Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 08 Maret 2026

Nofrita, Dara Minang Perealisir Budaya Karo

- Jumat, 09 Mei 2014 11:39 WIB
1.462 view
 Nofrita, Dara Minang Perealisir Budaya Karo
Medan (SIB)- Nofrita jadi pusat perhatian pada acara pembukaan kegiatan Sosialisasi Penguatan Jabatan Fungsional Mediator Hubungan Industrial, Efektivitas Penyelesaian Perselisihan yang dihadiri Direktur Jenderal (Dirjen) Pembinaan Hubungan Industrial (PHI) dan Jaminan Sosial (Jamsos) Irianto Simbolon SE MM, Kamis (8/5), di Medan. Dalam acara tradisional yang melibatkan perempuan-perempuan berbusana etnik, Nofrita menjadi pembawa acara sekaligus intepretasi narasi.

Yang istimewa, pakem-pakem dalam tata acara Tapanuli, dilafalkan dengan persis. “Aku ini dara Minang tapi sudah diberi Beru Sinulingga,” cerita perempuan yang menjabat Kasi Pengurusan Jamsos DHK Ditjen PHI Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia di Hotel Madani Medan. “Oleh leluhur, saya ini belum dianggap orang Karo kalau belum membangun rumah di Tanah Simalem!”

Leluhur Nofrita berasal dari Tanah Pinem, Dairi. “Warga di kampung itu seluruhnya Karo tapi berada di daerah administrasi Dairi yang dekat persimpangan Sidikalang,” ceritanya sambil berdendang lagu Karo yang sudah jarang didengar generasi muda saat ini.
***
Nofrita lahir di Pekanbaru, 1 Juni 1961. Ayahnya Azil (asal Maninjau, Sumatera Barat)— yang diberi marga Sinulingga — dan ibunya, Sariana  Beru Ginting (asal Lintau, Minang). Menimba ilmu di SDN 4 Pekanbaru, berlanjut ke SMPN 1 kota yang sama dan SMPP 49 (sekarang sudah menjadi SMAN 8) Pekanbaru. Selesai sekolah lanjutan atas, berkenalan dengan Drs Tangsi Tarigan MM — terakhir menjabat sebagai Ka Balai Besar Latihan Kerja di Bandung — yang kemudian menjadi suaminya.

Dalam proses berkenalan itulah Nofrita mempelajari dan melakoni kebudayaan Tapanuli khususnya Karo. Tak sekadar menempel tapi memahami filosofinya hingga Nofrita paham benar. Saking kentalnya, Nofrita mampu menggubah lagu Karo dengan syair dari wilayah mertuanya.

Saat orangtua suaminya meninggal, Nofrita bahkan ikut prosesi adat Karo, landek dan berdendang. Konsekuensi dari ikut dalam keluarga besar Karo, menjadikan Nofrita makin memahami sejumlah kesenian dan kebudayaan daerah lain dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat dicintainya.

Misalnya ketika ikut dengan suami yang berdinas di Kalimantan dan Nofrita menimba ilmu di S1 Universitas 17 Agustus Samarinda, justru beralkuturasi dengan budaya setempat. Sama ketika menimba ilmu S2 di Esha Unggul Jakarta, terbangun satu budaya kota. “Tetapi apapun namanya budaya cosmo, yang lebih punya nilai hakiki itu adalah budaya etnik karena di sana terpadu kekuatan kultural bahkan ada magisnya,” ujar Nofrita.

Dari sejumlah kebudayaan yang mengalir di dirinya, etnik Minang dan Karo yang dipahami secara mendalam. Misalnya, pernah orangtua suaminya mengatakan tidak ingin menutup mata sebelum anak dan menantu membangun kampung halaman. Nofri memang membangun rumah di Jl Bunga Sedap Malam V, depan Gereja GBKP tapi pembangunan itu punya filosofi bahwa cara itu mengharuskan leluhur tak tercerabut dari akar budayanya. “Kalau seseorang membangun tanah leluhur, kan artinya pribadi per pribadi tak bisa lekang dari kulturnya,” ujar Nofrita.

Dengan pengalaman tersebut membuat Nofrita menyosialisasi dan melestari kebudayaan leluhurnya. (r9/f)

Simak berita selengkapnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB) edisi 9 Mei 2014. Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap pukul 13.00 WIB.

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru