Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 02 Maret 2026
Krisis di Ukraina Melebar

Putin Tuduh Internet Proyek CIA, Rusia Dituduh Ingin Memulai PD III

- Sabtu, 26 April 2014 14:11 WIB
360 view
 Putin Tuduh Internet Proyek CIA, Rusia Dituduh Ingin Memulai PD III
Moskow (SIB)- Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut internet sebagai proyek Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) yang sampai sekarang masih dikendalikan oleh Amerika. Dalam forum media di kota St Petersburg, Kamis (24/4), Putin mengatakan bahwa sejak awal internet dikembangkan oleh badan mata-mata Amerika dan sekarang masih dikendalikan oleh Amerika.

"Itulah hidup. Begitulah awalnya dikembangkan oleh Amerika. Semua ini dimulai sejak lahirnya internet sebagai proyek khusus CIA. Dan ini terus berkembang," kata Putin dalam pernyataan yang disiarkan televisi Rusia.

Putin mengatakan Rusia perlu menolak hal yang disebutnya sebagai monopoli internet oleh Amerika Serikat dengan jalan memperjuangkan kepentingan Rusia di dunia maya. Menurutnya, terkuaknya skala mata-mata internet oleh Amerika yang dibeberkan pembocor rahasia, Edward Snowden, menunjukkan bahwa AS terlibat dalam konfrontasi informasi. Para wartawan mengatakan pemerintah Rusia ingin sekali memperketat kendali atas internet yang telah digunakan oleh kubu oposisi untuk menggalang dukungan.

Tudingan miring juga dilontarkan pejabat tinggi Rusia lainnya. Adalah Menlu Sergey Lavrov yang menuding Barat berencana menguasai Ukraina dan mengatakan aktivis pro-Rusia di tenggara Ukraina akan meletakkan senjata jika pemerintah Ukraina membubarkan kamp protes Maidan di ibukota Kiev. “Barat ingin menguasai Ukraina karena ambisi politik bukan demi kepentingan rakyat Ukraina,” ungkap Lavrov.

Rusia dan Ukraina mencapai kesepakatan di Jenewa pekan lalu yang menyerukan semua pihak meletakkan senjata dan segera meninggalkan gedung-gedung pemerintah yang dikuasai. Milisi pro-Rusia menduduki gedung-gedung pemerintah di lebih 10 kota di timur Ukraina sementara pergerakan nasional Right Sector masih menguasai dua gedung publik di Kiev. Barat menuduh Rusia memicu kerusuhan di timur Ukraina dan tidak menggunakan pengaruhnya kepada milisi pro-Rusia.

Lavrov juga mengatakan pemerintah sementara Kiev akan menghadapi keadilan atas kejahatan berdarah di Ukraina timur dan menuduh Washington mendistorsi kesepakatan untuk meredakan krisis itu. "Mereka (Kiev) menyatakan perang terhadap rakyat mereka sendiri. Itu kejahatan berdarah dan mereka yang mendorong tentara untuk melakukan hal itu akan membayarnya, saya yakin, dan akan menghadapi keadilan," kata Lavrov dalam pertemuan dengan diplomat muda di Moskow.

Ia mengatakan Moskow berkomitmen untuk melaksanakan kesepakatan internasional yang dibuat di Jenewa antara Ukraina, Rusia, Amerika Serikat dan Uni Eropa untuk menurunkan ketegangan di Ukraina namun ia menuding Washington telah memutarbalikkan kesepakatan itu.

"Rusia akan berkontribusi pada upaya meredakan konflik berdasar pendekatan kompromi yang telah disepakati di Jenewa. Tidak ada permintaan sepihak. Dan kami tengah dihadapkan dengan mereka --saya maksudkan oleh Amerika Serikat yang mempunyai kemampuan untuk mengubah segalanya," katanya. Ia juga mengkritik pernyataan Menlu AS John Kerry yang mengatakan bahwa Washington hampir sampai pada pelaksanaan sanksi terhadap Rusia atas krisis Ukraina.

Ingin Memulai PD III

PM Ukraina Arseniy Yatsenyuk, Jumat (25/4), menuduh Rusia ingin memulai perang dunia ketiga dengan menyerang negaranya. Karena itu,  Yatsenyuk meminta bantuan internasional untuk melawan agresi Rusia. "Upaya agresif militer Rusia di Ukraina akan menimbulkan konflik di Eropa," katanya dalam sidang kabinet yang disiarkan televisi.

Dukungan Rusia terhadap para teroris di Ukraina merupakan kejahatan internasional dan kami menyerukan kepada masyarakat internasional untuk bersatu melawan agresi Rusia. Pemerintah Kiev yang didukung Barat berkeyakinan Moskwo sedang memicu pemberontakan separatis di Ukraina timur.

Rusia pada Kamis mengumumkan, pihaknya meluncurkan latihan militer baru di perbatasan dengan Ukraina dalam menanggapi operasi anti-teroris Kiev yang bertujuan melawan para pemberontak pro-Kremlin. Menurut NATO, sekitar 40.000 tentara Rusia telah berkumpul di perbatasan. NATO juga mengatakan bahwa pasukan itu tampaknya berada dalam kondisi siap menyerang.

Sementara Sekjen PBB Ban Ki -moon memperingatkan bahwa krisis di Ukraina terancam lepas kendali dan mendesak semua pihak untuk menahan diri melakukan aksi kekerasan. "Sekjen sangat prihatin tentang berlanjutnya kekerasan di timur Ukraina, yang telah menyebabkan hilangnya nyawa, berlanjutnya ketidakstabilan dan yang berkontribusi terhadap terciptanya iklim ketakutan dan kecemasan," kata Ban dalam sebuah pernyataan.

"Taruhannya sekarang begitu tinggi, sekretaris jenderal serius prihatin bahwa situasi dengan cepat bisa lepas kendali dan menyebabkan konsekuensi yang tidak bisa kita prediksi. Aksi militer harus dihindari dengan semua cara," kata Ban seraya mendesak semua pihak segera menahan diri dari melakukan aksi kekerasan, intimidasi atau tindakan provokatif. (AP/R15/Ant/Rtr/ r)

Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru