Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 16 Februari 2026

Semangat Kerukunan Umat Beragama Tidak Boleh Berhenti

* Agama Berperan Penting Jawab Ragam Persoalan Kemanusiaan Global
Redaksi - Senin, 06 Februari 2023 09:26 WIB
324 view
Semangat Kerukunan Umat Beragama Tidak Boleh Berhenti
Ist/harianSIB.com
Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo (Bamsoet)
Jakarta (SIB)
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengatakan, dunia kontemporer saat ini cenderung dinarasikan dengan suara sumbang.
Institute for Economics and Peace mengungkap dalam kurun waktu 14 tahun terakhir, indeks perdamaian global terus memburuk dan menurun hingga 3,2 persen.
Dari aspek keadilan global, lanjut Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini, World Justice Project mencatat dari 140 negara yang disurvei, sebagian besar (61 persen) mengalami penurunan tingkat kepatuhan terhadap supremasi hukum. Penghormatan terhadap hak asasi manusia pun semakin melemah.
"Dari aspek kesejahteraan, catatan akhir tahun 2022 menyajikan data krisis pangan yang memilukan. Diperkirakan, sekitar 345 juta orang penduduk dunia mengalami kelaparan akut. Di mana 19.700 orang di antaranya, meninggal dunia setiap harinya. Artinya, setiap empat detik, tercatat satu orang meregang nyawa karena kelaparan," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Minggu (5/2).
"Berbagai gambaran kondisi global tersebut mengisyaratkan bahwa dibutuhkan keberpihakan, komitmen, dan kontribusi kolektif dari segenap pemangku kepentingan, termasuk dari entitas keagamaan. Mengingat entitas keagamaan memiliki peran penting dan strategis dalam menjawab berbagai persoalan kemanusiaan global," tambahnya.
Pesan itu disampaikannya pada perayaan Hari Persaudaraan Kemanusiaan Internasional dan Pekan Kerukunan Antar Umat Beragama Sedunia di Gedung Nusantara IV, Komplek MPR RI, Jakarta, Minggu (5/2).
Lebih lanjut Bamsoet menjelaskan, entitas keagamaan memiliki kemampuan untuk menginspirasi, memotivasi, dan memobilisasi umat yang memiliki loyalitas tanpa batas. Nilai-nilai moralitas keagamaan juga mengajarkan kepedulian dan kepekaan sosial, serta menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan sebagai sarana dan jalan pengabdian kepada Tuhan.
Di sisi lain, lanjutnya, pada dasarnya semua agama menjunjung tinggi dan memuliakan nilai-nilai persaudaraan dan kerukunan. Kedua hal ini merupakan kristalisasi gagasan yang telah menjadi bahasa universal, sehingga dapat diterima oleh semua golongan tanpa memandang perbedaan latar belakang sosial, budaya, dan agama.
"Bahwa, setiap manusia diciptakan berbeda. Itu adalah fitrah kemanusiaan yang daripadanya kita dituntun untuk saling mengenal, berinteraksi, dan bekerja sama," jelas Bamsoet.
"Komitmen untuk hidup berdampingan dalam keberagaman, bekerja sama dalam ikatan kemanusiaan inilah yang telah mendorong lahirnya deklarasi 'Persaudaraan Insani untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama' yang ditandatangani bersama oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Al Azhar Ahmed el-Tayeb pada 4 Februari 2019," lanjutnya.
Bamsoet menerangkan, deklarasi tersebut di satu sisi dapat dimaknai sebagai manifestasi dari kesadaran sosial sekaligus kesadaran transendental dalam membangun semangat persahabatan dan persaudaraan antar umat beragama.
Di sisi lain, deklarasi ini juga merepresentasikan keinginan kuat umat beragama untuk membangun sinergi dan kolaborasi serta berkontribusi aktif dalam mewujudkan dunia yang damai.
Terlebih, deklarasi tersebut bisa diartikan sebagai kritik atas paradigma dan realitas global yang masih dipenuhi berbagai konflik. Di mana konsepsi kehidupan dunia yang damai, adil, dan sejahtera masih sebatas utopia.
"Semangat persaudaraan insani dan kerukunan umat beragama tidak boleh berhenti hanya pada sebuah rumusan deklarasi. Spirit ini harus senantiasa hadir dan mengemuka pada setiap ruang publik yang harus dimaknai dan diterjemahkan secara aktual pada berbagai langkah kebijakan, serta menjadi referensi implementasi bagi dimensi pembangunan mental-spiritual yang merata dan berkesinambungan," pungkasnya.
Pada kesempatan tersebut, turut hadir para Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid, Hidayat Nur Wahid, dan Arsul Sani. Lalu hadir para Duta Besar negara sahabat antara lain, Duta Besar Rusia Lyudmila Georgievna Vorobieva, Duta Besar Republik Demokratik Timor Leste Filomeno Aleixo da Cruz, Wakil Duta Besar Mesir Osama Ibrahim, Konselor Kedutaan Besar Singapura Aaron Chee.
Selain itu, hadir pula Ketua Pusat Dialog dan Kerjasama Antar Peradaban yang juga Ketua Kehormatan Presidium Inter Religious Council Indonesia Prof. Din Syamsuddin, utusan khusus Presiden RI untuk Dialog dan Kerja Sama Antar-Agama dan Peradaban Prof. Syafiq A. Mughni.
Ada juga Ketua Umum Persekutuan Gereja Indonesia Pendeta Gomar Gultom, Ketua Umum Wali Gereja Indonesia Romo Paulus Christian Siswantoko, Ketua Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia Mayjen (Purn) Wisnu Bawa Tenaya, Ketua Umum Persatuan Umat Buddha Indonesia Prof. Philip K. Widjaja, dan Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia XS. Budi Santoso Tanuwibowo.
penetapan
Seperti diketahui, minggu pertama Februari telah ditetapkan sebagai Pekan Kerukunan Antar Umat Beragama atau lebih populer dengan World Interfaith Harmony Week (WIHW). Penetapan ini berdasarkan resolusi Majelis Umum PBB (A/65/5) yang disponsori oleh Raja Abdullah dari Yordania di tahun 2010 yang lalu.
Sejak itu di Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York dan di seluruh dunia dilangsungkan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk menguatkan relasi antar pemeluk agama-agama dunia.
Tahun ini kembali dilangsungkan pada hari Jumat (3/2) di Markas PBB New York. Tema yang diusung kali ini adalah "Working together to achieve Peace, Gender Equality, Mental Health and Well Being, and Environmental Preservation".
Poin-poin utama dari tema ini adalah perdamaian, kesetaraan jender, kesehatan mental dan lingkungan hidup.
Indonesia sendiri setiap tahun memperingati WIHW di bawah organisasi Inter Religious Council (IRC) Indonesia. Namun perayaan kali ini, pada 5 Februari 2023 di Gedung Nusantara IV Kompleks DPR/MPR RI menjadi yang pertama setelah Pandemi Covid-19. Perayaan WIHW terakhir pada tahun 2018 yang didukung kantor Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama antar Agama dan Peradaban, mendapat penghargaan dari Raja Abdullah dari Jordania.
Saat itu, Ketua Kehormatan IRC Indonesia, Din Syamsuddin menjabat sebagai Utusan Khusus Presiden.
Sementara itu, Hari Persaudaraan Kemanusiaan Dunia ditetapkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 21 Desember 2020, dengan resolusi 75/200.
Hari Persaudaraan Kemanusiaan Dunia memperingati penandatanganan bersejarah Dokumen Persaudaraan Manusia oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar Ahmed Al-Tayeb di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab pada 4 Februari 2019.
Solusi Perdamaian Dunia
Hari Persaudaraan Manusia Internasional menyoroti prinsip-prinsip dan nilai-nilai Dokumen Persaudaraan Manusia, sambil mengeksplorasi praktik-praktik menuju pelaksanaannya sebagai jalan untuk membangun dunia yang lebih damai.
Perayaan Hari Persaudaraan Kemanusiaan Dunia di Indonesia, digelar, Minggu (5/2), merupakan yang pertama, bersamaan dengan Pekan Kerukunan Antar Umat Beragama, digagas oleh IRC Indonesia dan Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC). (Detikcom/Merdeka/a)



Sumber
: Koran SIB
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru