Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 22 Februari 2026

Hosea Ginting Berkidung di Belantara Samudera

Redaksi - Selasa, 25 Februari 2020 18:57 WIB
301 view
Hosea Ginting Berkidung di Belantara Samudera
Foto: SIB/Dok
Berkidung : Hosea Ginting tekad berkidung memuliakan-Nya. Saat bersama Sekretaris GAMKI Deliserdang Pbs Hamonangan Sinaga SPd dan cendikiawan muda Nias Victor Gulo SH, Senin (24/2). 
Pematangsiantar (SIB)
Hosea Ginting berkidung. Tiap ada kesempatan memuliakanNya, perwira polisi tersebut melakukannya. Bahkan di belantara samudera, dilakukannya dengan khusyu. “Dalam Mazmur diterakan, memuji-Nya dengan kidung di seluruh pelosok dunia,” ujarnya didampingi Sekretaris GAMKI Deliserdang Pbs Hamonangan Sinaga SPd dan cendikiawan muda Nias Victor Gulo SH, Senin (24/2).

Berkidung dilakukannya sejak masih balita karena orangtuanya pengerja gereja di GPdI Kabanjahe. “Tetapi, saya tidak mau menjadi pengikut Yesus Kristus karena warisan. Saya ingin menjadi pribadi pengikut Yesus yang baru,” tegasnya.

Tekad itu membuatnya semakin aktif dalam kegiatan gerejawi. Bahkan, di mana pun ada kegaitan religi yang menghadirkan Ketua Sinode Gereja Suara Kebenaran Injil (GSKI) Pdt Dr Erastus Sabdono, ia akan hadir. Terakhir, ketika pendeta yang memiliki puluhan ribu jemaat di Indonesia itu mengadakan safari di Sumut dengan panitia Kapolres Simalungun AKBP Heribertus Ompusunggu, Hosea Ginting terlibat aktif. “Sebagai abdi negara, berpegang pada Yesus Kristus, semakin menguatkan pengabdian,” tegasnya.

Terlahir sebagai putra pasangan E Ginting - Anna br Sembiring di Kabanjahe pada 1 Januari 1972. Orangtuanya mngajarkannya untuk memiliki moral religi yang kuat. Menimba ilmu di SD Masehi 4 melanjut ke SMP Masehi dan SMAN 1 Kabanjahe.

Membantu perekonomian keluarga, sejak muda sudah membuka usaha. Mulai dari sebagai penyemir sepatu hingga ikut dagang sayur bersama ibunya. Meski waktunya tersita untuk mencari tambahan isi saku, tapi ia tetap berprestasi. Satu di antaranya adalah menjuarai lompat jauh di kabupatennya.

Pahit getir menjadi penyemir sepatu, dialaminya. Hampir semua tokoh di sudut kota sejuk dan pertanian dimasukinya. “Pokoknya, kalau masuk ke kedai, saya melihat ke bawah. Menyasar sepatu kotor untuk disemir,” kenangnya.

Suatu kali, masuk ke restoran. Lagi kerja, tiba-tiba datang preman dan menanyai siapa yang mengizinkan masuk dan langsung menyemir. Tak dapat menjawab, kaleng bekas roti yang dijadikan tempat menyimpan semir, sikat dan kain lap, ditunjang hingga ke luar ruangan. “Seluruh isinya berhamburan. Saya tak marah. Justru ‘kagum’, ‘kuat kalilah tenaga preman ini sampai kaleng dan isinya terbang’ batin saya,” kenangnya, tapi sejak saat itu ia paham bahwa kehidupan emang keras dan manusia jangan cengeng.
Dari penyemir sepatu, alih profesi menjadi pemarka biliar. “Yang penting, dapat uang halal,” tekadnya.

Setamat SMA, ia tak tahu harus ke mana selain berpikir membantu orangtua. Ketika sedang kerja, dua rekannya yakni Binsar Fredus Sitanggang dan Arih Sadaukur Tarigan membawa map. Ia memanggil dan ikut. “Mereka hendak melamar jadi polisi. Saya cuma ingin ikut,” paparnya.

Bergerilya tiga sekawan tersebut melamar. Sampai di Medan, kesasar entah ke mana-mana tapi tekad sudah bulat. Tiga hari tak tentu arah, akhirnya sampai di SPN (waktu itu) Sampali Medan ditemu. Berjumpa dengan sesama peserta. Dari hasil berbincang, dua kawannya mengundurkan diri karena tinggi badannya kurang.

Ia berkompetisi dengan 2.500 peserta dan dinyatakan lulus dengan 549 lainnya. Ketika di pendidikan, pelatihnya heran karena di kepalanya ada pitak bekas jahitan. Waktu menjelang masuk SD, Hosea Ginting pernah ditabrak dan divonis dokter hanya hidup sampai SMP.

Setelah lulus pendidikan yang dikukuhkan Ka SPN AKBP Rivai Jamil dan Sekr SPN Guntur HR, ia ditempatkan di Biroops Poldasu. Bakat dan prestasi atletik mengantarkannya ikut POR Polri di Jakarta di nomor lari 400 meter. Ketika bertugas di Asahan, karena juara lari, Kapolres (waktu itu) Irjen Purn Robert Aritonang menghadiahinya menjadi Polantas.

Berbekal pendidikan pas-pasan, ia tetap memiliki cita-cita hingga 9 kali tes perwira dan dinyatakan lulus tahun 2013 jebol ketika Kapolda Irjen Wisjnu Amat Sastro sebagai pimpinan wilayah. Sejak 2017, ia fokus pada pemuliaan-Nya karena diajak AKBP Heribertus Oppusunggu.
Kini, Hosea Ginting merealisir apa yang digariskan dalam Mateus 6: 33. (R10/f)

SHARE:
komentar
beritaTerbaru