Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 10 Maret 2026
Prof Dr Selviana Napitupulu MHum :

Bagi Masyarakat Batak Kedudukan Laki-laki dan Perempuan Sangat Dihormati

- Sabtu, 05 September 2015 13:10 WIB
1.164 view
 Bagi Masyarakat Batak Kedudukan Laki-laki dan Perempuan Sangat Dihormati
Pematangsiantar (SIB)- Bagi masyarakat Batak, kedudukan laki-laki dan perempuan sangat dihormati. Hal ini terbukti dengan berbagai gelar kehormatan yang diberikan kepada laki-laki dan perempuan dalam masyarakat Batak.

Gelar kehormatan kepada laki-laki yaitu raja (anak ni raja), ama (bapak), ama na marsahala (Bapak yang berkharisma), uluan (kepala keluarga). Sedangkan gelar kehormatan kepada perempuan yang ditinjau dari sudut budaya, teologia, dan sosial ekonomi yakni ina (boru ni raja), siadopan, paniaran, ina soripada, parsonduk bolon, pardijabu, pardibagas, pardihuta, sirongkap ni tondi, dan dongan saripe.

Demikian ceramah Prof Dr Selviana Napitupulu MHum, Dosen FKIP Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar pada seminar sehari “Membangun Kesadaran Gender dalam Keluarga” yang dilaksanakan Rumah Sophia Pusat Studi dan Kajian Gender HKBP dengan judul “Peran Laki-laki dan Perempuan dalam Masyarakat Batak” di Aula STT HKBP Jalan Sangnaualuh Pematangsiantar, Senin (31/8).

Sebutan-sebutan gelar kehormatan tersebut memiliki makna yang berbeda-beda, tetapi seluruhnya menunjukkan bahwa pada hakekatnya kedudukan laki-laki dan perempuan sama-sama dihormati tanpa ada perbedaan gender. Namun bagaimanakah aplikasi penerapan sebutan-sebutan tersebut di tengah-tengah keluarga masyarakat Batak dewasa ini?

Di tengah-tengah dinamika perkembangan ekonomi dan teknologi, tersedia peluang-peluang yang besar bagi perempuan Batak untuk berperan dalam berbagai bidang kehidupan. Etnis Batak menganut garis patrinial, namun tak berarti hak dan kedudukan perempuan jadi tereduksi oleh sistem tersebut secara ekstrim. Bisa diamati dan buktikan dalam aktivitas kehidupan maupun hajatan adat. Peran serta perempuan  dalam adat begitu aktif sebagai parhobas, dan sekaligus banyak perempuan Batak yang harus banting tulang atau kerja keras mencari nafkah untuk menyekolahkan anak-anaknya.

Pada satu sisi, perkembangan ini mengakibatkan kesadaran gender, namun di sisi lain perkembangan ini membawa pergeseran nilai-nilai individu dan keluarga, baik yang berkaitan dengan prinsip-prinsip hidup, nilai-nilai keluarga maupun nilai-nilai kebersamaan, termasuk pergeseran peran gender antara laki-laki dan perempuan. Pergeseran nilai keluarga ini tercermin dari meningkatnya kemitraan gender (gender relations/partnership) dalam menjalankan fungsi ekonomi keluarga yang ditunjukkan dengan saling dukungan dalam meningkatkan pendapatan keluarga. Aplikasi kemitraan dalam kehidupan keluarga tercermin dalam pembagian tugas dan peran dalam keluarga, transparansi, dan akuntabilitas keluarga.

Perubahan global dan trend industrialisasi telah menyebabkan transformasi pada institusi sosial, komunitas dan nilai-nilai sosial kemasyarakatan yang akhirnya juga memberikan tekanan-tekanan, baik secara sosial, ekonomi maupun psikologi pada tingkatan individu, keluarga dan masyarakat. Namun apabila ada kesadaran kesetaraan gender melalui kemitraan dan relasi gender yang harmonis dalam merencanakan dan melaksanakan manajemen sumberdaya keluarga, maka anggota keluarga mempunyai pembagian peran dalam berbagai aktivitas (domestik, publik, dan kemasyarakatan) dalam rangka menjembatani permasalahan dan harapan di masa  depan untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga (sosial, ekonomi, psikologi, spiritual) yang berkeadilan dan berkesetaraan gender.

Mencapai kesadaran kesetaraan gender, maka aplikasi peran gender dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat sangat penting untuk dimengerti dan dimaknai karena aplikasi peran gender dapat mempengaruhi semua perilaku manusia, seperti pemilihan pekerjaan, pemilihan rumah, pemilihan bidang pendidikan, bahkan pemilihan pasangan dan cara mendidik anak. Oleh karena itu sosialisasi peran gender yang tidak bias gender harus dilakukan di dalam keluarga sejak usia dini yang dimulai dari sosialisasi peran gender kepada anak-anak, orang dewasa yang belum berkeluarga, suami istri, bahkan sosialisasi gender dalam hidup kemasyarakatan, ujar Selviana Napitupulu. (R-18/f)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru