Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 24 Februari 2026

Daniel Darmadi Gali Seni Etnik Indonesia

Redaksi - Selasa, 10 Oktober 2023 19:10 WIB
493 view
Daniel Darmadi Gali Seni Etnik Indonesia
(Foto: SIB /Oki Lenore)
Odissi Dance: Daniel Adhiyaksa Darmadi MEng (tengah) menyaksikan pergelaran Odissi Dance di Medan, Minggu (8/10). 
Medan (SIB)
Daniel Adhiyaksa Darmadi MEng fokus menyaksikan pergelaran Odissi Dance di Medan, Minggu (8/10).
Pria yang menjabat Honorarkonsul der Bundesrepublik Deutschland Medan itu terlibat aktif dalam rangkaian memeringati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-154 Mahatma Gandhi yang dihadiri Dubes India untuk Indonesia dan Timor-Leste Mr Sandeep Chakravorty, sejumlah korps diplomatik. Di antaranya Konjen Malaysia Aiyub Omar, Konjen Jepang Takonai Susumu, Konsul Kehormatan Timor Leste Irwansyah, Konsul Kehormatan Malta Jonas Hudaya, mantan Konsul Kehormatan Jerman Ir Liliek Darmadi MEng, serta tamu kehormatan Kapolda Sumut Irjen Pol Setya Imam Effendi SH SIK MSi.
Usai penampilan tunggal, Daniel Darmadi dibadikan bersama rombongan artis yang datang dari India namun beberapa saat mukim di Bali. “Saya suka,” ujar pria berusia 41 tahun yang paham seni leluhur Jawa khususnya dari Jawa Tengah.
Oleh Konsul Jenderal India di Medan Shubham Singh, Daniel berbincang dengan penari tunggal Odissi Dance.
***
Tarian yang juga disebut Orissi, tercatat dalam kesusastraan tua. Tari ini berasal dari kuil Hindu Odisha, yang biasanya dilakonkan oleh perempuan. Tetapi pada penampilannya Minggu (8/10) malam dilakonkan pria.
Seperti pada pembukaan, Odissi tak sekadar tarian klasik tapi menyampaikan cerita kehidupan manusia dengan gerak dan musik. Klimaksnya ya itu tadi... penyerahan diri pada spiritual.
Odissi Dance yang ditampilkan di Medan belum utuh. Sebab aslinya berkaitan berkaitan dengan para dewa.
Dalam teks Sansekerta kuno Natya Shastra, tarian di India dijadikan media ‘pemberontakan’ seperti yang terlihat pada patung di Candi Kalingan dan situs arkeologi yang berkaitan dengan religi di negeri dengan penduduk terbanyak di dunia tersebut.
Saking populernya tarian tersebut, Michael Jackon di album “Black or White” (1991) memasukkan unsur tarian tersebut.
***
Daniel Darmadi mengaku memiliki pemahaman sangat sedikit mengenai seni dari Asia. Budaya Jawa dipahaminya dari ayahandanya. “Itu juga masih sangat sedikit. Saya ke Jawa jika ada kegiatan besar. Makam ibu di kuburan keluarga di Semarang,” ujar pria yang menghabiskan masa kecil dan seluruh pendidikannya di Jerman tersebut.
Kembali ke Indonesia karena mendapat tugas dan tanggung jawab sebagai diplomat. “Tetapi Indonesia memiliki seni yang beririsan dengan budaya Asia lainnya. Seperti yang tadi, itu ada di Bali dan di sejulah wilayah di Indonesia,” ujarnya mengenai Odissi Dance.
Khusus peringatan Mahatma Gandhi, Daniel Darmadi mengikuti seluruh rangkaian. Bahkan saat peresmian Gandhi Vatika di Percut Seituan Deliserdang, diplomat itu ikut menanam mangrove di tengah hujan dan jalanan yang berlumpur. “Kita memang harus merawat Bumi dengan pepohonan karena kita manusia hidup berdampingan dengan alam,” tegasnya.
Sebagai bagian dari Indonesia, ia ingin menggali dan semakin dekat dengan budaya Indonesia. (**)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru