Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 08 Maret 2026

Korut Protes ke PBB Gara-gara Film The Interview

- Jumat, 11 Juli 2014 11:23 WIB
550 view
Korut Protes ke PBB Gara-gara Film The Interview
Pyong Yang (SIB)- Korea Utara melayangkan surat protes ke PBB ihwal sebuah film Amerika yang berjudul The Interview dan meminta kepada Washington untuk melarang penayangan film tersebut. The Interview adalah film komedi tentang sebuah skenario percobaan pembunuhan terhadap pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un.

Le Figaro, Rabu atau kamis, (10/7), waktu Indoensia melaporkan, Duta Besar Korea untuk PBB, Ja Song Nam, sudah mengirimkan surat resmi kepada Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon. "Mereka yang memproduksi dan mendistribusikan sebuah film tentang pembunuhan seorang kepala negara bisa dianggap sebagai tindakan terorisme dan dapat memicu perang," ujar Ja Song Nam seperti diberitakan Tempo.Co.

Film tersebut mengandung unsur cacian dan rencana pembunuhan langsung pemimpin tertinggi Kim Jong-un. Korea Utara meminta pihak yang berwajib di Amerika mengambil langkah-langkah secepatnya untuk menghentikan produksi dan distribusi film The Interview. Ban Ki-moon diharapkan bisa menyalurkan surat ini kepada Majelis Umum dan Dewan Keamanan PBB.

The Interview akan tayang di Amerika pada 14 Oktober 2014. Film tersebut menceritakan dua orang presenter televisi yang direkrut oleh CIA untuk membunuh Kim Jong-un. Kedok yang digunakan dalam menjalankan rencana pembunuhan adalah sebuah wawancara terhadap pemimpin Korea Utara tersebut. Di film itu diceritakan, Kim Jong Un menjadi sebuah lelucon di  The Interview. Film yang dibintangi oleh Seth Rogan dan James Franco ini bercerita tentang seorang wartawan televisi yang dikirim untuk membunuh pemimpin Korea Utara. Beberapa adegan film The Interview diambil dari beberapa tempat di Vancouver, Kanada, Amerika Serikat.

Sosok Kim diperankan oleh Randall Park. Ia digambarkan sebagai sosok pemberani dengan beberapa kebjiakannya yang kontroversial dan dipuja bak dewa olah rakyatnya.

Sebelumnya, dalam sebuah pernyataan yang disampaikan oleh kantor berita Korea Utara, KCNA, juru bicara Kim menilai bahwa film ini merupakan sebuah karya yang tak pantas ditayangkan dan tergolong sebagai tindakan teror. “Tindakan tersebut menggambarkan serangan terhadap pemimpin kami…  Itu adalah tindakan teror dan perang benar-benar tak tertahankan,” ungkap juru bicara tersebut sebagaimana dikutip Telegraph.

Ia juga menambahkan bahwa rakyat Korea Utara telah menganggap pemimpin mereka lebih berharga daripada hidup mereka sendiri. Jadi, bila pemerintah Amerika Serikat masih membiarkan pemutaran film tersebut justru hanya akan mengundang penolakan besar dari seluruh rakyat Korea Selatan.

Menanggapi kemarahan publik Korea Utara, Seith Rogan justru menanggapinya dengan santai. “Orang-orang bisanya tidak ingin membunuhku untuk filmku sampai setelah mereka membayar 12 dolar AS untuk itu,” kata Rogen di akun Twitternya. (t/r9/i)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru