Indonesia merupakan bangsa yang majemuk. Salah satu kemajemukan itu ada pada budaya dengan ragam bahasa lokalnya yang menyebar di seluruh Nusantara. Dalam catatan Kantor Pusat Bahasa ada sekitar 700-an bahasa daerah yang tersebar di pelosok. Tanah Air, namun sekarang ini hanya sekitar di bawah 20-an bahasa yang masih berada di zona aman. Di antara bahasa-bahasa lokal atau daerah itu bahkan sudah ada yang punah karena tidak ada lagi penuturnya. Ancaman kepunahan secara drastis ini bukan saja perlu dipertanyakan, namun sangat penting diketahui apakah akan ada kepunahan berikutnya? Ancaman kepunahan bahasa daerah sering tidak disadari para pemilik karena desakan bahasa nasional yang menguasai hampir seluruh aspek kehidupan.
Ancaman eksistensi kepunahan bahasa lokal merupakan desakan yang berakar pada tuntutan perubahan yang terjadi di masyarakat. Boleh dikatakan ancaman itu merupakan qonditio sine quanon, artinya tidak boleh tidak, pasti akan terjadi. Penghargaan masyarakat lokal terhadap bahasa kulturnya tampaknya semakin nyata penurunannya yang pada awalnya terjadi di kota-kota besar dan daerah urban lainnya. Kurangnya penghargaan ini kemudian diikuti masyarakat lokal itu sendiri karena desakan zaman dan perkembangan teknologi, bahkan hal seperti ini terjadi di pusat-pusat budaya lokal itu.
Ancaman kepunahan bahasa Batak Toba juga sudah mulai tampak dengan jelas. Gejala ini kelihatan pada pergeseran penggunanya yang sudah menghinggapi generasi muda di semua pelosok. Ironisnya, kalangan anak-anak dan remaja di pusat-pusat kultur Batak toba pun sudah banyak bertutur bahasa nasional sebagai bahasa komunikasi antar sesama dan di rumah.
Bagi masyarakat Batak Toba, sampai saat ini masih ada lembaga yang masih mempertahankan kultur merawat bahasa Batak Toba yaitu gereja, baik di daerah urban maupun pusat kultur itu sendiri. Namun belakangan ini terjadi pergeseran peranan gereja yang dulunya setia memelihara bahasa Batak Toba kini sudah mulai terasa membagi perhatiannya pada dua bahasa, terlebih di perkotaan. Beberapa kegiatan atau kepustakaan gereja sudah didampingi bahasa Indonesia, sehingga kaum mudanya lebih meminati bahasa nasional itu. Ironinya, bila kita berkunjung ke daerah pusat-pusat kultur (bonapasogit) ternyata anak-anak pun sudah berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Berbagi perhatian yang dilakukan gereja dapat dimengerti sebab gereja bukan berfungsi merawat kultur, melainkan merawat dan mengarahkan jemaatnya memelihara imannya.
Perhatian sekolah sebagai lembaga formal dalam penggalian dan pemeliharaan ilmu, teknologi seni dan budaya juga sudah meninggalkan bahasa Batak Toba. Fakta ini juga dapat dimengerti karena sekolah (dunia ilmu) selalu diperhadapkan dengan pilihan-pilihan baru yang diperlukan untuk memenuhi keinginan, hasrat dan kebutuhan kontekstual. Dalam literatur pendidikan nasional terutama sekolah tentu dituturkan dengan bahasa Indonesia. Peranan bahasa Indonesia bukan saja dalam aspek pemersatu, tapi mengandung hampir semua aspek kebutuhan nasional, seperti ilmu pengetahuan, politik, ekonomi, hiburan, pemerintahan, kesehatan dan lain-lain. Dengan demikian bahasa daerah atau lokal termarginal dalam kehidupan berbagai aspek.
Bahasa Batak Toba hanya dituturkan dalam kehidupan adat istiadat dengan kental sebab harus dituturkan dengan bahasa Batak Toba agar makna dan filosofinya terasa, namun untuk generasi mudanya, para orangtua juga sudah menuturkannya dengan bahasa Indonesia.
Faktor urbanisasi yang selama ini hanya dipahami dari desa ke kota, sekarang malah sudah banyak penduduk kota berpindah ke desa atau wilayah yang lebih kecil. Kenyataan seperti ini disebabkan adanya pemekaran-pemekaran daerah, perpindahan pekerjaan (mutasi), mengisi formasi lapangan pekerjaan terutama PNS dan interaksi penduduk desa dengan kota semakin tinggi frekuensinya terutama sebab urbanisasi dan kegiatan bisnis. Para pendatang pada umumnya datang dan mempergunakan bahasa Indonesia. Gambaran seperti ini menunjukkan adanya pengaruh pendatang terhadap penduduk lokal sehingga menyebabkan intensitas pemakaian bahasa Indonesia semakin menonjol di daerah perdesaan.
Bila kita memperhatikan eks wilayah Tapanuli Utara sebagai basis utama kultur Batak Toba, kini sudah dimekarkan menjadi empat kabupaten. Pemekaran ini berimbas pada pergeseran penutur bahasa Batak Toba dan bahasa nasional. Para pendatang yang sebagian besar adalah pendatang dari kota atau daerah lain sudah datang sebagai penutur bahasa Indonesia. Interaksi anak-anak pendatang dengan masyarakat lokal kini sudah berkomunikasi dengan bahasa Indonesia.
Faktor lainnya yang juga sangat kentara adalah faktor media yang sudah memasuki kehidupan semua elemen masyarakat, dalam dimensi ruang mana pun. Dengan media tidak ada lagi jarak antara desa dan kota baik informasi apapun. Pengaruh telepon dan internet benar-benar menjadikan masyarakat perdesaan sama bertindak dengan masyarakat perkotaan. Media sosial yang muncul sekarang bukan saja membuka tirai yang memisahkan desa dan kota tapi sudah menyatukan persepsi, perkawanan dan gaya hidup. Bahasa yang dipakai dalam media sosial pun sudah berbasis bahasa nasional, karena pertemanan tidak lagi sebatas suku tapi sudah lintas etnik, lintas tempat dan generasi. Bahkan dunia media sosial mampu menciptakan bahasa sendiri.
Media audio visual (televisi) yang disajikan dengan bahasa nasional sangat disukai lapisan masyarakat baik perdesaan maupun perkotaan. Pengaruh kehadiran televisi pada masyarakat perdesaan untuk memakai bahasa nasional sebagai bahasa pengantar sehari-hari terutama di kalangan anak-anak, sangat terasa. Acara demi acara dalam televisi yang dikemas dalam bahasa nasional dengan terus menerus berlangsung setiap hari, sehingga dengan adanya interaksi yang tinggi ini jelas mempengaruhi cara berpikir orang. Salah satu dampaknya adalah kuatnya keinginan masyarakat desa memakai bahasa nasional tersebut, apalagi bahasa nasional sudah dipakai di sekolah-sekolah. Dengan tingginya frekuensi anak-anak menonton acara-acara hiburan membuat bahasa nasional menjadi sangat akrab di telinga masyarakat. Kemajuan di bidang media sosial yang lebih dominan memakai mata juga memengaruhi anak memakai bahasa nasionalnya. Gambaran tentang interaksi indera baik telinga dan mata dengan bahasa nasional dalam frekuensi yang tinggi, maka hal ini semakin meminimalisir peluang anak berkomunikasi dengan menuturkan bahasa lokalnya.
Sementara orang-orang muda dari perdesaan yang melanjutkan pendidikannya di kota juga membawa dan memperluas pemakaian bahasa nasional itu ke desa bila kembali ke desa. Interaksi sesama anak muda sudah dominan memakai bahasa nasional dibanding dengan bahasa daerahnya (bahasa ibu).
Pemakaian bahasa nasional (Indonesia) di pusat-pusat kultur Batak Toba tampaknya sudah diminati para orangtua muda. Minat itu sudah muncul dari berbagai pengaruh yang disebut sebelumnya.
Konsep Billingual
Apakah melestarikan dengan tetap menjaga jumlah penutur bahasa Batak Toba ke depannya merupakan sesuatu yang sia-sia atau mimpi? Fakta yang tidak bisa dipungkiri adalah akan ada ancaman kepunahan bahasa Toba karena jumlah penuturnya semakin berkurang. Fungsi bahasa Toba menjadi stagnan sebab hanya berkutat di adat istiadat dan sedikit pada acara-acara keagamaan pada gereja berbasis kesukuan (sebenarnya okumenis) namun karena faktor sejarah melakukan ibadahnya dengan bahasa daerah Batak Toba sehingga disebut berbasis kesukuan. Sementara fungsi bahasa nasional semakin kuat dan meluas yang menjangkau keberadaan seseorang dalam kehidupan berbangsa, bernegara, bersosialisasi, akulturasi dll.
Tawaran yang mungkin dilakukan untuk tetap merawat bahasa Batak Toba adalah dengan konsep billingual, yaitu menggunakan dua bahasa dengan baik. Dengan billingual maka dibangun komunikasi dengan dua bahasa yang berbeda yaitu bahasa Batak Toba dan bahasa nasional. Dalam konteks akademisnya, billingual dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan sequential dan simultaneous. Sequential adalah belajar bahasa utama yang kemudian diikuti belajar bahasa kedua dalam waktu yang berbeda namun berurutan. Contoh, pada awalnya ditanamkan menuturkan dengan bahasa Indonesia, lalu beberapa tahun, diajarkan bahasa lokal atau sebaliknya.
Dengan simultaneous, yaitu mengajarkan atau menanamkan dua bahasa yang berbeda sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Hal ini dapat dilakukan di rumah. Pengamatan saya, model inilah yang paling banyak dan yang praktik ditempuh.
Mudah-mudahan kita semua memahami betapa berharganya bahasa Batak Toba sebagai warisan nenek moyang yang tiada tara.
Pengamat budaya dan staf pengajar Fak.Hukum Nommensen. (l)