Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 15 Februari 2026

Kapal Feri Korsel Tenggelam, Korut Tidak Sampaikan Simpati

* 4 Awak Kapal Feri Sewol Kembali Ditahan, * Korban Tewas Mencapai 64 Orang
- Selasa, 22 April 2014 18:32 WIB
838 view
Kapal Feri Korsel Tenggelam, Korut Tidak Sampaikan Simpati
AP Photo/Lee Jin-man
Keluarga korban tenggelamnya kapal feri Sewol terus mengikuti perkembangan berita akan nasib penumpang di slah satu gedung olahraga di Jindo, Senin (21/4/2014). Walau korban tewas telah mencapai 64 orang dan dunia mengungkapkan belasungkawa, pemerintah Ko
Pyongyang (SIB)- Insiden besar tengah melanda Korea Selatan hingga mengundang simpati dan ucapan belasungkawa dari seluruh dunia. Namun ada satu negara tetangga yang tetap tak peduli dan cuek dengan musibah yang dialami Korsel, yakni Korea Utara.

Sama sekali tak ada simpati dari Korut terhadap Korsel atas insiden tenggelamnya kapal feri Sewol. Otoritas Korut juga tak mengeluarkan komentar sedikitpun atas tragedi, yang dalam beberapa hari terakhir mendominasi pemberitaan media massa secara global. Demikian seperti dilansir AFP, Senin (21/4/2014).

Sekitar 45 kepala negara telah mengirimkan pesan belasungkawa kepada Korsel, termasuk Presiden Amerika Serikat Barack Obama, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping. Namun tak ada sepatah kata pun dari pemimpin Korut Kim Jong Un.

Media Korut, Korean Central News Agency (KCNA) malah melaporkan aktivitas Kim Jong Un yang sedang menikmati penampilan band wanita terkenal bernama Moranbong Band pada Rabu (16/4) malam. Berita soal insiden kapal feri Korsel hanya sempat dibahas sedikit dalam siaran berita KCNA pada Sabtu (19/4) kemarin. Hanya disebutkan bahwa insiden tersebut menewaskan banyak orang.

KCNA mengutip media Korsel yang menyoroti kemarahan keluarga korban terhadap operasi penyelamatan dan pencarian korban kapal tenggelam. Satu-satunya komentar disampaikan KCNA dalam siaran tersebut dengan menyarankan pemerintah Korsel untuk menanggung penderitaan dan kemarahan keluarga korban.

Selama ini, Korsel dan Korut secara teknis bagaikan tengah berperang. Beberapa insiden, seperti uji coba rudal oleh Korut semakin memperparah ketegangan kedua negara. Ketika ayah Kim Jong Un, Kim Jong Il meninggal dunia pada Desember 2011 lalu, pemerintah Korsel menyampaikan bela sungkawa secara resmi kepada Korut.

Sikap Korut yang cuek terhadap tragedi kapal feri Korsel ini telah memicu kemarahan publik Korsel secara online. "Kami tidak mengharapkan dukungan apapun dari orang buruk seperti kalian, tapi setidaknya kalian bisa menyampaikan beberapa kata menenangkan," tulis seorang pengguna internet Korsel pada situs naver.com. "Seluruh dunia menyampaikan belasungkawa kepada korban, tapi apa yang dilakukan Korut...sungguh sangat tercela. Jadilah manusia!" tulis seorang pengguna internet lainnya.

Jaksa yang menangani insiden tenggelamnya kapal feri Sweol terus mengembangkan penyelidikan. Empat awak kapal lainnya ditahan aparat kepolisian setempat. Tiga awak kapal dan seorang teknisi yang ada di atas kapal feri Sewol ketika insiden terjadi telah digelandang ke kantor polisi. Penahanan tersebut menyusul penahanan kapten kapal Lee Joon Seok dan dua awak kapal lainnya pada akhir pekan kemarin.

Tidak disebutkan lebih lanjut identitas keempat awak kapal yang ditahan tersebut. Namun menurut jaksa yang enggan disebut namanya, keempat awak kapal ini dikenai dakwaan yang sama seperti yang dijeratkan kepada kapten Lee dan dua anak buahnya.

Seperti diketahui, kapten Lee ditangkap pada Sabtu (19/4) kemarin, bersama seorang anak buahnya yang bertanggung jawab atas kemudi kapal dan seorang awak kapal lain yang tak berpengalaman, yang diketahui memegang kendali kapal saat insiden terjadi.

Ketiganya dijerat banyak dakwaan, mulai dari meninggalkan tanggung jawabnya dengan meninggalkan kapal, lalai, menyebabkan orang lain cedera, tidak melakukan kontak penyelamatan dengan kapal lain dan melanggar hukum kelautan. Dakwaan tersebut memberikan ancaman hukuman penjara minimal 5 tahun hingga seumur hidup.

Kapten Lee dan sejumlah anak buahnya kedapatan meninggalkan kapal terlebih dahulu dan meninggalkan ratusan penumpang yang masih terjebak di dalam kapal. Hingga kini, sebanyak 64 orang ditemukan tewas dan sebanyak 238 orang masih hilang. Sementara, 174 orang yang selamat.

Tindakan kapten dan awak kapal itu dikecam Presiden Park Geun-Hye dengan menyebut tindakan perilaku itu tak bisa diterima dan "sama saja dengan pembunuhan". "Tindakan kapten dan beberapa awak kapal benar-benar tak bisa dimengerti, tak bisa diterima dan sama saja dengan pembunuhan," cetus Park saat bertemu para pejabat Korsel. "Bukan cuma hati saya, tapi juga hati seluruh warga Korsel telah hancur dan dipenuhi kemarahan dan keterkejutan," tutur Park.

Dikatakan Park, Kapten Lee Joon-Seok telah menunda evakuasi para penumpang saat kapal feri mulai miring. Dia bahkan kabur lebih dulu untuk menyelamatkan diri, meninggalkan para penumpang yang masih berada di dalam kapal.

Semakin meningkatnya jumlah korban tewas, membuat jaksa Korsel mengajukan perpanjangan masa penahanan Kapten Lee dan anak buahnya. Yang tadinya hanya akan ditahan selama 10 hari seiring penyelidikan dilakukan, jaksa menginginkan para tersangka ditahan hingga 30 hari lagi demi mencari dugaan kelalaian lainnya.

Dimakamkan
Wakil Kepala Sekolah Danwon High School, Kang Min Kyu, bunuh diri terkait musibah tenggelamnya kapal feri Sewol. Pemakaman pria berumur 52 tahun itu digelar hari Senin (21/4). Kang ditemukan tewas gantung diri di sebuah pohon di kota Jindo, hanya dua hari setelah dirinya berhasil selamat dari musibah tenggelamnya kapal Sewol.

Pria itu meninggalkan pesan bunuh diri, yang isinya dia merasa bersalah karena berhasil selamat sementara banyak muridnya hingga kini belum ditemukan. Pada Senin pukul 04.30 waktu setempat, peti jenazah Kang dibawa meninggalkan rumah duka untuk dimakamkan. Tampak keluarga Kang dan ratusan orang lainnya mengiringi di belakang.

Kapal feri seberat 6.825 ton yang membawa total 476 orang tersebut tenggelam pada Rabu (16/4) pagi. Dari jumlah tersebut, lebih dari 300 orang merupakan siswa SMA Danwon di Ansan, yang hendak berwisata ke Pulau Jeju dengan didampingi sejumlah guru mereka.

Dalam pesan bunuh dirinya, Kang mengungkapkan bahwa perjalanan wisata tersebut adalah idenya dan dia merasa bersalah atas kematian para siswa. Dikatakannya, dirinya tak bisa hidup jika tidak mengetahui di mana para muridnya yang hilang tersebut.

"Sebagai orang yang bertanggung jawab atas keselamatan para murid, dia menderita karena perasaan bersalah," tutur seorang guru. Apalagi ketika sejumlah anggota keluarga korban melontarkan kemarahan mereka pada Kang, pria itu pun semakin didera rasa bersalah. (Detikcom/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru