Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 10 Maret 2026

Budaya Tionghoa Budaya yang Sarat akan Makna

- Sabtu, 13 Februari 2016 18:12 WIB
735 view
Budaya Tionghoa Budaya yang Sarat akan Makna
SIB/Lutfi Fauziah
Ketika Imlek tiba, umat Konghucu menyajikan berbagai jenis makanan sebagai persembahan untuk arwah leluhur. Jumlah dan jenis makanan disesuaikan dengan kemampuan serta tradisi masing-masing keluarga.
Sudah menjadi kebiasaan bagi seluruh keluarga keturunan Tionghoa untuk menyajikan sesaji untuk menghormati dan sebagai tanda bakti mereka kepada arwah leluhur.

Pada beberapa hari menjelang tanggal 30 bulan 12 imlek (Chuxi) atau Cap Me, rakyat Tiongkok biasanya mempunyai tradisi untuk membersihkan rumah secara besar-besaran. Setelah pembersihan, seluruh anggota keluarga bahu membahu menghias rumah dengan pernak-pernik ilmek seperti kuplet dan lampion dengan harapan dapat menciptakan suasana riang gembira.

Sehari menjelang imlek disebut dengan perayaan malam tahun baru atau chuxi yang dalam bahasa mandarin berarti menghapus yang lama dan jahat dan juga berdoa untuk menyongsong kedatangan tahun yang baru terbaik.

Pada malam itu, diadakan sebuah upacara sembahyang yang dikenal sebagai upacara Sembahyang Tutup Tahun (Tanggal 30 bulan 12 Imlek). Sembahyang ini dilakukan khusus untuk menghormati dan memuliakan leluhur atau sebagai ungkapan dan tanda bakti dari anak untuk kedua orang tua dan leluhur.

Upacara ini merupakan wujud dari sebuah pelaksanaan moral Confusianis yang memiliki sifat humanis, religius dan berakar kuat pada penekanan konsep bakti yang disebut dengan xiao, atau dalam bahasa Inggris disebut dengan Filial Piety.

Sudah menjadi kebiasaan bagi seluruh keluarga keturunan Tionghoa untuk menyajikan sesajian untuk menghormati arwah leluhur. Ibu Erna mempersilahkan kami untuk masuk ke dalam rumahnya dan melihat altar yang sudah dipenuhi oleh berbagai jenis makanan yang sudah tertata rapi dengan kedua foto ayah dan ibu mertuanya serta beberapa hio yang hampir terbakar habis. Di atas altar keluarga Ibu Erna, terlihat sebanyak 12 jenis makanan dan 12 gelas teh manis dan beberapa jenis kue dan buah.

"Ada pindang bandeng, ayam kloak dan goreng, udang goreng, baso luhoa, mi goreng, babi cin, sambal godog, cah buncis, tahu, kentang dan pete, ada juga samseng. Samseng ini biasanya dari babi, bandengĀ  atau ayam. Terus ada juga kue pisang, bika ambon, kue mangkok," papar Ibu Erna.

"Dalam penyajiannya tidak ada keharusan, yang penting sesuai dengan keadaan keluarga bagaimana, kalau keluarga yang punya rezeki lebih, biasanya juga menyediakan ayam satu ekor, Semua menu ini saya mengikuti tradisi suami saja, saya dan keluarga saya sudah vegetarian, jadi sudah tidak menggunakan daging lagi," tambah Ibu Erna.

Dua belas jenis makanan yang harus disediakan ternyata merupakan perwakilan dari 12 jenis shio. Selain perwakilan banyaknya jumlah shio, setiap makanan juga memiliki makna tersendiri. Misalnya, mie merupakan lambang dari panjang umur dan kemakmuran. Kemudian kue keranjang dan kue mangkok yang disusun ke atas memiliki harapan bahwa akan adanya kehidupan yang manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok. Sedangkan untuk ayam dan ikan dilambangkan sebagai harapan kehidupan yang bahagia dan penuh keberuntungan. Jeruk mandarin merupakan salah satu buah yang wajib ada di atas altar. Jeruk merupakan perwakilan dari doa untuk mendapatkan kekayaan, keberuntungan dan keutuhan dalam keluarga.

Ketika semua hidangan untuk persembahan diatur di atas meja sembahyang, para anggota keluarga akan berkumpul dan berdoa memanggil arwah leluhurnya untuk menyantap sajian yang disuguhkan. Dalam tradisi pemanggilan arwah leluhur ini ada suatu hal yang menarik, yakni cara para keluarga berkomunikasi dengan arwah leluhurnya. Komunikasi ini dilakukan dengan menggunakan dua keping kayu yang berbentuk seperti bulan sabit yang akan dilempar ke atas dan dilihat apakah kedua keping tersebut terbuka , atau tertutup atau ada salah satu sisi yang terbuka dan tertutup.

Apabila kepingan yang jatuh menghasilkan posisi yang tertutup kedua kepingnya memiliki arti bahwa sang arwah marah dan belum menyelesaikan menyantap makanannya. Begitu juga apabila kedua keping tersebut terbuka, itu berarti arwah sedang tertawa karena sedang menikmati santapan dan makanan tersebut belum boleh diambil jadi dibiarkan tetap berada di altar. Beberapa saat kemudian, kembali lemparkan kedua keping tersebut dan apabila keping tersebut menjatuhkan sisi yang terbuka dan tertutup, itu berarti arwah leluhur sudah selesai menikmati hidangan yang disediakan.

Ketika sudah selesai, makanan yang tersaji di meja upacara kemudian dibagikan kepada kerabat. Semua sesaji di atas disesuaikan dengan menu masing-masing agar tidak mubazir setelah upacara karena tidak dimakan.(Geographicnational/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru