Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 16 Februari 2026

PBB: Bahaya Panas Kian Meningkat

* Tewaskan 500 Ribu Orang Tiap Tahun
Redaksi - Sabtu, 27 Juli 2024 10:32 WIB
464 view
PBB: Bahaya Panas Kian Meningkat
Foto: Antara
Antonio Guterres

Tahun ini saja, kondisi yang sangat panas telah menewaskan 1.300 jamaah haji, menutup sekolah bagi sekitar 80 juta anak di Afrika dan Asia, dan menyebabkan lonjakan rawat inap dan kematian di Sahel.


Menurut Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa, setiap bulan sejak Juni 2023 kini menempati peringkat sebagai bulan terhangat di planet ini sejak pencatatan dimulai pada tahun 1940, dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.


PBB meminta pemerintah untuk tidak hanya menekan emisi bahan bakar fosil yang menjadi penyebab perubahan iklim, tetapi juga memperkuat perlindungan bagi mereka yang paling rentan, termasuk lansia, ibu hamil, dan anak-anak, serta meningkatkan perlindungan bagi pekerja.


Menurut laporan dari Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) yang diterbitkan pada Kamis (25/7), lebih dari 70 persen tenaga kerja global yakni 2,4 miliar orang kini berisiko tinggi terkena panas ekstrem.


Di Afrika, hampir 93 persen tenaga kerja terpapar panas berlebih, dan 84 persen tenaga kerja di negara-negara Arab.


Panas berlebih telah disalahkan sebagai penyebab hampir 23 juta cedera di tempat kerja di seluruh dunia.


"Kita perlu langkah-langkah untuk melindungi pekerja, yang didasarkan pada hak asasi manusia," kata Guterres.


Ia juga meminta pemerintah untuk membuat ekonomi mereka, sektor-sektor penting seperti perawatan kesehatan, dan lingkungan binaan, "tahan panas".


Kota-kota memanas dua kali lipat dari rata-rata di seluruh dunia karena urbanisasi yang cepat dan efek pulau panas perkotaan. Pada tahun 2050, beberapa peneliti memperkirakan akan terjadi peningkatan 700 persen secara global dalam jumlah penduduk miskin perkotaan yang tinggal dalam kondisi panas ekstrem.


"Kita memerlukan sinyal kebijakan dan inilah sinyal itu," kata Kathy Baughman Mcleod, CEO Climate Resilience for All, sebuah lembaga nirlaba yang berfokus pada panas ekstrem.


"Ini adalah pengakuan tentang seberapa besar dan seberapa mendesaknya hal itu. Ini juga pengakuan bahwa setiap orang tidak merasakan hal yang sama dan membayar harga yang sama untuk itu," lanjutnya.


"Bumi menjadi makin panas dan makin berbahaya bagi semua orang, di mana pun," kata Guterres dalam sambutannya kepada awak media tentang panas ekstrem.


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru