Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 11 April 2026

Warga Dilarang Tertawa dan Menangis di Xinjiang

- Selasa, 08 April 2014 11:31 WIB
345 view
 Warga Dilarang Tertawa dan Menangis di Xinjiang
BEIJING (SIB)- Gubernur Xinjiang, Nur Bekri, Senin (7/4), mengklaim kelompok militan Islam Xinjiang membuat aturan keras dan dengan paksaan, yang melarang sebagian warga provinsi itu tertawa di pesta pernikahan dan menangis di pemakaman.

Seperti dikutip harian Xinjiang Daily, Gubernur Nur Bekri mengatakan, perilaku kelompok militan ini memanfaatkan kepercayaan warga terutama "orang-orang muda yang belum pernah melihat dunia".

Xinjiang yang didiami etnis Uighur, secara tradisional menjalankan Islam secara moderat, namun banyak warga Uighur kini mulai mempraktikkan Islam seperti di Arab Saudi dan Pakistan, misalnya perempuan diharuskan mengenakan pakaian yang menutup seluruh tubuh dan wajah.

Nur Bekri, yang juga etnis Uighur, menuding kelompok militan di Xinjiang berupaya melupakan tradisi dan budaya Uighur dan ingin menerapkan sebuah komunitas teokratis yang ketat. "Mereka sudah memaksa warga untuk tidak menonton televisi, mendengarkan radio, membaca koran, menyanyi dan menari. Mereka bahkan melarang orang menangis di pemakaman dan tertawa di pesta pernikahan," ujar Nur Bekri.

Kelompok militan, lanjut Bekri, juga mengharuskan pria memelihara janggut dan perempuan mengenakan burka. "Mereka juga menerapkan aturan paksaan tak hanya pada makanan namun juga kosmetik, obat-obatan dan pakaian halal. Mereka bahkan memaksakan ide bahwa rumah yang disubsidi pemerintah adalah haram dan harus dihindari," tambah Bekri.

Xinjiang adalah provinsi paling barat China dan berbatasan dengan Asia Tengah. Sebagian besar warga Xinjiang secara tradisional memeluk Islam. Meski kawasan ini kaya sumber daya alam namun selama beberapa tahun terakhir ini dicengkeram aksi kekerasan.

Pemerintah China menuding kelompok militan Islam dan separatis menjadi biang kerusuhan. Namun, sejumlah tokoh Uighur di pengasingan mengatakan masalah utama di Xinjiang adalah pemerintah China memerintah kawasan itu dengan tangan besi.

Berbagai kebijakan Beijing dianggap tidak mengindahkan kepentingan warga asli Xinjiang seperti melarang agama Islam dan melarang perkembangan budaya serta bahasa asli Uighur. Ketakutan China terhadap eksremisme Islam muncul sejak insiden penabrakan sejumlah wisatawan di Lapangan Tiananmen tahun lalu dan penusukan 29 orang di kota Kunming bulan lalu. (Rtr/kps/f)

Simak berita selengkapnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB) edisi 8 April 2014. Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap pukul 13.00 WIB.

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru