Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 15 Februari 2026

Rusia Tuduh Barat Dalang Jatuhnya Presiden Ukraina

- Jumat, 25 April 2014 15:28 WIB
361 view
 Rusia Tuduh Barat Dalang Jatuhnya Presiden Ukraina
Moskow (SIB)- Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, Kamis (24/4), menuduh Amerika Serikat dan Uni Eropa berada di balik jatuhnya presiden pro-Kremlin, Viktor Yanukovich, di Ukraina pada Februari 2014. "Di Ukraina, AS dan Uni Eropa telah melakukan operasi tidak konstitusional dengan cara mendongkel rezim," kata Lavrov sebagaimana dikutip kantor berita Interfax.

Ucapan Lavrov itu disampaikan dengan mengacu pada peristiwa Revolusi Oranye di Ukraina pada 2004 dan 2005. Revolusi itu berlangsung setelah pemilihan umum di negeri itu berlangsung dengan terpilihnya para pemimpin pro-Kremlin. Pada kesempatan tersebut, Lavrov juga meminta kepada dunia internasional agar memecahkan krisis Ukraina dengan menerapkan langkah-langkah praktis. Namun demikian dia tidak menerangkan detail langkah yang diambil.

Rusia, Ukraina, AS, dan Uni Eropa telah menandatangani kesepakatan di Jenewa pekan lalu yang berisi tentang pemecahan kembali memburuknya hubungan Rusia dengan Barat sejak berakhirnya Perang Dingin. "Rusia berharap kesepakatan Jenewa bisa segera diimplementasikan dalam waktu dekat," tulis Reuters, mengutip perkataan Lavrov.

Associated Press dalam laporannya menyebutkan Menteri Dalam Negeri Ukraina Arsen Avakov mengatakan kepolisian telah membersihkan balai kota di sebelah timur laut kota pro-Rusia yang telah diduduki para demonstran selama sepekan. Demonstran pro-Rusia dan sejumlah pria bersenjata dengan tutup muka telah menduduki sejumlah gedung pemerintahan di sebelah timur Ukraina selama kurang-lebih dua minggu.

Terkait pasokan gas Rusia ke Eropa, Moskow menawarkan diri untuk menyelenggarakan pembicaraan segi tiga dengan Uni Eropa (EU) dan Ukraina. Rusia menyampaikan tawaran itu kepada Komisioner Energi Uni Eropa Guenther Oettinger, demikian dilaporkan kantor berita Interfax yang mengutip juru bicara kementerian energi Rusia, lapor AFP. "Tapi kita siap membahas proposal dari mitra-mitra kita pada saat pertemuan tersebut," kata juru bicara.

Ketika ditanya soal 28 April, Komisi Eropa mengatakan di Brussel bahwa pihaknya tidak bisa memastikan tanggal. Tawaran menjadi tuan rumah pertemuan segi tiga itu muncul setelah Presiden Rusia Vladimir Putin pada 10 April mengirimkan surat kepada 18 negara Uni Eropa.

Surat itu berisi desakan bagi diadakannya pembicaraan sesegera mungkin dan memperingatkan bahwa Moskow bisa saja menghentikan pasokan gasnya ke Ukraina kecuali Eropa membantu negara itu membayar tagihan energinya yang mencapai 2,2 miliar dolar AS.

Uni Eropa pekan lalu menerima tawaran untuk berunding dan memperingatkan Moskow bahwa posisinya sebagai sumber energi sedang dipertaruhkan. Putin pekan lalu memberi tenggat waktu satu bulan kepada Ukraina untuk menyelesaikan utang tagihan gas serta memperingatkan bahwa setelah periode ini Moskow akan menuntut pembayaran di muka dari Kiev untuk mendapatkan pasokan gas. Menurut data EU, pipa-pipa Ukraina mengalirkan 65 miliar dari 133 miliar meter kubik gas yang digunakan setiap tahunnya oleh 28 negara anggota Uni Eropa.

Komisi Eropa juga mengatakan Oettinger akan bertemu dengan mitra-mitranya dari Ukraina dan Slovakia di Bratislava, Kamis, untuk menyelesaikan perjanjian menyangkut pasukan gas Eropa ke Kiev, yang berarti menurunkan ketergantungan terhadap pasokan dari Rusia.

Oettinger mengatakan pengaturan seperti itu bisa memungkinkan penyediaan gas bagi Ukraina hingga 8 miliar meter kubik melalui Slovakia pada akhir tahun. Gas juga bisa diperoleh melalui jaringan-jaringan pipas gas dari Polandia dan Hungaria.  (Ant/AFP/d)

Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru