Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 28 Oktober 2026
Dugaan Malpraktek Sulit Pembuktiannya

Direktur LAPK Farid Wajdi SH MH: Masyarakat Kuatir Berobat dengan Dokter Indonesia

- Selasa, 07 April 2015 22:00 WIB
633 view
Direktur LAPK Farid Wajdi SH MH: Masyarakat Kuatir Berobat dengan Dokter Indonesia
Medan (SIB)- Lembaga Advokasi Perlindungan Konsumen (LAPK) menilai, tewasnya seorang pasien setelah menjalani operasi usus buntu di Rumah Sakit MS yang diduga akibat malpraktik membuat masyarakat semakin kuatir berobat dengan dokter Indonesia. Hal itu disampaikan langsung Direktur LAPK Farid Wajdi, SH MH.

"Ya, masyarakat semakin kuatir berobat dengan dokter yang ada di negara ini. Hal inilah membuat masyarakat akan berobat ke beberapa klinik yang semakin hari semakin banyak bahkan masyarakat akan berobat ke tempat-tempat alternatif," ujarnya saat dihubungi wartawan SIB, Rabu (25/3) lalu.

Bukan itu saja, kurangnya kepercayaan pasien untuk berobat dengan dokter, membuat masyarakat pun melakukan berobat ke luar negeri. "Kita lihat saja, pelayanan di luar negeri sangat memuaskan. Pasien dijemput dari bandara bahkan diberi tempat tinggal," katanya lagi.

Selain itu, dia menegaskan kepada pihak kedokteran untuk bisa melakukan melayani pasien dengan secara moral. "Harus ada penanganan lebih cepat dan prosedur harus cepat. Pihak medis juga harus belajar banyak secara moral," pungkasnya.

Dengan ditemukannya dugaan malpraktik yang terjadi di Rumah Sakit MS ini, sambung dia, kasus ini semestinya bisa disampaikan kepada Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI). "Seharusnya kasus ini sampai kepada MKDKI, karena lembaga ini yang menentukan ada tidaknya kesalahan dokter. Biar lembaga ini yang memproses terlebih dahulu. Bila memang ditemukan delik pidana kode etik kedokteran baru diproses hukum," jelas Dosen Hukum di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) ini.

Namun hal seperti ini sulit didapatkan pasien atau masyarakat karena masyarakat jarang mendapatkan keadilan. "Sulit untuk dibuktikan, karena masyarakat jarang mendapatkan keadilan," tambah Farid.

Seperti pemberitaan sebelumnya, seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) Bungaria Simbolon (55) warga Jalan Menteng 7 Lorong Serasi, Medan Denai mendatangi Polresta Medan Senin (23/3) siang. Kedatangannya membuat laporan pengaduan atas dugaan malpraktek yang dilakukan dr H yang bertugas di Rumah Sakit MS.

IRT tersebut, melaporkan dr H lantaran anaknya Maruli Silalahi (33) tewas setelah menjalani operasi usus buntu yang ditangani oleh dr H. Kasus ini pun telah dilaporkan ke Polresta Medan dengan nomor STTLP/668/K/III/2015/Resta Medan. (Dik-SPS/h)

SHARE:
komentar
beritaTerbaru