Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 10 Maret 2026

Hombo Batu, Simbol Heroik yang Prestisius

* Oleh Agam K. Zebua S.p
- Sabtu, 04 Juni 2016 19:16 WIB
397 view
Hombo Batu, Simbol Heroik yang Prestisius
Melompat batu atau "Fahombo batu" merupakan salah satu ciri khas masyarakat Nias, khususnya di daerah bagian Selatan Pulau Nias (Nisel) terutama di Bawomataluo dan Teluk Dalam. Para wisatawan yang berkunjung ke Nias ada yang menyangka bahwa semua orang Nias mampu melompati batu yang disusun hingga mencapai ketinggian 2 meter dengan ketebalan 40 Cm tersebut. Padahal lompat batu yang menjadi tradisi masyarakat di Nias Selatan hanya dilakukan kaum laki-laki saja yang melakukannya. Dahulu lompat batu ini merupakan kombinasi olahraga permainan rakyat gratis dan bukan tradisi komersial. Namun pada perkembangannya, lompat batu bukan sekedar konsumsi pariwisata semata seperti sekarang ini, melainkan juga sebagai sarana dan proses untuk menunjukkan kekuatan dan ketangkasan para pemuda sehingga memiliki jiwa heroik yang prestisius. 

Adalah menjadi suatu kebanggaan bagi orangtua dan kerabat lainnya bahkan masyarakat desa pada umumnya apabila seorang pemuda dari satu keluarga dapat melompati batu yang telah disusun secara berdempet sehingga diadakan semacam acara syukuran dengan menyembelih ayam, babi maupun hewan lainnya. Dari kemampuan seorang pemuda dapat melompati batu tersebut, ada penilaian antara lain :

1.Para pemuda kelak akan menjadi pemuda pembela kampungnya yang disebut "samu'i mbanua atau laimba horo" jika ada konflik dengan warga desa lainnya.

2.Pemuda tersebut dianggap telah dewasa dan matang secara fisik.

3.Suatu kebanggaan bahwa pemuda tersebut tidak mau kalah dengan pemuda  dari kampung lainnya.

Pada jaman dahulu, melompat batu merupakan kebutuhan sekaligus persiapan untuk mempertahankan diri dalam membela nama kampung demi kehormatan kampung sendiri menurut prinsip: fabanuasa. Ondrora va banuasa, kiri-kiri mbabato. Berdasarkan prinsip ini rasa patriotisme pada kampung jauh lebih utama ketimbang hubungan kekerabatan.

Ironisnya, ternyata tidak semua laki-laki dapat melompati batu tersebut meskipun melakukan latihan terus-menerus. Bahkan ada yang sampai terluka, patah lengan dan kaki sehingga kemampuan melompat batu dipengaruhi juga oleh faktor genetik yang turun temurun diwariskan dari orangtuanya atau kakeknya yang menjadi seorang pemberani dan pelompat batu. Selain itu, atraksi lompat batu juga sudah berubah fungsi karena sudah tidak ada lagi olahraga melompat batu yang gratis, tetapi yang ada lompat batu komersil. Dikhawatirkan nanti jika turis tidak datang lagi ke Nias maka tradisi lompat batu akan punah. Hal ini disebabkan para pemuda mau melompat batu, kalau bayarannya sesuai yang dikehendakinya. Tradisi lompat batu masihkah dapat bertahan ???? (Penulis adalah mantan dosen dan wartawan, peminat budaya/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru