Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 16 Februari 2026

AS - China Saling Naikan Tarif Impor, China Naikkan Jadi 84%, Trump Membalasnya Jadi 125%

Beijing Batasi Ekspor untuk 18 Perusahaan Pertahanan AS
Redaksi - Kamis, 10 April 2025 14:47 WIB
189 view
AS - China Saling Naikan Tarif Impor, China Naikkan Jadi 84%, Trump Membalasnya Jadi 125%
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memberi sinyal kemungkinan adanya kesepakatan dagang baru dengan China. (Kevin Lamarque)
Beijing(harianSIB.com)
Perang tarif antara China dan Amerika Serikat masih terus berlanjut. China akan memberlakukan pembatasan terhadap 18 perusahaan pertahanan AS pada Rabu (9/4/2025) waktu setempat.

Ada 12 perusahaan AS yang masuk dalam daftar pengawasan yang dilarang mengekspor barang-barang untuk kepentingan sipil maupun militer (dual-use) dan enam perusahaan lainnya ke dalam daftar "entitas tidak dapat dipercaya".

Melalui daftar ini, pemerintah China dapat mengambil tindakan hukuman terhadap entitas asing, sesuai dengan pernyataan dari Kementerian Perdagangan.

Dikutip dari Reuters, Rabu (9/4/2025), pembatasan perdagangan mulai berlaku efektif pada Kamis (10/4/2025).

Kebijakan ini utamanya ditujukan kepada perusahaan-perusahaan AS yang memasok kebutuhan Departemen Pertahanan (Pentagon) dan lembaga-lembaga pemerintah federal.

Sementara, untuk daftar entitas tidak dapat dipercaya, Beijing menyebutkan, enam perusahaan AS dimasukkan karena penjualan senjata atau kerja sama militer dengan Taiwan.

Menurut Financial Times, produsen pesawat tak berawak AS Skydio dikenai sanksi oleh Beijing pada Oktober 2024 atas penjualan senjata ke Taiwan yang diperintah secara demokratis, yang diklaim China sebagai bagian wilayahnya.


Tindakan tersebut dengan cepat memutus pasokan baterai perusahaan tersebut. Akibatnya, mereka dilarang melakukan aktivitas ekspor-impor yang terkait dengan China, serta dilarang berinvestasi di negara tersebut.

"Dalam beberapa tahun terakhir, enam perusahaan, termasuk Shield AI dan Sierra Nevada Corporation, telah secara serius membahayakan kedaulatan nasional, keamanan, dan kepentingan pembangunan China," kata Kementerian Perdagangan China dalam sebuah pernyataan dikutip kompas.com

Shield AI yang berkantor pusat di California mengkhususkan diri dalam pesawat bertenaga kecerdasan buatan, terutama pesawat tanpa awak militer.

Sementara, kontraktor lama Pentagon dan NASA, Sierra Nevada Corporation, tahun lalu dipilih oleh Angkatan Darat AS untuk mengubah armada jet bisnis menjadi pesawat mata-mata mutakhir.

Meskipun perusahaan yang terkena dampak hanya memiliki sedikit atau tidak memiliki bisnis di China, pembatasan baru tersebut berpotensi mengganggu rantai pasokan mereka.

Selain itu, China juga mengumumkan akan menaikkan tarif terhadap barang-barang asal AS sebesar 50 persen.

Ini menambah kenaikan sebesar 34 persen dari yang diumumkan sebelumnya, sehingga total bea tambahan yang dikenakan mencapai 84 persen.

Meskipun Beijing mengambil langkah balasan atas tarif yang diberlakukan oleh pemerintahan Trump dengan menargetkan impor dan perusahaan-perusahaan AS, pemerintah China mengaku tetap terbuka bagi perusahaan asing yang beroperasi atau ingin berinvestasi di negaranya.


Dalam pernyataannya, Kementerian Perdagangan menyebutkan, daftar tersebut hanya berlaku bagi sejumlah kecil perusahaan. Sementara, entitas asing yang jujur dan taat hukum tidak perlu khawatir.

Naiklan Tarif

Sebelumnya Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump langsung membalas tindakan China yang menaikkan tarif impor bagi AS menjadi 84 persen.

Trump, Rabu (9/4/2025) sore waktu setempat, mengumumkan melalui media sosial, bahwa pihaknya menaikkan lagi tarif impor dari China menjadi 125 persen.

"Berlaku segera, karena kurangnya rasa hormat yang ditunjukkan China terhadap pasar dunia," sebut Trump di Truth Social.

Peningkatan tarif yang saling berbalas ini mengancam akan menghancurkan perdagangan antara dua ekonomi terbesar di dunia.

Sebelumya, setelah tanggapan awal China terhadap penerapan tarif pada 2 April 2025, Trump mengumumkan kenaikan tambahan sebesar 50 persen, sehingga total tarif impor untuk barang-barang dari China menjadi 104 persen.

"Sangat disayangkan bahwa China sebenarnya tidak ingin datang dan bernegosiasi, karena mereka adalah pelanggar terburuk dalam sistem perdagangan internasional," kata Menteri Keuangan AS Scott Bessent kepada Fox Business. (*)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru