Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 19 Januari 2026

Lady Gaga Vietnam Minta Facebook Lindungi Kebebasan Berekspresi

- Rabu, 24 Oktober 2018 20:14 WIB
463 view
Lady Gaga Vietnam Minta Facebook Lindungi Kebebasan Berekspresi
Mai Khoi
Hanoi (SIB) -Mai Khoi minta kepada direksi Facebook untuk melindungi kebebasan berekspresi. Perempuan yang dijuluki Lady Gaga dari Vietnam itu mengatakan, pemerintah terus meningkatkan kontrol terhadap internet di negara tersebut. Musisi yang dikenal vokal menyuarakan berbagai persoalan hak asasi manusia (HAM) itu meminta aplikasi jejaring sosial yang sangat populer di negaranya tersebut menepis segala ragam cara yang dimaksudkan membungkan berekspresi warganya.

Dengan 53 juta pengguna, Facebook sangat populer di Vietnam. Internet, menjadi "medan pertempuran" politis bagi aktivis seperti Khoi. Rancangan undang-undang keamanan dunia maya di Vietnam kontroversial dan segera berlaku pada Januari 2019.

Dalam RUU itu, perusahaan internet diwajibkan menghapus konten "beracun" dan menyerahkan data pengguna jika diminta pemerintah komunis. Selain itu, perusahaan diharuskan membebaskan "campur tangan" pemerintah lebih lanjut.

"Melindungi kebebasan berekspresi seharusnya menjadi kebijakan resmi Facebook, tapi sayangnya tidak," kata Khoi  seperti disiarkan Harnas.Co, Selasa (23/10).

Menurutnya, Facebook satu-satunya ruang bagi warga negara Vietnam untuk berbicara bebas, mengungkapkan pikiran, dan mengakses informasi tanpa sensor. "Terkadang Facebook menjadi wadah mengatur protes damai. Itu mengapa pemerintah takut dan mencoba mengendalikan Facebook," tuturnya. 
"Penindasannya sangat berat," tambah Khoi.

Dilarang menjual CD dan mengorganisir konsernya, Khoi menggelar pertunjukan rahasia dari pengawasan polisi. Sekarang dia takut menjadi target di dunia maya.

Facebook dan Google sejauh ini menolak berkomentar mengenai RUU keamanan dunia maya Vietnam. Meskipun, kelompok HAM telah mengecam RUU tersebut.

Khoi mengungkapkan, selama pertemuan dengan Facebook, Jumat (19/10), dia mendesak perusahaan yang didirikan Mark Zuckerberg itu mencegah dukungan terhadap RUU pemerintah, yang dinilai menyalahgunakan standar komunitas jaringan untuk membungkam "pembangkang".

Khoi menjelaskan, Facebook mengklaim telah berusaha dalam hal tersebut. Namun, dalam kenyataannya, di Vietnam banyak jurnalis independen dan aktivis yang akunnya diblokir dan unggahan mereka dihapus setiap hari.

Pernah menjadi tahanan rumah pada akhir 2017 -setelah protes anti-Trump saat Presiden AS datang ke Vietnam- Khoi dilarang mengikuti pemilihan parlemen setahun sebelumnya. "Saya pikir Facebook harus melakukan hal benar dan menunjukkan bahwa mereka melindungi kebebasan berekspresi," jelasnya. (T/R10/l)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru