun; Xiaojie Yan, 49 tahun; dan Daoyou Feng, 44 tahun. Sementara itu, korban lainnya, Elcias R Hernandez-Ortiz mengalami luka.
Imbauan KJRI
Menyikapi insiden penembakan di Atlanta, Konsul Jenderal Republik Indonesia di Houston, Andre Omer Siregar, mengimbau warga Indonesia di Atlanta agar tetap tenang namun waspada.
Andre mengatakan hingga saat ini KJRI belum menerima laporan soal WNI yang menjadi korban kekerasan atau diskriminasi. Namun pihaknya tetap meningkatkan komunikasi dengan warga hingga polisi setempat.
"Hingga hari ini belum ada laporan tentang adanya warga Indonesia atau diaspora Indonesia yang menjadi korban kekerasan atau tindakan diskriminasi, yang terjadi lebih terkait isu konsuler. Namun kami tetap peka, kami meningkatkan komunikasi tidak saja dengan diaspora Indonesia, tetapi juga polisi Atlanta dan pihak keamanan diplomatik untuk memantau," kata Andre saat dihubungi.
Dia mengimbau warga agar tenang. Dia berharap masalah diskriminasi yang sudah muncul sejak pandemi merebak ini segera selesai.
"Saya pesan kepada masyarakat, please stay safe and please stay calm karena ini sudah semakin build up (meningkat), sudah terjadi sejak Maret lalu ketika pandemi merebak. Kita berharap ini bisa segera selesai dan we begin a new normal," ungkap Andre.
Untuk diketahui, saat ini ada sekitar 30 ribu warga Indonesia di wilayah kerja KJRI Houston yang mencakup Negara Bagian Arkansas, Alabama, Florida, Georgia, Louisiana, Mississippi, New Mexico, Oklahoma, Tennessee, dan Texas. Khusus di kota Atlanta, Georgia, terdapat sekitar 3.500 warga Indonesia yang bekerja di beragam sektor. (Rtr/kps/AFP/detikcom)
Sumber
: Hariansib.com edisi cetak