Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 30 Januari 2026

Jet Tempur China Sergap Pesawat Tempur AS di Laut China Timur

* AS Kerahkan Kapal Induk Kedua ke Semenanjung Korea
- Sabtu, 20 Mei 2017 19:27 WIB
827 view
Washington (SIB)- Dua jet tempur China melakukan manuver pencegatan yang dianggap tidak profesional terhadap pesawat militer Amerika Serikat. Insiden ini terjadi di wilayah udara internasional yang ada di Laut China Timur. "Isu ini sedang dibahas dengan China melalui jalur diplomatik dan militer yang semestinya," ujar juru bicara Angkatan Udara AS, Letnan Kolonel Lori Hodge, seperti dilansir Reuters, Jumat (19/5).

Insiden yang terjadi pada Kamis (18/5) waktu setempat itu melibatkan dua jet tempur China jenis SU-30 dan sebuah pesawat militer AS jenis WC-135 Constant Phoenix yang dirancang khusus untuk mendeteksi radiasi. Hodge menjelaskan, AS menentukan manuver jet tempur China itu tidak profesional dengan mendasarkan pada beberapa faktor, termasuk laporan awal personel militer yang ada di dalam pesawat WC-135 itu.

"Melihat manuver pilot China itu, juga kecepatan dan jarak kedua pesawat," sebut Hodge. "Jarak selalu menjadi patokan dalam cara kami mengkarakterisasi interaksi," imbuhnya, sembari menambahkan bahwa militer AS masih menyelidiki lebih lanjut soal interaksi tidak profesional itu.

Ditegaskan Hodge bahwa pesawat WC-135 itu sedang melakukan misi rutin dan mengudara sesuai hukum internasional. Sementara itu, China selama ini curiga soal aktivitas militer AS di kawasan Laut China Selatan.

Pada 8 Februari lalu, sebuah pesawat pengintai P-3 milik Angkatan Laut AS terbang berdekatan dengan pesawat militer China di atas Laut China Selatan. AS melihat insiden itu sebagai manuver tidak aman. Media Reuters melaporkan saat itu kedua pesawat terbang dalam jarak hanya 305 meter.

Sementara itu Angkatan Laut Amerika Serikat mengirimkan kapal induk USS Ronald Reagan ke Semenanjung Korea. Di sana, kapal pengangkut pesawat tempur itu akan berlatih bersama USS Carl Vinson yang sudah lebih dulu dikerahkan. Setelah menyelesaikan masa perawatan dan uji coba di Yokosuka, Jepang, USS Ronald Reagan berangkat ke Semenanjung Korea pada Selasa lalu.

"Selesai menjalani perawatan panjang di pelabuhan, kami harus memastikan Ronald Reagan dan bagian kelompok serbu lainnya terintegrasi dengan baik saat kami bergerak maju," kata Admiral Charles Williams dalam pernyataan pers.

Langkah ini dilakukan hanya berselang beberapa hari setelah Korea Utara menunjukkan kemajuan pesat dalam program peluru kendalinya. Negara terisolasi itu meluncurkan proyektil yang berhasil masuk kembali ke atmosfer dengan terkendali, kata dua orang pejabat yang dikutip CNN.

Setibanya di kawasan, kapal induk tersebut akan melaksanakan beragam latihan, khususnya untuk memastikan kemampuan meluncurkan dan menerima pesawat dengan aman, kata pernyataan tersebut. Kapal ini membawa 4.539 awak dan dilengkapi sekitar 60 pesawat. Pertama diterjunkan pada 2003, USS Ronald Reagan memakan biaya sebesar $8,5 milyar.

USS Carl Vinson tiba di Semenanjung Korea akhir bulan lalu, dalam rangka menunjukkan kekuatan menjelang uji coba nuklir keenam Korut yang diperkirakan akan dilakukan dalam waktu dekat. Meski hingga kini belum juga melakukan uji coba nuklir, Pyongyang telah meluncurkan peluru kendali KN-17 yang mencapai ketinggian 1.600 kilometer. Menurut Korut, itu adalah pencapaian tertinggi yang dicapainya sejauh ini. Pejabat pertahanan AS enggan berkomentar soal cara operasi dua kapal induk yang ditempatkan dekat Korut itu. Namun, pada akhirnya Reagan diperkirakan akan menggantikan Vinson, setelah masa pengerahannya berakhir.

Ketegangan meningkat dengan cepat di kawasan itu setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan sedang bersiap untuk bertindak secara unilateral terhadap Pyongyang, sementara Korut melaksanakan serangkaian latihan militer dan uji coba rudal.

Walau jenis-jenis rudal yang dimiliki Korea Utara semakin jelas terlihat, belum ada petunjuk soal perkembangan program nuklirnya. Untuk bisa mencapai tujuannya, Pyongyang mesti bisa mencapai kemajuan teknologi untuk mengurangi ukuran senjata nuklir sehingga bisa dipasangkan di rudal dan untuk melindungi hulu ledak agar tidak hancur ketika kembali memasuki atmosfer. (Detikcom/CNNI/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru