Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 10 Maret 2026

Wonderful Indonesia Jadi Magnet Budaya Serta Bisnis di Laos

* Batik Jadi Primadona
- Sabtu, 04 Juni 2016 19:20 WIB
366 view
Wonderful Indonesia Jadi Magnet Budaya Serta Bisnis di Laos
Vientiene (SIB)- Duta Besar RI untuk Laos, Irmawan Emir Wisnandar, tampak sumringah. Tangan kanannya terus menyambut ajakan salam dari duta besar negara lain serta sejumlah kolega. Ajakan berfoto bersama juga terus menerus berdatangan.

Sambutan positif itu berdatangan di penghujung rangkaian kegiatan Wonderful Indonesia di Vientiane, Laos, dari tanggal 27 Mei 2016 hingga 29 Mei 2016. Pameran produk serta edukasi di Vientiane Center menjadi lengkap dengan malam penutupan di Lao National Cultural Hall. Gedung berkapasitas 1500 orang itu sampai kewalahan memuat antusiasme warga Laos serta masyarakat Indonesia yang tinggal di Laos.

"Jaringan selalu kita jaga. Walaupun ini yang pertama tapi KBRI memang sering mengadakan kelas Bahasa Indonesia untuk masyarakat sini," kata Emir usai acara tersebut, Minggu (29/5).

Acara malam kebudayaan itu sendiri memang disambut meriah. Berbagai suguhan tarian Indonesia seperti Tari Saman sukses mengundang decak kagum. Pun dengan ajakan joget dangdut dari Oza, penyanyi dari Jakarta yang melantunkan sejumlah tembang seperti Sakitnya Tuh Di Sini dan Goyang Dumang. Bahkan Emir pun sempat diajak berduet dengan biduan tersebut.

Tak hanya itu, para penonton pun diajak bermain alat musik tradisional khas Jawa Barat yaitu Angklung. Suasana pun semakin semarak ketika di ujung acara Garuda Indonesia ikut memberikan doorprize berupa tiket perjalanan ke Yogyakarta untuk 2 orang yang beruntung.

Suksesnya acara itu tidak lepas dari serangkaian pameran yang telah digelar 2 hari sebelumnya. Jumlah transaksi yang terkumpul yaitu USD 225.895 atau sekitar Rp 3 miliar lebih. Selain itu, 13 perusahaan Indonesia pun telah dalam proses penjajakan dengan sejumlah perusahaan atau distributor di Laos dalam berbagai bidang.

Salah satunya yaitu PT UMG Indo yang tengah menjalin kerja sama dengan Gubernur Vientiane untuk pembangunan rumah sakit senilai USD 100 juta. Di bidang pendidikan pun tidak kalah menarik seperti sejumlah universitas Indonesia yaitu ITB, Undip, UGM, IPB, Unibraw, Unair, UNY dan beberapa lainnya ikut menjaring pelajar Laos untuk belajar di Indonesia.

Bahkan salah satu universitas yaitu President University langsung mengadakan tes masuk bagi pelajar Laos. Sekitar 150 pelajar tertarik untuk belajar di Indonesia meskipun nantinya hanya 10 orang saja yang akan lolos.

Produk-produk lainnya seperti batik juga laris ketika pameran, sebut saja Batik Hatta YYE Batik, Enggar Collection dan sebagainya. Di bidang lainnya seperti PT Deltomed Laboratory dengan produknya Antangin hingga urusan konstruksi seperti PT Panairsan Pratama pun langsung sibuk untuk bermitra dengan sejumlah pengusaha Laos.

Tidak hanya itu, pameran di Ibu Kota Laos itu juga dimeriahkan dengan sejumlah workshop. Pelatihan seperti belajar membatik dengan Ngesti Inggarnasih, mengukir dengan pengukir asal Jepara yaitu Legiman, hingga pelatihan creambath dan spa dari Kriya Spa Bali turut dibanjiri pengunjung.

"Ini baru pertama diadakan di Laos dan saya sendiri surprize dengan hasilnya," kata Emir yang didampingi istrinya, Irma Wisnandar.

Batik Jadi Primadona

Pameran produk yang digelar Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Laos menarik banyak perhatian masyarakat setempat. Berbagai produk Tanah Air menjadi incaran, salah satunya kerajinan batik.

Ada sekitar 7-8 booth yang menawarkan batik kepada para pengunjung, baik dalam bentuk kain atau pakaian jadi.

Digelar di lantai dasar sebuah mall besar di Vientiane, Laos, pameran itu tentu menjadi magnet tersendiri. Salah satu booth batik yang diserbu pengunjung yaitu Batik Hatta milik Siti Rachmanani Ananingsih dan Anastasia Rochmani Indriastuti. Dua saudara asal Semarang itu memang rajin mengikuti pameran semacam itu.

"Kemarin kita juga di Vietnam, laku banget. Di sini sudah mau abis lho ini, lihat aja," ucap si kakak yang biasa dipanggil Bu Nani saat berbincang di lokasi pameran.

Berbagai batik yang ditawarkan mulai dari kemeja pria lengan pendek atau panjang hingga busana wanita. Harga yang ditawarkan mulai dari LAK (Laos Kip-mata uang Laos) 100 ribu hingga LAK 250 ribu. Namun ada pula beberapa kain batik yang dijual dengan harga hingga ratusan ribu LAK.
Tak hanya Batik Hatta, beberapa gerai batik lainnya pun turut memeriahkan gelaran tersebut. Sebut saja Enggar Collection, YYE Batik, Bunga Batique, Batik Sekar Setaman dan Radhita Collection.

Bahkan salah satu pemilik gerai yaitu Ngesti Inggarnasih tidak hanya menjual batik tetapi langsung mengadakan workshop membatik. Puluhan peserta membatik pun sangat antusias. (detikcom/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru