Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 05 Maret 2026

RI Cukup Bahan Baku Aluminium, Masih Impor 600.000 Ton

* 4 Perusahaan Pemasok Bahan Baku Inalum Resmi Buka Kantor di Medan
- Kamis, 13 Februari 2014 10:34 WIB
3.007 view
 RI Cukup Bahan Baku Aluminium, Masih Impor 600.000 Ton
Sib/int
Medan (SIB)- Indonesia sebenarnya mampu menyediakan bauksit untuk mem-produksi aluminium oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) pasca peralihan dari Jepang (NAA) pada 19 November 2013 lalu, sehingga impor 600.000 ton (bauksit mentah) dari Australia sebenarnya bisa dihentikan langsung.

Praktisi jasa konsultan pertambangan nasional Ir Ladjiman Damanik MSc yang juga Sekjen Yayasan Pecinta Danau Toba (YPDT) Pusat, menyatakan kalangan dunia usaha domestik di Indonesia, terlebih dunia usaha lokal di Sumut, sebaiknya membuka jaringan peluang bisnis dengan kalangan produsen bauksit atau produsen mineral sejenis untuk memperkuat operasional PT Inalum yang saat ini sudah menjadi badan usaha milik negara (BUMN).

“Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, sebenarnya punya stok bahan baku (bauksit) dan mampu menyediakan total kebutuhan pabrik alumunium di Inalum. Tapi entah kenapa selama ini kita justru impor terus aluminium sebesar 68 persen atau 600.000 ton per tahun dari luar negeri (Australia). Padahal, kita (Indonesia) punya produksi biji bauksit sebagai bahan baku aluminum sebanyak 25 juta ton per tahunnya, kenapa bukan ini saja yang kita kelola dan manfaatkan di negeri sendiri?. Ini harus kita benahi dan impor bahan baku yang 600.000 ton per tahun itu sebaiknya kita hentikan,” papar Ladjiman Damanik kepada pers di Medan, Rabu (12/2/2014).

Dia mengutarakan itu di sela-sela acara presentasi dan sosialisasi peluang pemberdayaan produksi dalam negeri dalam operasional PT Inalum pasca peralihan kelola dari Jepang. Hadir sejumlah praktisi bisnis pertambangan dan usaha mineral dari Jawa (Jakarta) dan Medan, antara lain Pumbuda Polman dari PT Fusies, Budiman ‘Ucok’ Damanik dari konsorsium Jojo Karunia Group dan pengusaha lokal Horas Sitompul SE.

Presentasi itu juga digelar sehubungan beroperasinya empat perusahaan pemasok bahan baku Inalum yang telah buka kantor secara resmi di Medan belum lama ini. Ke-4 perusahaan itu adalah PT Karunia Anugerah Putra, PT Hidayah Louro, PT Putra Jaya dan PT Fahrul Rozy Utama yang dipimpin Direktur Utama Jojo Purba dan Komisaris Utama Budiman ‘Ucok’ Damanik.

Sembari menyebutkan peluang bisnis pemasokan dan pengadaan bahan baku untuk PT Inalum nantinya, Ladjiman Damanik dan Budiman Damanik memaparkan pentingnya gerakan cepat dari kalangan dunia usaha di Indonesia dan dari Sumut sendiri, untuk merebut pangsa dan jalur pemasok bahan baku tersebut, sekaligus untuk pemberdayaan produksi alam dalam negeri sendiri.

“Secara sektoral, bisnis penyediaan bahan baku atau bauksit ini saja sudah mempekerjakan hampir 1 juta orang tenaga kerja di antara lebih dari 3 juta orang tenaga kerja di sejumlah proyek dan perusahaan tambang atau mineral di berbagai penjuru Indonesia. Selama ini, khusus untuk sektor pertambangan biji bauksit, sedikitnya ada 160 juta ton produksi bauksit dihasilkan perusahaan pemegang izin usaha pertambangan (IUP) dari kalangan anggota Apemindo (Asosiasi Perusahaan Mineral Indonesia,” ujar Damanik.

Selain untuk meningkatkan produksi dalam negeri dan mendorong peningkatan kualitas dalam menghadapi persaingan global di ASEAN bahkan tingkat dunia, ujar Budiman, kesiapan dan pengelolaan bahan baku lokal ini juga untuk menunjukan potensi Sumut sebagai salah satu bursa strategis ekonomi regional seperti: (1). Mengajak dan membuka kesempatan semua daerah (kabupaten/kota) di Sumut untuk ikut punya dan dapat saham di PT Inalum pada masa mendatang. (2). Mengembangkan Pelabuhan Kuala Tanjung menjadi pelabuhan terintegrasi dan berkelanjutan yang dinamis untuk angkutan pasokan bahan baku dari daerah produsen (Kalbar, Babel dan Kepri). (3). Membuka peluang dan menyiapkan dana CSR untuk konservasi dan daerah aliran sungai (DAS) Asahan atau daerah tangkapan air (DTA) lingkungan Danau Toba. (4).Mempercepat dan memperkuat posisi Danau Toba sebagai kawasan strategis nasional dan destinasi pariwisata internasional. (A5/d)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru