Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 11 April 2026

Ukraina dan Rusia: Dipersatukan Agama, Dipecah Politik

* Baku Tembak di Ukraina Timur Tewas 4 Orang
- Senin, 21 April 2014 11:49 WIB
488 view
 Ukraina dan Rusia: Dipersatukan Agama, Dipecah Politik
Moskow (SIB)- Sejak permulaan, imam memainkan peran dalam  demonstrasi-demonstrasi di Kyiv dan bagian-bagian lain Ukraina, seperti dikemukakan oleh  Profesor  Andrei  Zubob,  seorang ahli sejarah agama. "Para rohaniawan dari kelompok-kelompok yang berbeda -- Ortodoks, Unitarian, Katolik Yunani -- semuanya bersama," ujarnya.

Sementara  pemimpin-pemimpin gereja dari semua aliran agama di Ukraina tampak mendukung  kepemimpinan  politik baru di Kyiv, tetapi imam Rusia bungkam sehubungan peristiwa-peristiwa yang akhir-akhir ini berkembang di sana.

"Kita belum mendengar Gereja Ortodoks Rusia mengambil sikap dalam situasi di Ukraina. Mereka bahkan tidak menyerukan gencatan senjata selama Paskah," ujar Alexander Soldatov, seorang jurnalis Rusia yang meliput soal agama.

Konflik yang  terjadi sekarang di Ukraina mungkin akan menyebabkan perpecahan antara Gereja Ortodoks Rusia dan cabang-cabangnya di Ukraina. Gereja Ortodoks Rusia, yang mempunyai hubungan erat dengan Pemerintah Rusia  tidak memberikan komentar mengenai laporan ini.

"Kalau mereka memberikan dukungan kepada Presiden Putin, rekan-rekan mereka  di Ukraina  bisa marah. Kalau mereka mendukung Ukraina, hal itu akan menimbulkan masalah besar dengan  pemerintah Rusia," ujar Profesor Zubov.

Kurang lebih 40 persen penganut Ortodok di Ukraina adalah jemaat Ortodoks Rusia. Zubov dan Soldatov mengatakan, pemimpin Gereja Ortodoks Rusia Kirill berselisih dengan Presiden Putin mengenai konflik itu.  Sebagai bukti, mereka mengacu pada absennya Kirill dalam pidato Presiden Putin pada 18 Maret mengenai Krimea di Kremlin. Tetapi rohaniawan Gereja Ortodoks Ukraina Yakov Krotov menepis anggapan itu.

 "Secara  resmi, gereja mutlak berada di belakang Putin dan desas-desus mengenai  Pemimpin Ortodoks Rusia, Kirill, hanya kabar angin," ujarnya. Krotov mengatakan Kirill tidak mau berselisih dengan pemerintah Rusia maupun dengan pihak gereja Ortodoks di Ukraina, dan menyebut sikapnya yang diam “tidak bermakna apa-apa”.

Soldatov juga mengemukakan, imam-imam aktif  dalam demontsrasi di Kyiv, tetapi  mereka tidak tampak di manapun dalam demonstrasi pro-Rusia di Ukraina timur. "Meskipun  banyak rokhaniawan dari semua aliran hadir di Lapangan Maidan, Kyiv. Tidak ada yang berdiri di barikade yang mengelilingi gedung-gedung pemerintah di Luhansk dan Donetsk," ujarnya.

Bagi umat Ortodoks Rusia maupun Ukraina, Hari Paskah adalah hari keagamaan yang paling penting. Banyak  umat sudah pasti berdoa agar Ukraina dan Rusia  bisa menghindari peningkatan dari konflik yang sedang berlangsung.

Tewaskan 4 Orang

Empat orang dilaporkan tewas dalam baku tembak di Ukraina timur yang bergolak, mengganggu gencatan senjata Paskah di bekas republik Sovyet itu, Minggu (20/4). Tiga anggota milisi pro-Rusia dan seorang penyerang tewas dalam baku tembak di satu penghadang jalan dekat kota Slavyansk, yang dikuasai kelompok separatis, kata pemimpin lokal Vyatcheslav Ponomarev.

Identitas para penyerang tidak diketahui. Pemerintah sementara Kiev telah berjanji akan menghentikan operasi militer untuk mengusir pemberontak sampai berakhirnya liburan Paskah Ortodoks Senin. Seorang anggota milisi pro-Rusia di lokasi itu mengemukakan kepada AFP bahwa 20 penyerang yang mengendarai empat mobil melepaskan tembakan ke pos pemberontak.

Aksi kekerasan itu terjadi saat Amerika Serikat mendesak Rusia membujuk pemberontak pro-Kremlin melaksanakan perjanjian internasional yang menyerukan mereka menyerahkan senjata-senjata mereka dan meninggalkan gedung-gedung publik yang mereka duduki.

Amerika Serikat juga dilaporkan meningkatkan kekuatan militernya dalam satu peringatan kepada Rusia yang menggelarkan puluhan ribu tentara di perbatasan Ukraina. Surat kabar The Washington Post mengatakan, Amerika Serikat akan mengirim pasukan darat ke Polandia dan kemungkinan negara-negara Baltik untuk memperluas kehadiran NATO di Eropa Timur itu.

Menteri Pertahanan Polandia, Tomasz Siemoniak, dalam satu pernyataan yang dikutip media mengatakan Polandia, yang anggota NATO akan memainkan peran penting dalam operasi itu.

Washington memperingatkan Moskow bahwa Ukraina berbeda dalam satu "periode sunbu yang berputar" sementara pemberontak pro-Rusia menolak menaati perjanjian Jenewa yang dicapai Kamis, oleh Rusia, Amerika Serikat, Ukraina dan Uni Eropa untuk melucuti senjata. Menlu AS John Kerry mengemukakan kepada Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, pelaksanaan penuh dan segera dipenuhi" diperlukan dalam beberapa hari ke depan. (VoA/Ant/AFP/f)

Simak berita selengkapnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB) edisi 21 April 2014. Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap pukul 13.00 WIB.

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru