Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 10 Maret 2026

Semesta Akui 9 Tarian dari "Surga Terakhir di Bumi"

- Sabtu, 25 Juni 2016 18:38 WIB
485 view
Semesta Akui 9 Tarian dari
SIB/Valentino Luis/NGT
Legong Kraton - meskipun untuk hiburan namun tari klasik ini memiliki perbendaharaan gerak yang amat kompleks dan terikat oleh struktur tabuhan pengiring musiknya.
Untuk ke-38 kalinya Pesta Kesenian Bali (PKB) kembali digelar. Dimulai tanggal 11 Juni hingga 9 Juli 2016. Mengangkat tema "Karang Akar" atau Mencintai Tanah Air, PKB kali ini terasa istimewa sebab Bali kembali mendapat penghargaan dari UNESCO atas masuknya tarian Bali sebagai Warisan Dunia (World Heritage)  kategori non benda.

Pembukaan PKB ditandai dengan pawai budaya dari sembilan kabupaten se-propinsi Bali, juga diikuti oleh tim dari luar Bali, seperti NTT. Tidak itu saja, pawai yang dimulai jam 15.00 sore di Monumen Bajra Sandhi, Renon, Denpasar ini disemaraki pula dengan kehadiran kontingen asal India, Timor Leste, dan Perancis lewat suguhan busana adat, musik, serta tarian boneka raksasa. Khusus tarian boneka raksasa dari Perancis, dikenal sebagai  Les Grandes Personnes. Presiden Joko Widodo yang hadir bersama istri, melakukan pemukulan Kul-Kul sebagai peresmian event ini.

Usai pawai, dilanjutkan dengan pembukaan pentas PKB di Art Center Denpasar oleh Menteri Pendidikan & Kebudayaan, Anies Baswedan, mewakili Presiden Indonesia, Joko Widodo.

Dalam sambutannya di hadapan ribuan warga yang memadati Amphitheater Ardha Candra, Anies Baswedan mengungkapkan bahwa mencintai Tanah Air adalah tema yang sangat relevan yang menyadarkan kita akan asal-usul, refleksi bagi masyarakat Bali akan perjalanan sejarah yang telah ditempuh pulau ini untuk menjadi Bali yang dikenal luas oleh dunia dan Bali yang menjadi satu kesatuan Indonesia.

Piagam UNESCO World Heritage diserahkan Anies Baswedan kepada Gubernur Made Mangku Pastika, mewakili masyarakat Bali. Anies menambahkan bahwa lestarinya keunikan budaya Bali merupakan hal yang istimewa dan bisa menjadi contoh bagi daerah-daerah lain di masa globalisasi seperti sekarang ini.
"Ajang seni dan budaya seperti PKB ini adalah ajang pembangunan karakter bangsa. Bali disukai oleh dunia karena kemampuan menjaga jati diri, dan kemampuan menjaga jati diri adalah bentuk cinta Tanah Air. Di Bali kesenian bukanlah soal penghidupan tapi kesenian adalah kehidupan", kata Anies yang malam itu mengenakan pakaian adat Bali.

Tarian dari 'Surga Terakhir di Bumi'
Tak tanggung-tanggung, ada sembilan ragam tarian yang dimasukkan UNESCO dalam kotegori Warisan Tak Benda. Three Genres of Traditional Dance in Bali on the Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity, demikian judul maklumat UNESCO yang disampaikan dalam sidang internasional di Windhoek, Namibia. Pengakuan ini menjadi catatan sejarah istimewa bagi Indonesia, dan Bali khususnya.

Sembilan tarian ini mewakili tiga genre tarian Bali; Wali, Bebali, dan Balih-Balihan. Masing-masing kabupaten dan kotamadya di Bali memasukkan satu tarian, sehingga jumlah keseluruhan menjadi sembilan.

Wali, tarian yang bersifat sakral dan suci, dibawakan dalam rangkaian upacara agama dan hanya boleh dalam lingkungan pura atau mandala utama. Tarian itu meliputi: Tari Rejang (wakil dari Kabupaten Klungkung), Sanghyang Dedari (wakil dari Kabupaten Karangasem), Baris Upacara (wakil dari Kabupaten Bangli).
Bebali, tarian semi sakral, yang ditampilkan untuk upacara agama maupun acara-acara penting yang masih bersifat formal, biasanya memiliki skenario yang sangat alot. Tarian itu meliputi: Topeng Sidakarya (wakil dari Kabupaten Tabanan), Dramatari Gumbuh (wakil dari Kabupaten Gianyar), Sendratari Wayang Wong (wakil dari Kabupaten Buleleng).

Balih-Balihan, tarian yang dipertontonkan untuk menghibur khalayak ramai, dengan sejumlah mimik maupun gerak lucu serta bisa diimprovisasi, dan berkembang cukup signifikan pada abad ke-19. Tarian Balih-Balihan ini meliputi: Legong Kraton (wakil dari Kotamadya Denpasar), Joged Bumbung (wakil dari Kabupaten Jembrana), Barong Ket Kuntisraya (wakil dari Kabupaten Badung).

Sebenarnya jumlah tarian Bali, baik tradisional atau kontemporer, sudah melampaui seratus macam tarian. Namun kebijakan-kebijakan menyangkut sejarah, tampilan, dan tujuan tarian menjadi bahan pertimbangan khusus, juga mengikuti prasyarat pengajuan serta prosedur UNESCO. Penelitian dan kajian-kajian dilakukan cukup lama, dengan melibatkan banyak pihak sebelum sembilan tarian ini diajukan.

Tarian Bali sebetulnya telah diajukan ke UNESCO pada 2011, bersamaan dengan pengajuan Noken (Papua) dan Taman Mini Indonesia Indah (Jakarta). Namun pada tahun yang sama UNESCO mengeluarkan peraturan baru bahwa tiap negara hanya boleh mengajukan satu benda/non benda dalam satu tahun, sehingga waktu itu diputuskan hanya memasukkan Noken (Papua).

Tarian Bali baru mendapatkan kesempatan pengajuan pada 2014, dan akhirnya mendapat persetujuan UNESCO pada akhir 2015 lalu. Adapun kesembilan tarian ini merupakan tarian yang menyebar ke semua wilayah Bali. Jadi, meskipun, misalnya disebutkan bahwa tari Baris Upacara mewakili Kabupaten Bangli, namun praktek tarian ini juga dijumpai di kabupaten-kabupaten lainnya. Ini lantaran tarian-tarian tersebut telah menjadi bagian dalam ritus agama maupun adat Bali sejak berabad-abad silam.

Sebagaimana yang berlaku dalam masyarakat Bali, aplikasi seni, termasuk tarian, adalah refleksi dari kehidupan, nilai-nilai ajaran agama, dan ungkapan emosi manusia. Dengan gerak yang dinamis, berbagai ekspresi tangan, kaki, wajah, mata, orang Bali mengutarakan rasa sedih, marah, bahagia, kegundahan, juga romantika. Sembilan tarian ini adalah Nawasari Bali, sembilan sari Pulau Dewata. Kini dunia mengakuinya. (National Geographic Traveler/c)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru