Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 10 Maret 2026

Tradisi Markusip Tapsel di Ambang Kepunahan

- Sabtu, 10 September 2016 21:02 WIB
763 view
Tradisi Markusip Tapsel di Ambang Kepunahan
Masyarakat Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara, sejak dulu  dikenal memiliki beragam tradisi, adat istiadat serta budaya yang tumbuh dan terjaga di tengah kehidupan sosial. Namun seiring waktu, ada beberapa tradisi kini keberadaannya terancam punah, salah satu di antaranya tradisi "Markusip".

Lagut Ritonga (61), warga Kecamatan Saipar Dolok Hole (SDH) Tapanuli Selatan, saat ditemui di Kecamatan Suka Bangun, Tapanuli Tengah, mengatakan, secara harafiah Markusip memiliki arti berbisik. Karena itu, tradisi Markusip ini merupakan satu tradisi naposo nauli bulung (muda-mudi) di wilayah Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) pada saat lalu. Apalagi daerah ini terbilang sangat ketat terkait dengan adat-istiadat, sehingga Markusip menjadi eskalasi komunikasi yang tepat bagi sepasang kekasih.

"Dulu sepasang muda-mudi dalam menyampaikan perasaannya tidak boleh bertemu secara langsung, adat itu masih sangat kuat. Jadi medianya adalah Markusip," jelasnya.

Dituturkan, Markusip dilakukan dengan mendekati kamar si gadis dari luar rumah pada saat malam hari, dan biasanya sang pria yang akan melakukan Markusip sebelumnya telah memberikan tanda atau kode kepada sang gadis untuk mengabarkan kehadirannya di luar rumah.

"Kalau saya dulu mau Markusip, saya meniup tulila (sebentuk seruling, red). Jadi, gadis yang saya taksir itu sudah tahu kalau saya datang, kemudian dia mendekatkan telinganya ke dinding, di situlah kami Markusip," tuturnya sambil mengingat masa lalu.

Kemudian, kedua pasangan anak muda ini akan menjalin komunikasi tanpa bertatap muka langsung. Namun belakangan, budaya daerah ini nyaris punah. Padahal tradisi ini sudah menjadi ciri khas daerah yang perlu dilestarikan.

Disebutkan, kepunahan itu akibat kemajuan zaman, seperti banyaknya provider telepon genggam, hingga alat komunikasi modern dapat menjangkau hingga ke pelosok desa.

Selain itu kata Lagut, bangunan rumah tempat tinggal yang dulu materialnya terbuat dari kayu, kini berganti dengan bangunan beton permanen dan ditambah dengan adanya program listrik masuk desa.

"Kalau sekarang ini orang sudah berpikir, untuk apa lagi Markusip? Sudah ada handphone, kemudian mana bisa lagi dinding beton dilubangi untuk tempat Markusip. Apalagi desa pun sudah terang benderang karena listrik, pasti malulah muda-mudi itu melakukan Markusip," sebutnya.

Namun, Lagut mengaku sedih karena tradisi ini tergerus zaman. Sebab menurutnya, ada filosofi yang tertanam pada tradisi Markusip, yakni sepasang remaja harus tetap menjaga norma-norma, etika, adat dan agama selama menjalin hubungan asmara hingga memasuki jenjang pernikahan.

"Tidak seperti sekarang ini, bebas semua dilabrak, hingga banyak terjadi persoalan asusila yang mencoreng nama baik keluarga," katanya.

Lagut Ritonga berharap, meski pun di tengah kemajuan zaman, tradisi tetaplah tradisi yang harus dilestarikan. Karena itu, ia berharap pemerintah di wilayah Tapanuli bagian Selatan tetap melestarikan tradisi Markusip ini, setidaknya melalui festival atau pertunjukan seni budaya di Tapanuli Selatan. (http://rri.co.id/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru