Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 11 Maret 2026
Kisah Agen Perubahan Perempuan di Kenya

Menentang Sunat, Pernikahan Dini Hingga Mendirikan Sekolah

- Sabtu, 15 Oktober 2016 17:48 WIB
362 view
Menentang Sunat, Pernikahan Dini Hingga Mendirikan Sekolah
Kakenya Ntaiya mencari kehidupan yang jauh berbeda dari jalan untuk anak perempuan di desanya. Sebuah pedesaan Kenya kecil di Enoosaen. Seperti banyak gadis Maasai lainnya.

Masa depan Ntaiya telah dipetakan oleh tradisi budaya. Ia akan terlibat dalam perkawinan pada usia lima tahun, kemudian disunat saat remaja. Sunat di masyarakat Maasai merupakan ritual yang menyakitkan sebagai penanda akhir pendidikan formal untuk mengawali perkawinan dan memiliki anak-anak. Ntaiya menolak untuk menerima nasibnya.

Ia mengatakan kepada ayahnya, bahwa ia setuju untuk disunat, tetapi dengan syarat, yakni Ntaiya harus menyelesaikan sekolah tinggi dan melanjutkan pendidikan. Ia mengancam akan melarikan diri dan membuat malu keluarganya.

Setelah mengalami upacara sunat, dia mampu melepaskan diri dari pernikahan dini. Ntaiya kemudian bernegosiasi dengan para tetua desa, yang mengizinkannya meninggalkan desa.

Ia berjanji untuk kembali dan pendidikannya dapat bermanfaat bagi masyarakat. Uang dari warga desa dan beasiswa digunakan Ntaiya untuk mendapatkan gelar sarjana dari Virginia Randolph-Macon Woman's College dan gelar Ph.D. Pendidikan dari Universitas Pittsburgh. Sejak itu, Ntaiya menjadi agen perubahan, pendidik dan aktivis untuk terus membayar masa depan.

"Ini adalah tantangan yang baik. Orang melihat potensi apa yang dapat Anda lakukan. Jika Anda memberikan anak perempuan kesempatan, mereka akan berkembang," ujar Ntaiya. Ntaiya membangun sekolah asrama Kakenya Center of Excellence di Enoosaaen tahun 2009. Hampir 280 anak miskin mengikuti dan mendapatkan pendidikan sekolah dasar sekaligus pemberdayaan.

Ini dilakukannya dalam upaya memutus siklus praktek budaya lama, seperti menyunat dan memaksa pernikahan dini. "Orang tua sekarang melihat bahwa gadis-gadis mereka memiliki masa depan. Anak-anak dapat memiliki kehidupan yang berbeda dari mereka, memiliki pekerjaan yang baik, dan jalan keluar dari kemiskinan,'' kata Ntaiya.

Lulusan pertama sekolah ini berjumlah 26 orang. Sebagian besar dari mereka ingin melanjutkan kuliah di Kenya atau di tempat lain, jika mereka bisa memenuhi syarat untuk masuk dan menemukan bantuan keuangan.

Saat ini sekolah telah membeli lahan tambahan untuk memperluas sekolah, untuk memasukkan murid dari TK sampai SMA. Sekolah akan dibangun terpisah. Ini akan menampung tiga kali lipat pendaftaran secara keseluruhan sejumlah 600 siswa di tahun 2018.

Ia mengungkapkan telah menciptakan model bagi masyarakat pedesaan untuk memberdayakan dan menciptakan pemimpin. Itu semua bertujuan untuk menanam sikap kepemimpinan pada perempuan, sehingga mereka dapat membuat perbedaan kelak. (Geographicnational indonesia/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru