Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 06 Maret 2026

Masyarakat Tobasa Tolak Pemadaman Listrik, Ancam Bendung Sungai Asahan

*Tobasa Gudangnya Sumber Energi Listrik Harus Jadi Prioritas
- Jumat, 07 Maret 2014 10:30 WIB
1.075 view
Masyarakat Tobasa Tolak Pemadaman Listrik, Ancam Bendung Sungai Asahan
Ilustrasi listrik padam
Tobasa (SIB)- Usai melakukan aksi unjuk rasa beberapa waktu lalu menolak SK nomor : 44/2005, sekarang masyarakat Tobasa yang prihatin melihat kondisi kelistrikan dalam satu bulan terakhir ini menyatakan menolak pemadaman listrik karena Kabupaten Tobasa merupakan daerah yang memiliki segudang sumber energi listrik.

Penolakan masyarakat Tobasa atas pemadaman listrik ini tampaknya sudah memasuki masa keresahan karena dalam dua minggu terakhir telah terjadi pemadaman listrik dua kali dalam sehari sehingga sangat mengganggu rutinitas masyarakat.

Berbagai kalangan di Tobasa senada mengutarakan rasa keprihatinannya atas pemadaman listrik, karena saat ini telah ada dua perusahaan yang berdiri di daerah tersebut yang memproduksi energi listrik seperti PLTA Asahan II Inalum dan PLTA Asahan III Bajra Daya. Bahkan saat ini sedang dalam proses pembangunan PLTA Asahan III yang dikelola PLN yang notabene tetap saja memanfaatkan air Danau Toba melalui sungai Asahan yang berhilir di Kecamatan Porsea.

Seperti diutarakan para tenaga pendidik di antaranya Budiman Siahaan, Masno Lingga, Marusaha Simamora dan  Almen Hutagalung saat diwawancara SIB, Kamis (6/3), senada mengatakan keprihatinannya melihat kondisi kelistrikan di Sumut, khususnya Kabupaten Tobasa yang sudah sepantasnya mendapatkan prioritas agar tidak terjadi lagi pemadaman listrik. “Siapapun tahu kalau kabupaten ini daerah yang memiliki  segudang sumber energi listrik, maka sudah seyogianya menjadi prioritas. Kami sangat menolak pemadaman listrik di Tobasa,” ujar mereka.

Keprihatinan pun muncul dari kalangan pengusaha bahkan petani seperti diutarakan Maurits Silalahi yang secara tegas mengatakan menolak pemadaman listrik di Tobasa. Bahkan dikatakannya bahwa masyarakat Tobasa selama ini sudah cukup sabar. Namun demikian jika harus turun ke jalan untuk melakukan aksi unjuk rasa, puluhan ribu masyarakat sangat bersedia untuk itu.

Demikian pula dengan masyarakat Kecamatan Porsea senada menyatakan sangat menolak pemadaman listrik di Kabupaten Tobasa yang menjadi sumber energi listrik itu. Fernando Napitupulu dalam pernyataannya yang cukup keras menyebutkan bahwa bisa saja masyarakat Tobasa berbondong-bondong memasukkan pasir kedalam karung, dan selanjutnya menumpahkan karung pasir tersebut ke sungai Asahan di Kecamatan Porsea. “Apakah harus kami bendung dengan karung pasir sungai itu,” ujarnya seraya menelunjukkan jarinya ke arah sungai Asahan.

PT PLN (Persero) Manajer Rayon Balige R Sianturi, saat dikonfirmasi SIB melalui jaringan seluler, Kamis (6/3), terkait pemadaman listrik tersebut mengutarakan bahwa terjadinya pemadaman secara bergilir hingga dua kali sehari saat ini disebabkan sistem pembangkitan mengalami kerusakan sehingga daya mampu berkurang. Misalnya yang seharusnya Sumut membutuhkan 1600 MW, maka akibat kerusakan itu daya mampu menjadi 1200 MW. “Sebenarnya kita menginginkan semua itu berjalan normal. Namun karena terjadi kerusakan pada sistem pembangkit, maka kami harapkan masyarakat bisa memakluminya”, ujarnya.

Terkait penolakan masyarakat Tobasa atas pemadaman lsitrik di daerah yang menjadi gudangnya sumber energi listrik itu, Sianturi mengatakan bahwa yang lebih mengetahui tentang pengaturan listrik adalah bagian Unit Pengaturan Beban (UPB) berkantor di Medan. Demikian pula terkait batas sampai kapan listrik bisa berjalan normal, Sianturi mengatakan bahwa itu tergantung pada bagian pembangkitan yang juga berkantor di Medan.(BR6/c)

Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru