Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 22 Februari 2026
Tidak Mau Budaya Batak Punah

PPRTB Tamba Kota Medan Gelar Festival Manortor

Redaksi - Minggu, 23 Februari 2020 21:18 WIB
729 view
 PPRTB Tamba Kota Medan Gelar Festival Manortor
Foto: SIB/Dok
 PELANTIKAN: Pengurus Parsadaan Pomparan Raja Tamba Tua Dohot Boruna (PPRTB) Kota Medan dilantik pada pesta bona taon (syukuran awal tahun), Minggu (16/2) di Wisma Taman Sari, Medan. 
Medan (SIB)
Parsadaan Pomparan Raja Tamba Tua Dohot Boruna (PPRTB) Kota Medan pesta bona taon atau syukuran awal tahun 2020, Minggu (16/2) di Wisma taman Sari Medan. Acara tersebut dirangkaikan dengan pemilihan kepengurusan baru tahun 2020-2025 dan festival manortor. Acara diawali ibadah dengan pengkotbah Pdt Dr Eben Siagian.

Festival manortor digelar karena perkumpulan marga Tamba Kota Medan ingin melestarikan budaya serta menyosialisasikan bagaimana manortor yang baik dan benar. Meski orang Batak sering manortor di acara adat, tapi gerakannya sudah tidak sesuai dari dasar-dasar tortor yang diwariskan leluhur terdahulu.

“Sebelumnya festival kami ajarkan dulu teknik-teknik dasar tortor BatakToba yang se benarnya, sekaligus menggali budaya nenek moyang kita. Karena setiap dasar tortor ada artinya. Gerakan pertama marsomba, sebelum manortor kita menyembah Tuhan Sang Pencipta alam semesta,” kata Drs Tumbur Tamba.

Setelah itu, lanjut dia, barulah “manomba” raja adat yang namanya somba adat. Gerakan kedua membuka tangan, artinya untuk berkaca kepada diri siapa dirinya sebenarnya. Siapa diri kita harus ditunjukkan kepada masyarakat banyak.

Setelah itu membuka tangan, kemudian mangalenggang ke kanan dan ke kiri. Kemudian marembas (sukacita), kemudian “mangain” (mengumpulkan semua keluarga). Tortor ini berakhir di perut, artinya semua berasal dari rahim ibu.

“Ada 7 dasar penilaian yang sudah disepakati, yaitu meminta gondang, Kita buat perempuan yang meminta gondang. Itu tidak menyalahi dalam adat Batak. Setelah itu gerakan-gerakan dasar, kemudian ke urdot (ketukan), kreasi dan kerjasama, penampilan.

Ini kami lakukan untuk menunjukkan bahwa marga Tamba itu ada dan mampu melestarikan budaya Batak Toba, salah satunya tortor. Tortor wajib yang dipilih adalah “Somba Debata”, sementara tortor pilihan adalah mangaliat dan tortor sawan. Peserta ada 10 sektor,”ucap Tumbur Tamba.

Sementara Drs Rual Tamba terpilih kembali memimpin kembali PPRTB periode 2020-2025 dan dilantik dewan penasehat bersama pengurus lainnya. Dia mengatakan masih banyak program lama yang belum diselesaikan, tapi kepengurusan Medan mau mensinergikan dengan program PPRTB pusat yaitu mendirikan “Jabu Parsaktian” di Negeri Tamba Kecamatan Sitio-tio Samosir.

Dikatakannya, marga Tamba di Medan kerap melestarikan budaya Batak, tidak hanya festival manortor. Tapi sebelumnya sudah mengadakan simulasi paradaton. Sudah ada 52 orang parhata baru marga Tamba di Medan. Karena yang lain rata-rata sudah tua, sehingga perlu peremajaan “parsinabung” (parhata/juru bicara adat Batak).

“Siapa yang berminat kita bina, kita bangga ternyata banyak yang mendaftar. Kita tidak mau parhata ini hilang maka harus ada regenerasinya. Jangan seperti di Jakarta, karena minimnya parhata, maka sudah bisa disewa dari marga lain. Janganlah seperti itu, kita tidak mau adat ini punah, budaya Batak harus kita lestarikan,”tuturnya. (M10/c)

SHARE:
komentar
beritaTerbaru