Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 08 Maret 2026

Parulian Musik, Menggali Kearifan Lokal untuk MemuliakanNya

- Senin, 05 Mei 2014 14:33 WIB
1.003 view
 Parulian Musik, Menggali Kearifan Lokal untuk MemuliakanNya
Pimpinan Parulian Musik Charles Silaban bersama personel didampingi artis Theresia Riama Marbun SE
Medan (SIB)- Di jagad industri kreatif Indonesia, Parulian Musik telah mencatatkan tinta emas sebagai kelompok yang menggali kearifan lokal lewat musik etnik. Tetapi, dengan kekuatannya menghibur, kelompok musisi yang terdiri dari lelaki itu memuliakanNya. Ketika menjadi pengiring dalam Pesta Pembangunan Gedung Sekolah Minggu (SM) Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Pardomuan Ressort Medan Selatan Jalan Bahagia Medan, Minggu (5/5), personel grup tak hanya menghibur tapi memberi nilai lebih lewat kidung rohani yang dilantunkan Theresia Riama Marbun SE plus lagu anak muda yang liriknya sudah digubah sesuai tema kegiatan.

“Sesuai pesan orangtua kami, Parulian Musik harus menyukuri karuniaNya. Talenta yang ada pada personel tak hanya untuk urusan komersil, tapi memuliakanNya hingga semakin banyak pihak yang riang dan menerima kabar suka itu,” tandas Pimpinan Parulian Musik Charles Silaban.

Berpersonelkan S Tambun dan dan E Tobing di terompet, L Sihombing di bass, E Sihombing di saksofon, Ian Tambunan di drum, K Pandiangan di seruling dan M Sinaga di kibor, personel Parulian Musik diwajibkan menggali kearifan lokal dengan pemahaman lagu Tapanuli dari masa ke masa serta lagu-lagu baru. “Kalau untuk lagu baru, pasti untuk maksud menjangkau selera orang-orang muda,” ujar Charles Silaban sambil mengutarakan lagu baru tersebut tak terbatas pada lagu etnik tapi pop Indonesia serta lagu dari luar negeri yang populer. “Soalnya, kadang di acara resepsi, anak-anak muda sekarang ingin lagu west atau KPop!”

Parulian Musik berdiri pada tahun 1991. Ketika itu, generasi pertama Parulian Musik yakni orangtuanya, Maninga Silaban yang abdi negara di Dinas Kehutanan dikunjungi kerabatnya, Makdin Silaban dari bona pasogit. Dalam diskusi itu, meski di Medan, diperlukan kelompok musik berciri kedaerahan tapi tetap memuliakanNya. Didirikanlah Parulian Musik yang namanya mengambil nama pengasuh awal yakni Parulian Silaban.

Suratan menakdirkan lain, Parulian Silaban menghadapNya dan sekarang ditangani Charles Silaban. Meski demikian, seluruh format dan formasi Parulian Musik tetap dipertahankan, termasuk base camp di Jalan Turi Gang Bilal Medan Teladan.

Di tempat itulah personel terus menggali kearifan lokal dan mengasah kualitas. “Kadang kendalanya menyatukan seniman, musisi dari ragam latar belakang punya tantangan. Di sana diperlukan empathi. Sama saat penampilan, harus mengutamakan kualitas musikallisasi,” jelas Charles Silaban.

Dengan komposisi dan upaya itulah Parulian Musik menjadi bagian tak terpisahkan dalam pesta-pesta adat yang sifatnya kolosal. Buktinya, hampir seluruh kabupaten kota di Sumut sudah disinggahi. “Yang terjauh kala menghibur publik di Gunungsitoli, Nias sekaligus peletakan batu pertama Gereja HKBP Gunungsitoli tahun 2006,” cerita Charles Silaban, putra keenam dari 8 bersaudara keluarga seniman itu.

Di tengah makin maraknya dunia hiburan, Parulian Musik tetap mempertahankan ciri etnik dan memuliakanNya. Amanah orangtua itulah yang direalisir Charles Silaban dan secara pribadi mengakui kemuliaan dan kuasaNya. “Karena semua yang bernyawa dan hidup, suatu titik berhadapan denganNya!” (r9/f)


Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru