Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 19 Januari 2026

Pegawai Konsulat dan Keluarga AS Tinggalkan Kazakhstan

Redaksi - Minggu, 09 Januari 2022 09:22 WIB
410 view
Pegawai Konsulat dan Keluarga AS Tinggalkan Kazakhstan
(Foto: AP/Vladimir Tretyakov)
Kerusuhan melanda Kazakhstan 
Nur-Sultan (SIB)
Pemerintah Amerika Serikat mengatakan bahwa pihaknya telah menyetujui kepergian sukarela pegawai pemerintah non-darurat dan anggota keluarga mereka dari konsulat jenderal AS di kota Almaty, Kazakhstan. Mereka diizinkan meninggalkan Almaty di tengah keadaan darurat yang sedang berlangsung di negara itu.

"Warga AS di Kazakhstan harus menyadari bahwa protes dengan kekerasan dapat sangat mempengaruhi kemampuan Kedutaan Besar AS untuk memberikan layanan konsuler, termasuk bantuan kepada warga AS yang meninggalkan Kazakhstan," kata Departemen Luar Negeri Amerika Serikat seperti diberitakan Reuters dan Channel News Asia, Sabtu (8/1).

Puluhan orang tewas dan gedung-gedung publik di Kazakhstan telah dijarah dan dibakar dalam kerusuhan terburuk yang pernah dialami republik bekas Uni Soviet itu dalam 30 tahun kemerdekaan. Kerusuhan berdarah itu telah mendorong intervensi militer oleh Rusia pada saat ketegangan tinggi dalam hubungan Timur-Barat, seiring Rusia dan Amerika Serikat bersiap untuk pembicaraan minggu depan mengenai krisis Ukraina.

Di tengah kerusuhan yang melanda, Presiden Kazakhstan, Kassym-Jomart Tokayev, mengakui dirinya memberikan perintah tembak di tempat terhadap orang-orang yang disebutnya sebagai 'bandit' dan 'teroris'. Tokayev juga memperingatkan bahwa mereka yang enggan menyerahkan diri akan 'dihancurkan'.

Tokayev sebelumnya menyalahkan sekelompok 'bandit' dan 'teroris' yang disebutnya memicu kerusuhan di Kazakhstan. Dalam pidato terbarunya, Tokayev menyebut bahwa sekira 20.000 bandit telah menyerang kota terbesar Almaty, yang juga ibu kota finansial Kazakhstan, dan menghancurkan properti milik negara.

Diakui juga oleh Tokayev dalam pidatonya bahwa sebagai bagian dari operasi 'kontra-terorisme', dirinya telah memerintahkan badan-badan penegak hukum dan tentara Kazakhstan untuk menembak mati tanpa peringatan. "Para militan belum meletakkan senjata mereka, mereka terus melakukan kejahatan atau sedang mempersiapkannya. Pertempuran melawan mereka harus dilakukan sampai akhir. Siapa saja yang tidak menyerah akan dihancurkan," tegas Tokayev dalam pidato yang disiarkan televisi nasional pada Jumat (7/1) waktu setempat.

Tokayev juga menolak seruan berdialog dengan para demonstran yang terus menggelar unjuk rasa. Dia justru menyebut para demonstran sebagai 'penjahat' dan 'pembunuh'. Lebih lanjut, Tokayev berterima kasih kepada Presiden Rusia, Vladimir Putin, serta pemimpin China, Uzbekistan dan Turki atas bantuan mereka. Dia menyebut pasukan perdamaian yang dikirimkan dari Rusia dan negara tetangga lainnya telah tiba atas permintaan Kazakhstan. Disebutkan Tokayev bahwa pasukan perdamaian pimpinan Rusia akan berada di Kazakhstan untuk sementara waktu demi memastikan keamanan.

Sementara itu, mantan kepala badan intelijen domestik Kazakhstan telah ditahan karena dicurigai melakukan pengkhianatan tingkat tinggi. Penangkapan ini dilakukan setelah dia dipecat di tengah gelombang kerusuhan yang melanda negeri itu.

Dilansir dari kantor berita AFP, Sabtu (8/1), Komite Keamanan Nasional Kazakhstan atau KNB, mengatakan dalam pernyataan bahwa mantan ketuanya Karim Masimov ditahan pada Kamis (6/1) setelah melakukan penyelidikan atas tuduhan pengkhianatan tingkat tinggi.

"Pada 6 Januari tahun ini, Komite Keamanan Nasional meluncurkan penyelidikan pra-persidangan terhadap pengkhianatan tingkat tinggi," demikian pernyataan itu. "Pada hari yang sama, atas dugaan melakukan kejahatan ini, mantan ketua KNB K.K. Masimov ditahan dan ditempatkan di pusat penahanan sementara, bersama dengan yang lainnya," imbuh pernyataan tersebut.

Masimov, sekutu dekat presiden pendiri Kazakhstan Nursultan Nazarbayev, dipecat dari jabatannya sebagai kepala KNB minggu ini setelah para pengunjuk rasa di kota terbesar Kazakhstan, Almaty, menyerbu gedung-gedung pemerintah.

Puluhan orang, baik demonstran maupun aparat keamanan telah tewas dalam kerusuhan yang dimulai dengan aksi protes terhadap kenaikan harga LPG itu. (AFP/detikcom/d)

Sumber
: Koran SIB
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru