Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 15 Februari 2026

AS Peringatkan Munculnya Teroris Generasi Baru

- Sabtu, 03 Mei 2014 17:56 WIB
432 view
AS Peringatkan Munculnya Teroris Generasi Baru
AS (SIB)- Pemerintah Amerika Serikat memperingatkan ancaman teror global mulai berkembang lagi. Hal itu disebabkan kelompok yang terkait dengan jaringan Al-Qaeda dan militan lainnya semakin tinggi melakukan tindak kekerasan. Dilansir dari stasiun berita Channel News Asia, Kamis (1/5), satu laporan yang dirilis oleh Departemen Luar Negeri AS tahun 2013 menyebut tindak teror di suatu negara, peningkatannya signifikan menjadi 9.700 kejadian.
Angka ini lebih tinggi 43 persen dibandingkan tahun 2012 yang berjumlah 6.700 kejadian. Berdasarkan data itu pula, terdapat peningkatan jumlah orang yang tewas di tahun 2013 yakni, 17.800 orang. Di tahun 2012 ada 11 ribu yang tewas. Namun, pejabat tinggi Deplu AS menggarisbawahi sebagian besar serangan di tahun 2013 lebih kecil dan skalanya hanya lokal.

Upaya komisi penanganan teror AS untuk melawan kelompok militan Al-Qaeda, berhasil menurunkan kualitas kepemimpinan mereka. Kendati begitu, dalam laporan tahun 2013 itu terlihat tingkat kenaikan yang agresif dan kelompok di Timur Tengah dan Afrika yang berafiliasi dengan Al-Qaeda.

Kepemimpinan Al-Qaeda pun kini juga harus berjuang untuk bisa mempertahankan disiplin dengan jaringan Al-Qaeda serta berkomunikasi mengenai prinsip-prinsip mereka kepada kelompok yang berafiliasi.

Menurut Koordinator Penanganan Tindak Teror, Tina Kaidanow, perintah dari pemimpin Al-Qaeda, Ayman al-Zawahiri, untuk meminimalisasi dampak kerugian di dalam sebuah kelompok kerap tak dipatuhi. "Salah satunya saat terjadi tindak kekerasan oleh Kelompok Al Shabaab yang dilakukan di sebuah pusat perbelanjaan yang sibuk di Nairobi pada September lalu," kata dia.

Penculikan Jadi Alternatif
Penurunan kepemimpinan Al-Qaeda juga terasa dalam pendanaan aktivitas teror mereka. Akibatnya, mereka rela melakukan apa pun untuk mencari alternatif sumber pendanaan, termasuk melakukan aksi penculikan. "Penculikan untuk meminta tebusan tetap menjadi yang paling sering dilakukan dan memberikan keuntungan dari pendanaan yang tidak legal," ujar Kaidanow.

Menurut laporan Deplu, beberapa negara seperti Kuba, Iran, Suriah dan Sudan tetap tercatat di dalam daftar sebagai penggalang dana aksi terorisme. Walaupun ada sebuah laporan yang menyebut tidak ada indikasi Havana menyediakan senjata atau pelatihan militer kepada kelompok teror itu.

Beberapa negara di Afrika tahun 2013 menghadapi aktivitas tindak teror cukup tinggi. Salah satunya dilakukan oleh kelompok asal Somalia, Al-Shabaab.
Sementara kelompok Boko Haram tetap menjadi kekhawatiran yang serius. Pada dua pekan lalu, mereka menculik beberapa pelajar perempuan dari sekolahnya yang berlokasi di timur laut Nigeria.  "Oleh sebab itu, sangat penting bagi Pemerintah Nigeria yang mengakui bahwa penyebab ancaman itu karena pemerintah menganggap masalah ini tidak secara menyeluruh," kata Kaidanow.  Dengan lain, untuk bisa mengatasi tindak teror, tidak hanya diperlukan upaya keamanan dan militer, tetapi juga perlu adanya keterlibatan di berbagai bidang lainnya.

Kaidanow juga menyebut terungkapnya aksi penyadapan oleh mantan kontraktor NSA, Edward J. Snowden, turut berpengaruh terhadap upaya mengatasi tindak teror. "Hal itu, tentu dapat menghancurkan kemampuan kami memastikan bahwa kelompok ini tidak sedang menyasar cara kami mengumpulkan informasi intelijen," tutur dia.

Pemerintah suatu negara, ujar Kaidanow, kini juga berhati-hati karena perang sipil di Suriah telah terbukti menjadi lokasi pembibitan yang menarik banyak para pejuang asing. Mereka rata-rata berasal dari Afrika Utara, Teluk dan Benua Eropa yang berjuang bersama kelompok yang bersebrangan dengan Presiden Bashar al-Assad.

Dalam laporan Deplu AS itu, banyak pemerintahan yang kian khawatir bahwa individu-individu yang memiliki hubungan dengan kelompok ekstrimis dan memiliki pengalaman di medan perang akan kembali ke negara asal mereka untuk melakukan tindak teror. Maka, hal itu memicu adanya pembentukan sebuah generasi baru kelompok yang menebar teror secara global.  Hal serupa pernah terjadi di tahun 1980-an di Afganistan, ketika kelompok ekstremis masuk ke sana. (CNA/vvn/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru