Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 28 Februari 2026

Negara Teluk Diduga Persenjatai Pemberontak Suriah

* Suriah Serukan AS Minta Maaf Secara Resmi
- Rabu, 28 September 2016 15:50 WIB
276 view
Negara Teluk Diduga Persenjatai Pemberontak Suriah
SIB/AFP
Seorang pria Suriah menangis saat membopong mayat sepupunya yang tewas akibat serangan udara di Aleppo baru-baru ini. Negara Teluk diduga mempersenjatai pemberontak Suriah, menyusul berakhirnya gencatan senjata di negara yang dikoyak konflik bersenjata be
Damaskus (SIB)- Berakhirnya gencatan senjata dan dimulainya kembali serangkaian aksi kekerasan di Suriah sejak pekan lalu meningkatkan kemungkinan bahwa negara-negara Teluk akan mempersenjatai kelompok pemberontak Suriah dengan rudal panggul untuk mempertahankan diri dalam gempuran serangan udara pasukan Suriah yang didukung Rusia.

Pemerintah AS hingga kini masih mengupayakan perdamaian melalui jalur perundingan. Namun, perundingan terus menemui jalan buntu, utamanya setelah gempuran serangan udara yang menghantam 18 dari 31 truk bantuan yang tengah konvoi pekan lalu untuk mencapai wilayah yang terkepung di Aleppo. AS menuding Rusia berada di balik serangan itu. Pasokan medis semakin menipis di wilayah Aleppo yang dikuasai. Padahal, kian hari kian banyak korban yang dilarikan ke rumah sakit, akibat gempuran bom yang seakan tanpa henti di wilayah yang dikepung pasukan rezim Bashar al-Assad itu.

Menurut pejabat AS yang tak mau identitasnya dipublikasikan, salah satu konsekuensi dari kegagalan diplomasi adalah meningkatnya kemungkinan negara-negara Teluk Arab atau Turki meningkatkan pasokan senjata mereka ke kelompok pemberontak, termasuk di antaranya rudal panggul anti-pesawat.

Sumber itu menyatakan kepada Reuters bahwa Washington berupaya agar rudal panggung untuk sistem pertahanan udara, atau disebut juga MANPADS, tidak digunakan dalam perang Suriah. Meski demikian, aksi kekerasan yang terus menerus dikhawatirkan akan membuat negara-negara Teluk dan Turki akan mempergunakan kesempatan ini untuk menjual MANPADS ke sejumlah kelompok oposisi. "Saudi selalu berpikir bahwa cara agar Rusia mundur sama seperti konflik di Afghanistan sekitar 30 tahun lalu, yaitu dengan mengirimkan MANPADS ke para mujahidin," kata pejabat itu, dikutip dari Reuters.

Ketika ditanya apakah Amerika Serikat bersedia melakukan apa pun di luar negosiasi untuk mencoba untuk menghentikan aksi kekerasan, juru bicara Departemen Luar Negeri Mark Toner mengaku tidak mempersiapkan cara apapun, namun menegaskan bahwa Washington tak ingin ada lebih banyak senjata dalam konflik Suriah. "Itu hanya menimbulkan eskalasi ketegangan dari konflik yang sudah memburuk," ujar Toner.

Serukan AS Minta Maaf
Pemerintah Suriah menyerukan pemerintah Amerika Serikat untuk meminta maaf secara resmi atas kematian puluhan tentara Suriah dalam serangan udara.
Penasihat utama Presiden Suriah Bashar al-Assad, Bouthaina Shaaban, menyampaikan hal tersebut dalam wawancara dengan stasiun televisi al-Mayadeen yang berbasis di Libanon. Ditekankan Shaaban seperti dilansir media Press TV, Selasa (27/9), Washington telah menyampaikan permintaan maaf kepada Suriah, namun bukan secara resmi. "Kami menginginkan permintaan maaf secara publik dan kami ingin hal ini tidak terulang lagi," tutur Shaaban seraya menambahkan bahwa jiwa-jiwa telah hilang dalam serangan udara AS itu.

Pada 17 September lalu, serangan udara koalisi yang dipimpin Amerika Serikat di provinsi Dayr al-Zawr, Suriah timur menewaskan sekitar 80 tentara Suriah dan melukai ratusan orang lainnya. Mereka tewas dalam serangan udara yang dilakukan AS dan koalisi untuk memerangi kelompok radikal ISIS. Menyusul insiden itu, seorang pejabat pemerintah AS mengatakan bahwa AS telah menyampaikan penyesalan lewat Federasi Rusia atas kematian pasukan pemerintah Suriah yang tidak disengaja itu. (CNNI/presstv/dtc/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru