Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 08 Maret 2026

Apresiasi Sr Mariana Purba SFD untuk Syair Lagu Di Doa Ibu Namaku Disebut

- Sabtu, 12 April 2014 16:34 WIB
810 view
 Apresiasi Sr Mariana Purba SFD untuk Syair Lagu Di Doa Ibu Namaku Disebut
Kepala Sekolah SMP Santa Maria Medan Sr Mariana Purba SS SPd SFD dan Giat Petra Saragih (+)
Medan (SIB)- SMP Santa Maria Jl Palang Merah Medan sedang meriah dengan Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) dan Pentas Seni Siswa. Klimaksnya, Sabtu, (12/4), diisi dengan menampilkan para jawara dan penyerahan hadiah. Di persiapan penampilan siswa terbaik dalam kegiatan yang diadakan maraton itu, Kepala Sekolah SMP Santa Maria Medan Sr Mariana Purba SS SPd  dari ordo Suster Franciscus Dina (Dongen) mengapresiasi lirik lagu Di Doa Ibu Namaku Disebut yang pertama kali dipopulerkan artis cilik Nikita. “Maafkan saya... lagu itu masih terus membisik di gendang telinga dan menggema di hati. Rasanya, ibuku hadir di sini,” ujarnya sambil mengelus dadanya. “Sejak kecil, di doa ibuku namaku disebut. Tapi sekarang, dari api pencucian, aku mendoakannya!”

Nada suara Sr Mariana Purba SFD mendesis, seperti bicara pada dirinya sendiri. Ibunya, Giat Petra Saragih, dipanggilNya pada 3 Januari 2014. Wafat di Baganbatu dalam usia 66 tahun. Ibunya yang mengajar mencintai ilmu dan seni. “Waktu itu tak tahu persis. Kalau nyanyi ya... bernyanyi memuliakanNya. Sekarang paham bahwa humaniora itu tak sekadar bernada pujian tapi melatih hati dan iman sesuai keyakinan masing-masing,” ujarnya sambil mengatakan lagu yang punya jiwa adalah berisi keimanan lewat syairnya. “Tidak perlu syair ‘berat-berat’ yang kadang sulit dipahami tapi membuat lagu dengan syair apa adanya tapi punya makna seperti kekuatan syair dalam lagu Di Doa Ibu Namaku Disebut!”

Sama halnya dengan kegiatan Porseni dan Pentas Seni yang melibatkan pelajar SD dan SMP se-Medan, Sr Mariana Purba SFD menghimpun sejumlah pihak yang ahli di bidang seni dan olahraga. Itu sebabnya, meski kegiatan dinamai lomba dan pesertanya anak serta remaja, namun kala tampil seperti satu pertunjukan profesional. “Kurang maksimal jika yang ikut lomba cuma ikut-ikutan. Idealnya, sebelum naik pentas, harus diasah kemahirannya hingga yang disuguhkan benar-benar berkualitas,” ujarnya sambil mengatakan itulah sebabnya para finalis untuk ragam lomba khususnya di bidang Fashion Show, Modern Dance, Tari Etnik dan Vokal Solo punya kualifikasi tinggi. “Sejumlah pendamping profesional kami libatkan seperti Grace Radjagukguk, Eri Yohannes Saragih, Kak Anto untuk koreografi, Drs Firman Purba SPd, R Situmorang dan Theresia Depari termasuk tiro Surya Kumar, Drs B Siahaaan dan Moses Sembiring Milala untuk memberi penekanan pada English Club!”

Menurutnya, alasan pihaknya menggali dan mengadakan kegiatan serupa tiap tahun untuk melatih mental dankemampuan siswa agar sensitif ke arah positif. “Santo Franciscus sebagai pelindung, mengajar dan membimbing utuk mencintai lingkungan. Pemahaman dan pengamalannya dimulai dan terasah dari jiwa seni!”
***

Sr Mariana Purba SFD lahir di Dolokmaria, Simalungun pada 10 Mei 1970, sebagai putri kedua dari lima bersaudara anak pasangan Dope Yohannes Purba - Giat Petra Saragih. Menimba ilmu di SD Dolokmaria dan melanjut ke SMP Sarangpadang. Saat menggali ilmu di pendidikan dasar, orangtuanya dipanggilNya.

Dibesarkan oleh seorang ibu yang pekerjaannya cuma petani, menggugah keinginannya untuk cepat mandiri dengan harapan mengurangi beban orangtuanya. Saat itulah ia mulai mengenal dunia biara melalui datangnya para misionaris dan mengajaknya untuk mendoakan orangtuanya. Ketika kakaknya, Raimunda Purba masuk ke sekolah calon suster di Padangsidimpuan, kemauan menjadi biarawati makin besar.  Sr Mariana Purba SFD muda melanjut ke  SPG Rudangta Kabanjahe (yang sekarang SMAN2 Kabanjahe). Masuk menjadi biarawati dan secara transenden tetap berkomunikasi dengan orangtuanya yang sudah di rumahNya. “Komunikasinya hanya melalui doa,” ingatnya sambil menambahkan terus menimba ilmu di STIB Harapan Medan dan mengasah kualitas dengan ilmu pendidikan di STKIP Riama Medan.

Setelah menjadi biarawati, Sr Mariana Purba SFD mengabdi di banyak tempat. Berawal Tahun 1987 di Kabanjahe berlanjut ke Tigabinanga, Kabanjahe, Tangerang, Pematangsiantar, Palangkaraya, Medan, Kabanjahe dan sekarang di Medan dengan tugas mengantar siswa memiliki kualitas istimewa.

Dari keluarga yang dibesarkan single parent, keluarga berbahagia ini punya kualitas. Anak pertama dari pasangan orangtuanya, menjadi biarawati yakni Sr Raimunda Purba di Sibolga, disusul Masnauli Purba di Duri - Riau, Arnold Purba di Baganbatu, Ramland Purba di Palangkaraya, Kalimantan. “Yang kuingat masa kecil setelah ayah dipanggilNya, setiap malam setelah kami terlelap, ibuku berdoa di ujung tempat tidur dan nama kami anak-anaknya disebut satu persatu,” kenang Sr Mariana Purba SFD.

Ibunya, Giat Petra Saragih semasa hidupnya memiliki keistimewaan karena memiliki indera keenam dan jadi tempat berkeluh kesah warga ragam latar belakang. “Saya sebagai saksi kebahagiaan. Ketika Misa Requim, ada 4 pastor memimpin doa dan pelayat datang dari ragam pimpinan agama hingga rumah di Kompleks Perumahan TNI Pirdam Jalur 3 Ujung penuh hingga ke jalan-jalan.”
***

Pengalaman batin dan kehidupan  tersebutlah membuat Sr Mariana Purba SFD mengajar bahwa syair lagu  idealnya memiliki makna yang dalam guna mengisi hati. (r9/f)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru