London (SIB) -Kerajaan Inggris mengumumkan pertunangan Pangeran Harry dan Meghan Markle, Senin atau Selasa (28/11) waktu Indonesia. Pasangan yang mendapat perhatian media dunia itu disebut akan menikah musim semi, atau sekitar Maret sampai Mei 2018. Analisis keuangan di negeri itu mengatakan, bila nanti menggelar pesta, sedikitnya dikeluarkan Rp80 miliar. Jumlah itu jauh di bawah taksasi semestinya karena pengantin tidak perlu membayar biaya gedung untuk resepsi karena lokasinya milik keluarga. Dari biaya itu, paling banyak untuk keamanan yang mencapai 4,8 juta dolar AS atau kisaran Rp64,9 miliar sehubungan petugas akan lembur dan menjaga tetamu VVIP dari seluruh dunia.
Pengumuman resmi Istana Buckingham Inggris itu disambut gembira mantan Presiden AS Barack Obama. "Michelle dan saya dengan senang hati mengucapkan selamat atas pertunangan Pangeran Harry dan Meghan Markle. Kami mengharapkan kesenangan dan kebahagian bersama selamanya untuk kalian," demikian Obama berkicau di Twitter,
Presiden Donald Trump dan Gedung Putih sendiri belum bereaksi secara resmi mewakili kebahagiaan warga Amerika atas kabar pertunangan itu.
Obama sekeluarga memang punya hubungan yang dekat dan hangat dengan Harry. Obama bahkan pernah beberapa kali menghadiri secara personal Invictus Games dan bertemu Harry di sana.
Yang terbaru, Obama mendatangi Invictus Games di Toronto pada September lalu. Saat itu Obama dan Harry tertangkap kamera tengah berbincang dekat, media menyebutnya 'bromance.'
Obama tetap mendatangi pertandingan itu meski ia bukan lagi Presiden AS.
Detail pernikahan itu belum diungkap lebih lanjut. Namun pesta yang akan menghabiskan biaya mahal akan menjadi tanggungan ayah Harry, Pangeran Charles. "Secara tradisional biaya pernikahan jatuh pada keluarga istri, tapi pastinya ini tidak akan terjadi di sini," kata Kate Williams, sejarawan dan ahli kerajaan.
Perencana pernikahan dari London, Aimee Dunne mengatakan bahwa pernikahan kerajaan modern biasanya ada enam bagian. "Saya tidak bisa membayangkan Harry dan Meghan bisa mencapai pernikahan yang mereka inginkan hanya dengan harga kurang dari 670 ribu dolar AS aau kisaran Rp 9 miliar."
Menurut Dunne, setidaknya biaya pernikahan mereka bisa mencapai jutaan dolar, apalagi jika keamanan menjadi pertimbangan utama. Dunne lantas menjelaskan lebih lanjut soal detailnya.
Sewa Gedung dan Pesta
Biaya sewa gedung bisa dihindari karena mereka menikah di properti milik Ratu Elizabeth II dan keluarga Kerajaan. Itu seperti prosesi pernikahan kakak Pangeran Harry, Pangeran William. Saat itu ia menggelar pernikahan dengan Kate Middleton di Istana Buckingham.
Kala itu mereka memilih merayakan pernikahan dengan makan siang tradisional untuk lebih dari 600 tamu, yang diselenggarakan oleh Ratu dan pejabat kerajaan. Mereka juga menggelar pesta malam yang lebih intim untuk sekitar 300 teman serta keluarga. "Dengan daftar 500 tamu, saya akan mengatakan bahwa anggaran secara realistis minimal 200 ribu dolar AS ke atas (lebih dari Rp2,7 miliar)," kata Dunne soal resepsi.
Gaun
Nantinya, gaun pernikahan Markle dilaporkan dirancang desainer ternama. Saat Middleton menikah, keluarganya membayar gaun pengantin rancangan Alexander McQueen. Sayangnya, hingga kini biaya gaun tersebut belum pernah dikonfimasi secara resmi.
Keamanan
Biaya pengamanan akan menjadi pengeluaran terbesar kerajaan. Diperkirakan ada lima ribu polisi yang menjaga pernikahan William dan Middleton. Meski tagihan akhirnya tidak diketahui, tapi pemerintah setempat dilaporkan memberikan bantuan khusus sebesar 4,8 juta dolar AS atau kisaran Rp64,9 miliar untuk biaya lembur aparat keamanan. "Tentu situasinya telah berubah sejak pernikahan kerajaan sebelumnya, jadi persyaratan keamaan akan jauh lebih ketat," kata Williams, merujuk serangkaian teror di London seperti disiarkan CNNIndonesia.com.
Dampak ke Ekonomi
Saat pernikahan William dan Middleton, masyarakat Inggris mendapat libur tambahan. Hari pernikahan Pangeran Charles dan Putri Diana pun dinyatakan sebagai libur istimewa.
Ada dampak ekonomi untuk semua itu. Pusat Penelitian Ekonomi dan Bisnis mengatakan bahwa setiap hari libur mengurangi produksi ekonomi sebesar 3 miliar dolar AS (Rp40,5 triliun). Ada pendapat bahwa pariwisata yang meningkat selama hari besar itu bisa membantu mengimbangi dampaknya terhadap ekonomi, namun Kantor Statistik Nasional menemukan sedikit bukti dari fenomena tersebut pada 2011.
(T/R10/h)