Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 19 Januari 2026
Wanti-wanti Ketidakpastian Dunia

Jokowi: Tahun Ini Sulit, Tahun Depan Gelap

* Pusat dan Daerah Harus Kompak
Redaksi - Jumat, 30 September 2022 09:10 WIB
719 view
Jokowi: Tahun Ini Sulit, Tahun Depan Gelap
(Foto: Youtube BiroSetpres)
BERI ARAHAN: Presiden Joko Widodo menyampaikan arahan kepada seluruh menteri, kepala lembaga, kepala daerah, pimpinan BUMN, Pangdam, Kapolda dan Kajati di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (29/9). Presiden menyampaikan seluruh elemen harus saling beker
Jakarta (SIB)
Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberi pengarahan kepada para menteri, pimpinan badan dan komisi, serta para kepala daerah se-Indonesia. Dia mengingatkan kondisi dunia yang tidak pasti.

Pengarahan itu disampaikan Jokowi di JCC, Senayan, Jakarta, Kamis (29/9). Jokowi mengawali pengarahan dengan mengingatkan jajarannya agar tidak senang dulu meski Indonesia mendapat sertifikat swasembada pangan dan ketahanan pangan yang baik dari lembaga internasional.

"Jangan senang dulu, karena sekali lagi dunia penuh dengan ketidakpastian. Krisis pangan, krisis energi, kita baru saja menyesuaikan harga BBM. Coba bandingkan dengan negara-negara lain, harga sampai Rp 32 ribu, Rp 30 ribu, Rp 24 ribu.

Gas bisa naik sampai 500 persen. Kondisi-kondisi seperti ini yang harus kita tahu, krisis finansial," ucap Jokowi.

Dia mengatakan berbagai krisis itu berdampak ke Indonesia. Dia meminta semua pihak berhati-hati atas ketidakpastian dunia.

"Hati-hati mengenai ketidakpastian ini," ujarnya.

Jokowi mengatakan setiap hari selalu ada berita tentang resesi. Menurutnya, tahun ini sulit dan tahun depan gelap.

"Kalau kita baca media sosial, media cetak, semuanya, media online. Semuanya mengenai resesi global. Tahun ini sulit dan tahun depan, sekali lagi saya sampaikan, akan gelap," ujarnya.

"Kita nggak tahu badai besarnya seperti apa, sekuat apa, nggak bisa dikalkulasi," tuturnya.[br]







Harus Kompak
Untuk menghadapi momok itu, semuanya harus bersatu.

"Oleh sebab itu, kita harus kompak, harus bersatu dari pusat, provinsi, kabupaten, kota, sampai ke bawah," kata Jokowi.

Inflasi sudah semakin menjadi-jadi. Angka inflasi atau kenaikan harga barang dan jasa secara umum biasanya berkisar 1% saja. Kini, angka itu seudah meningkat menjadi 8%, bahkan di lima negara.

Indonesia bisa menghadapi itu asalkan pemerintah daerah dan pemerintah pusat kompak. Kekompakan saat menghadapi pandemi Covid-19 harus dipertahankan untuk menghadapi momok inflasi.

"Semua kementerian/lembaga seperti saat kita kemarin menangani Covid. Kalau Covid kita menangani bersama, urusan inflasi ini kita juga harus menangani bersama-sama. Setuju?" kata Jokowi.

"Setuju!" jawab para kepala daerah dan para menteri.

Gelapnya tahun 2023 disebut Jokowi karena inflasi dan juga pengaruh perang Rusia di Ukraina yang tak kunjung selesai. Kondisi terbaru yakni referendum di bagian Ukraina malah tambah bikin ruwet situasi.

Jokowi mengatakan referendum terkait perang di Ukraina sudah dilakukan di sejumlah wilayah. Mulai dari Donetsk hingga Luhansk.

"Makin merumit lagi kapan akan selesai (perang di Ukraina)? dan imbasnya terhadap ekonomi akan seperti apa makin rumit," imbuh Jokowi.

Dampak dari perang di Ukraina yakni terjadinya inflasi. Menurut Jokowi, inflasi saat ini adalah momok terbesar yang dihadapi seluruh negara di dunia.

"Momok terbesar semua negara saat ini adalah inflasi kenaikan barang dan jasa. Momok semua negara inflasi di semua negara," tuturnya.

Pamer liburan ke LN
Presiden Jokowi juga menyoroti industri pariwisata Indonesia. Menurutnya, sekarang banyak warga Indonesia yang justru memilih berwisata ke luar negeri ketimbang dalam negeri.

Khususnya pejabat yang juga mengunggah foto liburannya di luar negeri ke Instagram.

"Kenapa dalam situasi krisis global seperti ini malah berbondong-bondong ke luar negeri dipamer-pamerin di Instagram. Apalagi pejabat," ucap Jokowi.

Jokowi langsung berhenti bicara beberapa detik dan geleng-geleng kepala.

Jokowi pun bercerita bahwa dia menolak banyak undangan dari luar negeri. Dia hanya menerima undangan dari luar negeri yang benar-benar memberikan manfaat.

"Saya diundang ke luar negeri mungkin setahun lebih dari 20 undangan. Saya yang datang dua atau tiga. Saya betul-betul saya rem. Ini ada manfaatnya konkret nggak, sih," kata Jokowi.[br]








Jokowi menyampaikan bahwa pergi ke luar negeri pun perlu biaya. Untuk itu, dia meminta pejabat negara mengerem pergi ke luar negeri.

"Karena kita juga keluar uang ke luar itu. Hal-hal seperti itu rem. Rakyat juga beri tahu, gunakan untuk wisata di dalam negeri saja," katanya.

Untuk itu, Jokowi mengarahkan kepala daerah agar mengajak masyarakatnya berwisata di dalam negeri. Jokowi tidak ingin cadangan devisa lari ke luar negeri.

"Ajak masyarakat kita, kita bisa defisit ini wisata kita. Yang datang ke sini belum banyak. Yang keluar malah banyak sekali. Hati-hati, devisa kita bisa lari lagi," kata Jokowi.

Jokowi mengajak semua menginjak rem agar devisa tidak lari ke luar negeri, yakni dengan mengajak masyarakat berwisata di dalam negeri.

"Caranya, kita injak rem. Hati-hati, sekali lagi. Tolong, masyarakat ajak, Pak Gubernur, Pak Bupati, Pak Wali Kota. Ajak masyarakat kita berwisata di dalam negeri saja," ungkap Jokowi.

Jokowi juga menyinggung soal daerah-daerah wisata di Indonesia yang tak kalah dengan luar negeri, mulai Labuan Bajo hingga Borobudur.

"Kita ini punya daerah-daerah wisata yang baik. Bali, Labuan Bajo, Wakatobi, Danau Toba, Raja Ampat, Bromo, Yogya, Babel, Borobudur, Jakarta, dan lain-lainnya," jelasnya. (Detikcom/a)




Sumber
: Koran SIB
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru