Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 10 Maret 2026

BJ Habibie: Antisipasi Digital yang Tinggal Pencet Saja dengan Ketahanan Budaya

- Sabtu, 15 Oktober 2016 17:46 WIB
195 view
BJ Habibie: Antisipasi Digital yang Tinggal Pencet Saja dengan Ketahanan Budaya
Solo (SIB)- Presiden ketiga RI, BJ Habibie menegaskan di era digital seperti sekarang ini dunia telah menyatu dan tak ada lagi batas-batas. Informasi bebas merambah ke ruang-ruang kehidupan tanpa bisa dibendung. Cara mengantisipasinya yakni dengan memperkuat ketahanan budaya.

Hal tersebut disampaikannya saat menjadi keynote speaker dalam Konferensi Internasional Pendidikan Islam I di The Sunan Hotel, Solo, Senin (10/10). Acara tersebut digelar oleh International Islamic Schools Alliance (Ittishal) atau Aliansi Internasional Sekolah-sekolah Islam.

Hadir dalam acara itu para pengurus yayasan sekolah-sekolah Islam dan sejumlah pesantren dari berbagai daerah di dalam negeri serta perwakilan sekolah Islam dari berbagai negara di Asia Tenggara, Afrika, Eropa dan Amerika.

"Ini era digital. Tinggal pencet saja semua informasi dari negara mana pun menghampiri kita. Kita tidak bisa melarang atau memeranginya. Dulu ada batas-batas negara, sekarang tidak ada lagi. Berdasar pengalaman saya, dampak buruknya hanya bisa diantisipasi dengan meningkatkan ketahanan budaya. Karena itulah kita menerapkan otonomi daerah agar budaya di masing-masing daerah bisa berkembang," ujar Habibie.

Habibie juga mendorong terjadinya sinergi positif antara budaya, agama dan teknologi untuk meningkatkan daya saing sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Menurutnya mengandalkan keunggulan SDM jauh dapat diharapkan daripada mengandalkan sumber daya alam (SDA) yang memiliki nilai tukar tak menentu karena tergantung pasar dan 'permainan' orang-orang tertentu.

"Kita harus menjadi bangsa merdeka, bebas, berbudaya, unggul dan produktif. Kuncinya kita harus melakukan sinergi positif atas tiga hal yaitu budaya, agama dan teknologi. Dengan itu kita akan bisa mengejar dengan peningkatan produktivitas sebagai output dari sinergi positif yang kita ciptakan untuk menjadi kualitas yang unggul," kata dia.

Namun demikian, lanjut Habibie, dengan sukses melakukan sinergi positif atas tiga hal tersebut bukan berarti dapat mengatasi permasalahan tersebut. Pada tahap itu baru masuk pada tahap SDM unggul. Untuk menjadi produktif harus ditempuh dengan keberanian menciptakan peluang dan melakukan kerja nyata terencana. (detikcom/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru