Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 11 Maret 2026

Ritual Daro Daro Omo Nifolasara Sebua di Bawomataluo

- Sabtu, 29 Juli 2017 16:27 WIB
1.022 view
Ritual Daro Daro Omo Nifolasara Sebua di Bawomataluo
SIB/Dok
Gelar Adat: Christofel Aturan Wau Tuha Sihola Luo bersama istri, Ida Ayu Lilik Puspani Fabarasi Bolono didampingi tokoh adat diberi gelar melalui ritual ragam prosesi di kompleks Omo Nifolasara Sebua di Bawomataluo, Hilli Fanayama, Telukdalam, Kabupaten
Nias (SIB)- Christofel Aturan Wau Tuha Sihola Luo mengadakan acara adat Daro Daro di kompleks Omo Nifolasara Sebua di Bawomataluo, Hilli Fanayama, Telukdalam, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara, Senin-Selasa (10 - 11/7).  Lebih enam puluh tahun lalu, putra pasangan Tema Wau (Ama Dasiwa) Tuha Sanofu Boro - Mabuluate Melati Dachi tersebut meninggalkan kampung halamannya. Merantau ke Medan. Berlanjut ke Dolokmerangir, Simalungun untuk berkarier di perusahaan ban terkemuka dunia. Terjadi perubahan peraturan negara yang membuatnya terbang ke Eropa dalam mendapatkan kehidupan baru.

Meninggalkan kampung halaman dan belum pernah mudik untuk kegiatan adat, membuatnya harus melakukan tradisi sebagai merealisir mempertahankan adat-istiadat leluhur. "Saya pernah pulang. Ketika tsunami meluluhlantakkan sebagian Nias lebih sedekade lalu, warga Eropa yang punya hubungan emosional dengan Indonesia, mengumpulkan bantuan. Saya bersama rombongan menyerahkan langsung ke masyarakat. Tapi soal adat, saat ini terlaksana," ujar pria yang memperistri perempuan Bali, Ida Ayu Lilik Puspani bergelar Fabarasi Bolono.

Prosesi Daro Daro melewati waktu yang panjang, "Tapi disederhanakan. Setelah konsultasi dan beroleh arahan dari tokoh adat Bawomataluo, ritual digelar," ujar Kades Bawamataluo Dasa Manao SKes melalui Henkie Yusuf Wau via jejaring sosial.

Dimulai pemanjatan harapan pada Sang Pemula agar kegiatan berlangsung tanpa 'insiden' apapun, kelompok yang ditugasi membawa batu besar untuk Daro Daro mencari batu alam dari sungai terdekat dengan Desa Baromataluo yang berada di ketinggian. Batu tersebut minimal berukuran 2 X 2,5 meter dengan kekuatan sempurna. Pada ratusan tahun lalu, batu megalitik tapi untuk sekarang harus yang sepadan dengan ketuaan batu kali.

Setelah ditemukan, batu masih harus dibersihkan sesuai bentuk yang diinginkan. Kelompok tersebut yang membawa ke lokasi acara dengan cara memanggul. "Tidak bisa sembarangan mengangkat batu tersebut. Selain berat, juga berisiko," cerita Dasa Manao.

Setelah rapat dihadiri keturunan raja-raja dipimpin tokoh adat, ditetapkan prosesi. Batu untuk Daro Daro dibawa ke depan kompleks Omo Nifolasara Sebua di Bawomataluo, Hilli Fanayama. Setelah diritualkan, Aturan Wau dimungkinkan naik ke atas batu - yang berbentuk seperti sampan -dan gelar Tuha Sihola Luo disematkan padanya.

Tuha Sihola Luo punya makna filosofis yang sangat dalam dan bentuk penghormatan pada leluhur. Secara harfiah Tuha berarti leluhur, Sihola (menyala), Luo (matahari). Makna tersebut disesuaikan dengan leluhur Aturan Wau yang terpandang. "Dulu leluhur Pak Aturan Wau itu selalu memberikan pencerahan kepada kaumnya diikuti oleh anaknya kemudian cucunya diharapkan kepada cicit ini bisa mengikuti karakter tersebut," tambah Dasa Manao.

Memang, selain berjasa, leluhur Aturan Wau sangat peduli dengan adat. Mulai dari kakek buyutnya yang membangun Omo Nifolasara Sebua sekira 700 tahun lalu. Warisan tersebut kini menjadi cagar budaya yang dilindungi negara. "Pemerintah Indonesia sudah mengakuinya dan kami warga Nias Selatan ingin meningkatkan statusnya dengan berharap pengakuan Unesco," tambah Bupati Nisel Dr Hilarius Duha SIK MHum yang berbaur dengan warga di acara tersebut.

Orangtua Aturan Wau adalah Tema Wau (Ama Dasiwa) Tuha Sanofu Boro, pamong praja angkatan pertama yang semasa hidupnya menjadi Asisten Wedana di hampir semua kecamatan di Nias sebelum adanya pemekaran. Satu perannya adalah meredam dan mengeratkan silaturahim antarwarga, antarpimpinan hingga perang antarsuku atau antardesa dan antarkampung di Nias Selatan, tidak terjadi. Tema Wau pun saksi hidup proses peralihan sistem pemerintahan yang berlaku di Republik Indonesia di Nias. "Orangtua kami diberi gelar Ndrawa Soaya yang artinya seorang panutan," urai Henkie Yusuf Wau, sesepuh GMNI.

***
Setelah Daro Daro diletakkan, diikuti dengan syukuran dengan memotong puluhan ekor babi pilihan dengan berat minimal 50 Kg. "Sampai 50 ekor dipotong untuk dibagikan pada masyarakat. Semua harus mendapat," urai Dasa Manao.

Saat prosesi di alam terbuka, tidak ada kendala. Termasuk awan tipis yang meneduhkan lokasi. Sebelum acara, hujan deras dan angin kencang. Bawamataluo memang biasa dengan udara ekstrim. Kadang hujan tapi panas menyengat.

Menunggu daging selesai dimasak untuk disantap, diadakan ragam ritual adat termasuk kesenian. Mulai dari hombo batu hingga tari-nyanyi. "Keluarga sengaja mengadakan di kompleks Omo Nifolasara sebagai maksud menyosialisasikan rumah adat turun-temurun pada generasi muda untuk dilestarikan. Sekaligus semakin mengeratkan silaturahim seluruh keturunan dengan warga Bawamataluo," tambah Henkie Wau sambil meminta maaf pada warga dan kerabat yang tidak terundang sebab keterbatasan waktu dan tempat. "Yang mengadakan ritual Daro Daro abang kami. Dadakan sebab beliau harus kembali ke Belgia tapi bersyukur karena semua berjalan sesuai rencana," tutupnya. (Rel/R10/d)



SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru