Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 10 Maret 2026

Karya Patung Besi Ono “Man of Steel Asal Malang Diakui Dunia

- Sabtu, 20 Februari 2016 16:28 WIB
425 view
Malang (SIB)- Meski tinggal di gang sempit, Jalan Semeru Gang Gereja Nomor 12, Kota Malang, nama Ono Sumarsono tenar di kalangan seniman luar negeri. Puluhan karyanya pun sudah tersebar di berbagai negara, patung-patung berbahan besi yang dibuatnya banyak mengisi galeri-galeri seni mancanegara.

Kendati karyanya banyak dikagumi orang, seniman kelahiran Malang 1 Januari 1947 ini tetap bersahaja dengan hidup sederhana, dan tidak lupa gaya nyentriknya.

Ono Gaf, begitu seniman luar negeri memanggilnya, pembuat karya seni patung Burung EMU di Perth, Australia. Dirinya diundang dua seniman asal Negeri Kangguru tersebut untuk membuat patung berbahan besi.

Ono dijuluki Man of Steel karena kemahirannya membuat patung berbahan besi, logam, maupun baja. Semua bahan baku didapatkan dari pasar loak. Namun begitu, setidaknya 25 karya patung sudah menyebar di Asia, Afrika, Australia maupun Eropa.

Di dunia seni patung Indonesia, Ono Sumarsono alias Cak Ono sepertinya sudah mempunyai nama. Di antara banyak pematung di Nusantara, Cak Ono bisa disebut sebagai salah satu seniman nyeleneh. Dalam berkarya, dia menggunakan metal rongsokan yang tidak terpakai.

Rongsokan besi maupun baja disulap menjadi karya yang mengagumkan. Di antaranya berbagai binatang mamalia, burung, pesawat, dan karya abstrak lainnya. Saat ditemui, Ono tengah sibuk memperbaiki perabotan rumahnya.

Menurut Ono, sebenarnya ada pekerjaan yang belum tertuntaskan, yakni membuat patung buaya. "Ada patung buaya, belum selesai," ucapnya, Senin (15/2).
Kediaman Ono berlantai tidak memiliki halaman luas hanya jalan kampung kecil penuh dengan barang-barang rongsokan. Barang-barang itu, kata dia, disiapkan jika akan membuat sebuah patung besi. "Sengaja saya kumpulkan. Nggak masalah meski rumah penuh barang," ujarnya seraya tertawa.

Satu hal yang mengawali ketenarannya dari patung Kura-Kura yang bertengger di halaman depan sebuah rumah makan di wilayah Kota Batu. Kura-Kura itu memiliki bobot sekitar 10 ton.

"Itu pemilik rumah makan meminta saya membuatnya, sekitar 5 bulan baru selesai. Berawal dari situlah kemudian banyak orderan membuat patung di luar negeri," aku bapak tiga anak ini.

Sejauh ini Ono masih saja menggeliat resah untuk terus berkarya. Semangatnya terjaga baik ditambah dukungan sang istri tercintanya, Tristianingsih Knefel dan anak-anaknya. "Saya punya sembilan cucu. Semua mendukung saya berkarya," tutur Ono. (detikcom/y)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru