Washington DC (SIB)
Hillary Clinton sedang mengerjakan thriller berjudul State of Terror yang direncanakan terbit Oktober 2021. Cerita buku yang dikerjakan bersama penulis terkenal Louise Penny itu terinspirasi kondisi negara sang mantan First Lady tersebut.
Ia mengaku tugas dan kewajbannya sebagai Menteri Luar Negeri di masa kepemimpinan Barack Obama penuh lika-liku yang harus ditunaikan dengan kerja keras. Ujian makin bertambah ketika adanya serangan teroris.
Hilarry menggambarkan menulis dengan Penny merupakan sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. "Saya menikmati setiap buku, karakter serta persahabatannya. Sekarang kami bekerja sama untuk menjelajahi dunia kompleks tentang diplomasi dan pengkhianatan berisiko tinggi," katanya seperti disiarkan RakyatMerdeka.Com, Selasa (24/2).
Penny adalah novelis Kanada yang terkenal karena novel-novelnya dan dijuluki novelis terkaya. Ia berteman dengan Hillary Clinton sejak 2016. "Ketika saya dan Hillary disarankan menulis film thriller politik bersama, saya tidak langsung menyanggupinya. Sebelum kami mulai, saya ingin Hillary menceritakan tentang pengalamannya ketika menjabat Menlu AS. Apa mimpi terburuknya? State of Terror adalah jawabannya," katanya.
Hillary bukan politikus pertama yang menulis novel thriller politik. Subgenre tersebut telah dipopulerkan oleh suaminya yang juga mantan Presiden AS Bill Clinton. Bill telah menulis dua novel thriller bersama novelis hebat James Patterson, yaitu ‘The President is Missing’ yang terjual lebih banyak lebih dari dua juta eksemplar di Amerika Utara dan merupakan buku fiksi dewasa terlaris 2018.
Musim panas 2021, duet novelis itu merilis novel kedua, ‘The President's Daughter’ yang mengisahkan tentang mantan presiden AS yang putrinya diculik. Cetakan pertamanya laku sebanyak satu juta eksemplar. (T/R10/f)