Dalam perjumpaan pimpinan-pimpinan gereja dengan caleg-caleg Kristen yang diprakarsai Senior GMKI di Aula STT.HKBP Pematang Siantar Senin, 10 Februari 2014, nampak bahwa kehadiran dan partisipasi politik Kristen/gereja berada di sebuah persimpangan jalan.
Gereja secara institusional masih menjaga jarak dari dunia politik yang cenderung unpredictable padahal banyak di antara warga jemaat adalah politisi atau calon legislatif.
Dalam diskusi yang hangat dan cair itu nampaklah gejala di mana di satu sisi caleg membutuhkan dukungan gereja dan warganya untuk dapat menduduki kursi parlemen dan di sisi lain gereja membutuhkan uang caleg untuk membangun atau merayakan perayaan-perayaan gerejani.
Gejala lain yang nampak nyata ialah, di tengah keberadaan kita yang lebih kecil secara jumlah, justru banyak pula warga gereja (anggota jemaat) beramai-ramai maju sebagai caleg, sehingga bisa berakibat terpecahnya suara yang memilih mereka dan alhasil berujung minimnya perolehan suara bagi warga jemaat. Ironi lain ialah animo yang besar menjadi caleg tidak diikuti oleh animo warga jemaat secara keseluruhan datang ke TPS untuk menentukan pilihannya. Ada gap antara harapan dan kenyataan.
Bagaimana gereja (Pdt, pengurus gereja, dan anggota jemaat) dapat memainkan peran politik sebagai garam dan terang dunia?
Pilihan Logis, Rasional dan Panggilan
Walaupun pada kenyataannya politik sering sekali nampak sebagai suatu yang tidak dapat diprediksi namun sebenarnya politik merupakan sebuah pilihan yang harus dimainkan dengan perhitungan yang logis dan rasional.
Politik bukan sebuah permainan (game) atau lotre yang sepenuhnya bersandar pada peruntungan atau nasib baik. Para caleg jauh sebelumnya haruslah berhitung dan memperhitungkan akurasi hitung-hitungan dan feeling politiknya untuk meraih dan mengelola dukungan konstituen.
Mencalonkan diri sebagai anggota legislatif tidak cukup bermodalkan uang banyak namun juga harus disertai dengan seberapa luas orang mengenal sang caleg dan kualitas pribadi seperti apa yang dimilikinya.
Secara hakiki, politik sebenarnya adalah sebuah panggilan bagi orang beriman. Tidak ada wilayah dalam hidup ini yang tidak mendapat tanggapan dan sikap beriman dari orang yang menyatakan diri Kristen.
Maka dari itu memberikan suara di TPS atau terjun ke dunia politik adalah tanggapan dan jawaban iman orang percaya untuk berkontestasi menegakkan keadilan dan membangun kesejahteraan bangsa ini.
Seorang Kristen tidak berhenti menjadi Kristen ketika dia terjun ke dunia politik tetapi dengan cara itu dia dapat lebih memurnikan kekristenannya dalam arti dia memiliki kesempatan luas menjabarkan ajaran Yesus dalam membuat keputusan-keputusan politis.
Tetapi pada kenyataannya banyak di antara politisi Kristen itu tidak dapat mengemban misi yang berat ini. Apakah karena tergoda atau mabuk kekuasaan? Apakah demi kepentingan partai pengusungnya? Atau alasan-alasan lain, yang jelas gejala ini menjadi semacam pembenaran bagi warga jemaat untuk tidak memberikan suaranya di pemilihan umum.
Pemikiran semacam ini dipicu oleh perasaan bahwa mereka hanya diberi kesempatan 3-5 menit dalam 5 tahun sekali untuk memiliki negeri ini selebihnya menjadi milik para elit politik. Pemilu lebih sukses mengubah nasib para politisi daripada mengubah nasib para pemilih.
Jika politik sebagai panggilan maka para politisi mau tidak mau menjadi nabi. Sebagaimana akar kata parlemen yakni parler (Perancis kuno) atau parley (Inggris) yang berarti diskusi atau perbincangan atau kelihaian berbicara maka sudah sepantasnya para politisi memanfaatkan kelihaian berbicaranya untuk menyambung lidah rakyat.
Ketika mereka menyambung lidah rakyat maka dengan sendirinya mereka akan menjadi “lidah Allah†untuk melakukan kontrol terhadap kekuasaan yang cenderung korup. Namun alangkah miris melihat kenyataan akhir-akhir ini banyak di antara politisi kita bermutasi dari “nabi†menjadi “napiâ€. Kenapa? Karena politik tidak lagi menjadi panggilan tetapi ladang tuaian untuk mengisi lumbung-lumbung para politisi kita.
Politik Sebagai Seni
Sebagai seni seharusnya politik itu membangkitkan estetika, rasa cinta akan kedalaman makna sehingga hidup ini tidak menjadi suatu yang dangkal, banal dan membuahkan rasa mengkal bagi rakyat atau jemaat.
Seni yang berkualitas tinggi pada dasarnya adalah sebuah idealisme yang tidak akan pernah tunduk pada tuntutan pasar. Seni itu tidak tunduk kepada selera mayoritas tetapi pada pencarian makna untuk memberi rasa dan kepuasan.
Pada kenyataannya seni terkadang melacurkan diri demi uang dan kekuasaan. Demikian halnya politik yang karena sebagian ulah politisi menjadi suatu yang murahan. Sifat seni politik itu menguap karena politik menjadi komoditas dan atau menjadi lapangan kerja pengangguran terselubung di negeri.
Gereja Dan Tanggung Jawab Politik
Gereja memang perlu dikritik karena sikap mendua dalam bidang politik serta ada tuduhan gereja memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
Kenapa harus menjelang pemilu atau pilkada mengadakan pesta-pesta pembangunan atau perayaan-perayaan kolosal? Kenapakah para politisi atau caleg-caleg itu “diperas†dengan cara-cara halus seolah-olah rohani?
Lantas, bisakah gereja berpolitik? Demikian sering pertanyaan terlontar dari segelitir orang. Pertanyaan tersebut pada dasarnya adalah sebuah pertanyaan yang salah yang berangkat dari praduga dan asumsi yang salah pula.
Pertanyaan yang benar ialah: Bagaimanakah gereja memainkan peran politiknya? Politik gereja adalah politik suara hati! Politik yang memilih untuk tidak memilih keserakahan, keangkuhan, penindasan kaum minoritas, pemaksaan kehendak atas orang atau kelompok yang berbeda dengan gereja.
Gereja harus melakukan tobat politik bila dia menyatakan diri apolitis atau tidak berpolitik. Memang politik gereja bukanlah politik netral melainkan politik yang berkecenderungan karena sikap preferential option (kesadaran untuk berpihak) untuk memberitakan pembebasan dan kabar baik kepada: orang miskin, orang-orang tawanan, orang buta, orang tertindas (Lukas 4:18-19).
Maka bila para politisi dan caleg setuju, sepakat serta mau berjuang dengan platform politik gereja ini: gereja akan berdiri dan berjuang bersama Anda! (Penulis Ketua GBKP Klasis P.Siantar/c)