Seoul (SIB)- Korea Selatan dan Israel akan meluncurkan proyek gabungan untuk mengembangkan pesawat udara nirawak (drone) tahun ini. Pengumuman itu mengemuka hanya beberapa jam setelah Seoul menyatakan tiga pesawat nirawak dekat perbatasan Korea Selatan-Korea Utara dikirim Pyongyang untuk memata-matai.
"Korea Selatan dan Israel sejak lama bekerja sama dalam proyek-proyek riset dan pengembangan gabungan. Tahun ini, kedua negara berencana meluncurkan proyek gabungan untuk pesawat udara nirawak, yang merupakan kepentingan besar bagi kedua pihak," kata Menteri Perdagangan, Industri, dan Energi Korsel, Yoon Sang-jick seperti dilaporkan BBC, Jumat (11/4).
Kerja sama riset antara Israel dan Korsel telah berlangsung sejak 1999 dengan nilai investasi US$34 juta. Tahun ini, masing-masing negara akan menanamkan modal sebesar US$2 juta untuk mengembangkan pesawat nirawak baru serta sistem keamanan daring (online). Sejumlah petinggi militer Korsel mengatakan mereka berencana membeli sebanyak 10 radar dari Israel yang mampu mendeteksi pesawat nirawak kecil yang terbang rendah.
Pengumuman peluncuran proyek gabungan Korsel-Israel mengemuka hanya berselang beberapa jam setelah militer Korsel menyatakan tiga pesawat nirawak yang ditemukan di dekat perbatasan Korsel-Korut dikirim Pyongyang.
Bangkai ketiga pesawat nirawak ditemukan di lokasi terpisah. Pesawat pertama ditemukan pada 24 Maret di Paju, sebelah selatan zona demiliterisasi yang memisahkan Korsel dan Korut. Pesawat kedua teronggok di Pulau Baengnyeong saat Korut menggelar uji tembak dekat perbatasan maritim bagian barat pada 31 Maret.
Pesawat terakhir ditemukan oleh seseorang yang sedang mencari tanaman obat di Kota Sokcho pada awal Oktober 2013. Meski ketiga pesawat ditemukan di lokasi berbeda, semuanya bercat biru. Di bagian dalam terdapat rangkaian baterai yang tertera aksara Korea dengan dialek Korut.
Berdasarkan foto-foto yang diabadikan kamera buatan Jepang yang terpasang di dalam salah satu pesawat, pesawat-pesawat itu ditengarai dapat menempuh jarak 200 kilometer dengan kecepatan 100 km/jam hingga 120 km/jam dan ketinggian 1-2 km.
"Dengan memeriksa tiga pesawat dan perangkat muatan mereka, kita sudah mengamankan berbagai potongan bukti yang semuanya mengarah kepada Korea Utara", kata kementerian pertahanan dalam satu pernyataan pers.
Ketiga kendaraan udara tak berawak - dengan panjang sekitar satu meter (tiga kaki), lebar dua meter dan dicat biru pucat - itu dilengkapi dengan kamera. Chip memori mereka berisi gambar-gambar wilayah perbatasan dan ibu kota Seoul, termasuk istana kepresidenan, meskipun berkualitas rendah, kata kementerian itu.
Bagian-bagian penyusunnya pesawat tersebut dari berbagai negara, termasuk Korea Selatan, Amerika Serikat, Jepang dan Tiongkok, yang semuanya secara luas bisa didapat. Namun, setiap nomor seri telah "sengaja dihapus," kata kementerian itu dan menambahkan, para ahli forensik AS akan membantu dengan analisis lebih lanjut atas pesawat tak berawak tersebut.
Mulai Latihan MiliterDi saat bersamaan, Korsel dan AS hari Jumat (11/4) memulai pelatihan gabungan angkatan udara pada saat ketegangan militer meningkat dengan Korea Utara. Pelatihan militer "Max Thunder" yang diselenggarakan dua kali setahun itu akan berlangsung sampai 25 April dan melibatkan 103 pesawat tempur dan 1.400 personil,kata juru bicara angkatan udara Korsel.
"Dalam hal jumlah, itu adalah pelatihan terbesar jenis itu yang kami lakukan," kata juru bicara itu kepada AFP. Pelatihan Max Thunder lalu diselenggarakan Oktober-November tahun lalu melibatkan 97 pesawat tempur dan 1.000 tentara. Pesawat tempur jet F-15K Seoul ikut serta bersama dengan F-16 dan F-16 Angkatan Udara AS dan pesawat FA-18 dan EA-8 Marinir AS.
Pelatihan gabungan angkatan udara kedua negara itu akan memperkuat kesiapan tempur dalam situasi sekarang ketika ketegangan meningkat di semenanjung Korea," kata satu pernyataan Angkatan Udara Korsel. Pelatihan itu akan dipusatkan pada "skenario-skenario praktis" yang melibatkan serangan-serangan yang tepat pada posisi-posisi musuh dan missi pengiriman pasokan untuk tentara yang menyusu ke dalam daerah musuh. Pelatihan itu diselenggarakan saat sekutu mengakhiri pelatihan-pelatihan militer tahunan yang dimulai Februari lalu, dan dikecam Pyongyang sebagai persiapan-persiapan invasi.
Dalam satu protes yang ditujukan pada pelatihan-pelatihan itu Pyongyan melakukan sejumlah peluncuran roket dan rudal, diakhiri dengan pelatihan rudal jangkauan menengahnya yang pertama sejak Maret 2009 pada 26 Maret.
Kedua Korea juga saling melepaskan tembakan artileri di lintas perbatasan-perbatasan Laut Kuning yang dipertikaikan pada 31 Maret, setelah Korut menjatuhkan sekitar 100 peluru di seluruh perbatasan maritim dalam satu pelatihan yang menggunakan euru tajam,
Baku tembak itu terjadi setelah satu peringatan Korut bahwa pihaknya mungkin akan melakukan satu uji coba nuklir baru "baru"-- mungkin mengacu pada bom berasal dari uranium atau hulu ledak kecil cukup kuat bagi satu rudal balistik.
(BBC/Ant/AFP/ r)Simak berita selengkapnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB) edisi 12 April 2014. Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap pukul 13.00 WIB.