Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 15 Februari 2026

Wakil Kepala Sekolah SMA Danwon Bunuh Diri

* Kapten Kapal Terancam Penjara Seumur Hidup, * KBRI Seoul: Tidak Ada WNI di Kapal Feri Korsel
- Minggu, 20 April 2014 23:45 WIB
1.341 view
Wakil Kepala Sekolah SMA Danwon Bunuh Diri
SIB/int
Seoul (SIB)- Musibah tenggelamnya kapal feri Korea Selatan (Korsel) menimbulkan duka mendalam bagi para keluarga korban. Bahkan wakil kepala sekolah SMA Danwon ditemukan tewas gantung diri. Pria tersebut merasa bersalah atas hilangnya ratusan pelajar sekolah, yang merupakan muridnya, dalam insiden tersebut. Kang Min Kyu ditemukan gantung diri pada Jumat, 18 April waktu setempat di atas sebatang pohon dekat gedung olahraga di Pulau Jindo, tempat para anggota keluarga penumpang kapal feri berkumpul menanti kabar tentang orang-orang terkasih mereka. Pria berumur 52 tahun itulah yang memimpin rombongan pelajar di kapal tersebut. Dia merupakan salah satu dari 174 penumpang yang berhasil selamat dalam musibah tenggelamnya kapal bernama Sewol tersebut.

Kang meninggalkan pesan bunuh diri. Dalam pesannya, Kang mengungkapkan dirinya merasa bersalah karena telah selamat sementara murid-muridnya tidak. Pria itu mengaku ingin bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi karena dirinya merupakan pemimpin rombongan. "Sebagai orang yang bertanggung jawab atas keselamatan para pelajar, dia menderita akibat perasaan bersalah yang serius," ujar seorang guru seperti dilansir kantor berita Reuters, Sabtu (19/4). "Para keluarga korban meluapkan kemarahan mereka padanya dan hatinya hancur," imbuhnya.

Dalam pesan terakhirnya, Kang juga meminta agar jasadnya dikremasi dan abunya disebarkan di tempat tenggelamnya kapal feri tersebut.

Kapten Kapal Terancam Penjara Seumur Hidup
Sementara itu, Lee Joon Seok, kapten kapal feri yang tenggelam menghadapi proses hukum. Lee terancam pidana penjara seumur hidup karena dianggap menjadi penyebab tenggelamnya kapal yang menewaskan 29 orang. Dikutip CNN dari media pemerintah setempat, Sabtu (19/4), Lee disangka karena meninggalkan tanggung jawabnya dengan meninggalkan kapal, lalai, menyebabkan orang lain cedera, tidak melakukan kontak penyelamatan dengan kapal lain dan melanggar hukum kelautan.

"Lee didakwa menjadi penyebab tenggelamnya kapal Sewol karena tidak memperlambat kecepatan saat berlayar di rute sempit," kata jaksa Lee Bong-Chang seperti ditulis Yonhap. Selain itu Lee dianggap tidak menjalankan prosedur benar untuk memandu penumpang menyelamatkan diri sehingga menyebabkan para penumpang meninggal atau terluka.

Bila terbukti bersalah, Lee akan menjalani hukuman penjara minimal 5 tahun hingga seumur hidup. Jae-Eok Park, jaksa dari Korsel mengatakan Lee tidak berada di ruang kemudi ketika kapal mulai tenggelam. "Tidak jelas dimana dia ketika kecelakaan itu terjadi," ujarnya.

Pengacara hukum maritim Jack Hickey menyebut kapten kapal Sewol bisa dikenakan pasal percobaan pembunuhan. Alasannya Joon Seok melanggar aturan berlayar. "Hampir semua hukum, aturan dan regulasi di seluruh dunia mengatakan kapten harus tinggal di kapal sampai semua personil dipastikan aman dan tentunya para penumpang," ujarnya.

KBRI Seoul: Tidak Ada WNI di Kapal Feri Korsel
Pejabat Konsuler KBRI di Seoul, Didik Eko Pujianto, mengatakan tidak ada satu pun WNI yang berada di dalam kapal Feri Sewol, Korea Selatan yang tenggelam pada Rabu (16/4). Menurut Didik, ada tiga warga negara asing, namun bukan berasal dari Indonesia.

Demikian ungkap Didik melalui pesan pendek kepada VIVAnews pada Jumat (18/4). Didik menyampaikan hingga saat ini berdasarkan informasi yang dia terima dari polisi Korsel, sebanyak 175 orang berhasil diselamatkan. "Sementara yang dinyatakan tewas sebanyak 25 orang. Ada dua warga negara Tiongkok dan satu warga Rusia," kata Didik.

Jumlah korban yang dinyatakan hilang, lanjut Didik, berjumlah 285 orang. Didik mengatakan proses pencarian hingga saat ini masih terus dilakukan. "Namun, mereka mengalami kesulitan melakukan penyelamatan karena kapal sudah tenggelam dan kemungkinan penumpang untuk selamat kecil,"  imbuh Didik. Sebab, air di lokasi kapal tenggelam keruh, cuaca dingin dan arus cukup deras. Para penumpang sudah terjebak di dalam kapal feri itu selama 48 jam sejak Rabu kemarin.

Sementara itu, laporan kantor berita BBC yang mengutip pernyataan korban selamat, menyebut adanya kritikan terhadap proses evakuasi para penumpang. Hal itu lantaran para petugas penyelamat malah meminta mereka untuk tetap diam, padahal kapal feri sudah dalam keadaan miring dan bermasalah.

"Proses penyelamatan tidak berjalan dengan baik. Kami sudah mengenakan jaket pelampung dan kami memiliki waktu. Sayangnya, kami malah diminta untuk menunggu," ujar Koo Bon-hee yang tengah dirawat di RS di Mokpo. Bon-hee tidak mengalami luka parah. Menurut dia, para penumpang bisa saja melompat ke air dan diselamatkan, mereka malah diminta untuk tidak keluar kapal. Banyak penumpang yang terjebak, karena jendela kapal feri yang sangat sulit untuk dipecahkan. Apabila para penumpang boleh melompat, kata Bon-hee, tentu jumlah korban tidak akan sebanyak ini.

Paus Fransiskus Ikut Berbelasungkawa
Ratusan orang belum ditemukan menyusul tenggelamnya kapal feri Korea Selatan (Korsel). Paus Fransiskus pun menyampaikan belasungkawa kepada para korban musibah kapal feri tersebut. Pemimpin umat Katolik dunia itu juga mengajak semua orang untuk mendoakan para korban dan keluarga mereka.
"Mari bergabung dengan saya dalam mendoakan para korban musibah feri di Korea dan keluarga mereka," kata Paus dalam pesannya yang diposting lewat akun Twitter-nya seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (19/4). Paus Fransiskus dijadwalkan untuk melakukan lawatan selama lima hari ke Korsel pada Agustus mendatang. Dia akan menjadi Paus pertama yang berkunjung ke Asia sejak mendiang Paus Yohanes Paulus II.

Para penyelam Korsel saat ini terus melakukan pencarian untuk menemukan lebih dari 270 orang yang hilang setelah kapal feri Korsel terbalik di perairan Korsel. Sejauh ini, 29 orang telah ditemukan tewas dalam musibah kapal feri tersebut. Sebanyak 174 orang berhasil selamat.

Kapal feri yang biasa mengantarkan penumpang ke resor Pulau Jeju ini membawa total 477 orang saat kejadian pada Rabu (16/4). Dari jumlah tersebut, sebagian besar atau sebanyak 375 penumpang merupakan pelajar sekolah menengah yang hendak berwisata ke Pulau Jeju. Mereka didampingi oleh 14 guru. Sisanya merupakan penumpang lain dan awak kapal. (Rtr/CNN/vvn/dtc/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru