Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 06 Maret 2026

Musim Kampanye Datang, Jasa Penggerak Massa Panen Uang

- Selasa, 11 Maret 2014 10:43 WIB
982 view
Musim Kampanye Datang, Jasa Penggerak Massa Panen Uang
SIB/Int
Ilustrasi
Jakarta (SIB)- Husin bin Kamil (51 tahun) berulang kali memandang layar telepon selulernya. Sabtu (8/3) akhir pekan lalu itu dia gelisah karena pesan singkat dan panggilan tak kunjung mampir ke telepon genggamnya.

Padahal dia sangat menantikan panggilan ataupun pesan masuk tersebut, karena terkait order penyediaan massa peserta kampanye. Husin yang mantan pengurus RW di Condet, Kramatjati, Jakarta Timur ini mengaku bisa menyediakan massa untuk ikut kampanye. Tentunya dengan imbalan sesuai kesepakatan.

Setiap menjelang musim kampanye akan menjadi berkah tersendiri bagi kakek dua cucu ini. Meski sudah lanjut usia, tapi semangatnya mencari massa buat kepentingan kampanye tidak pernah hilang. Maklum keuntungannya cukup lumayan.

Profesi sebagai penggerak massa kampanye itu telah dia lakoni sejak pemilihan umum 2009, hingga pemilihan kepala daerah DKI Jakarta 2012 lalu. Mulai saat itu nama Husin menjadi salah satu penggerak massa yang dicari tim sukses peserta pemilu.

Sabtu akhir pekan lalu, dia menunggu kabar dari anggota tim sukses seorang calon anggota legislatif. Husin diminta menyediakan 100 orang untuk ikut kampanye Maret ini. Jumlah massa dan jenis angkutan sudah disepakati, hanya tinggal menunggu kepastian harga.

“Katanya ini orang mau kasih kabar hari ini juga. Tapi, belum telepon-telepon juga. Jadi kagak sih?,” kata mantan pengurus RW di Condet Kramatjati, Jakarta Timur ini kepada detikcom, Sabtu (8/3) akhir pekan lalu.

Husin mengaku bisa mengumpulkan ratusan orang untuk ikut kampanye. Soal harga dia menjamin tidak mahal. Menurutnya, yang penting orang-orang ikut kampanye bisa makan dan dapat uang jajan. Dari pengalamannya, dia terbiasa hanya menerima orderan dua partai karena sudah kenal dengan jaringan tim relawannya.

Tapi, dalam Pemilu legislatif tahun ini dia sudah pusing duluan. Persoalan harga masih mentok dengan kliennya yaitu tim sukses caleg serta partai politik.
Husin menuturkan tim sukses menginginkan budget sedang tapi bisa menarik ratusan massa. Sementara, dia memprediksi massa sekarang bakal mematok tarif agak tinggi dibandingkan Pemilu sebelumnya.

“Tim sukses mereka maunya Rp 50 ribu-Rp 70 ribu per orang. Itu sudah mentok sama bensin yang naik motor. Lha, sekarang kan apa-apa harga naik semua. Maunya saya tambahin dikit,” ujarnya dengan nada memelas.

Lantas Husin membandingkan tarif Rp 50 ribu per orang itu adalah ukuran pada Pilkada DKI dua tahun lalu. Harga ini pun cuma sekadar lewat karena hanya ikut meramaikan acara kerja bakti salah satu pasangan kandidat. Saat itu, ia diminta mendatangkan massa sebanyak dua Metro Mini dengan jumlah sekitar 70 orang. Satu Metro Mini saat itu diisi 35 orang. Dana dari klien ketika itu sekitar Rp 6,5 juta.

Karena setiap orang mendapat Rp 50 ribu, sisa duit yang diperoleh sekitar Rp 3 juta. Tapi, ini masih harus dipotong uang sewa Metro Mini dan rokok untuk sopir. Belum lagi bayar bensin dan pengeluaran yang tidak terduga lainnya. “Waktu itu bisa untung bersih Rp 1,6 juta lah. Kita kan juga habis buat pulsa telpon. Kagak banyak, cuma capenya minta ampun,” ungkap Husin.

Dia pun coba membandingkan dengan kondisi sekarang. Tim sukses parpol yang meminati jasanya dalam Pemilu tahun ini ingin memesan massa tiga Metro Mini dengan jumlah sekitar 90-100 orang buat nanti saat kampanye atau kepentingan lain. Rencananya massa dari Husin bakal digabungkan dengan massa dari daerah Jakarta lain.

Husin bingung karena permintaan tim sukses parpol tersebut hanya ingin Rp 11,5 juta untuk tiga Metro Mini dengan honor setiap orang di bawah Rp 100 ribu. Angka tersebut dinilainya cukup kecil karena bakal ada tanggungan bensin, sewa Metro Mini dan rokok sopir. Karenanya ia meminta Rp 14,5 juta.
"Mereka tinggal terima beres. Bisa dah semua diatur buat massa datang dan ikutin acara dia,” kata pria campuran Banten-Jakarta ini.

Hitung-hitungan versi Husin kalau Rp 14,5 juta adalah per orang bakal dikasih Rp 100 ribu. Dia menghitung kalau 100 orang dengan Rp 100 ribu, budget bisa sampai Rp 10 juta. Harga ini sudah menyesuaikan keinginan massa yang ingin ikut kampanye.

Lagipula kalau dengan dana Rp 11,5 juta, dia tidak bakal untung alias rugi. Padahal, tenaga dan materi yang dikeluarkan sudah maksimal seperti pulsa atau bensin sepeda motor untuk berkomunikasi dengan massanya.



Fenomena apa yang membuat hal itu terjadi?

Simak berita selengkapnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB) edisi 11 Maret 2014. Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.



SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru