Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 28 Februari 2026

AS Minta Negara-negara Teluk Tetap Bersatu, Turki Sedih

* Iran: Putus Hubungan dengan Qatar Bukan Solusi Krisis
- Selasa, 06 Juni 2017 12:15 WIB
453 view
Washington (SIB) -Amerika Serikat (AS) meminta negara-negara Teluk Arab untuk tetap bersatu. Seruan ini disampaikan setelah Arab Saudi, Bahrain, Mesir dan Uni Emirat Arab (UAE) kompak memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar terkait terorisme. Dalam pernyataannya, seperti dilansir Reuters, Senin (5/6),
Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson dan Menteri Pertahanan AS Jim Mattis tidak mengharapkan terjadi pemutusan hubungan yang dilakukan empat negara Teluk Arab terhadap Qatar.

Keempat negara itu, yang tiga di antaranya merupakan anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), kompak menuding Qatar mendukung terorisme dan ekstremisme. Sejak lama, Qatar dianggap mendukung Ikhwanul Muslimin, pergerakan Islamis tertua di dunia, yang dianggap sebagai organisasi teroris oleh Mesir, Saudi dan UAE. Qatar juga dituding mendukung agenda-agenda Iran, yang merupakan musuh utama negara-negara Arab terutama Saudi.

Menanggapi konflik terbaru ini, Menlu AS Tillerson mendorong negara-negara Teluk Arab untuk tetap bersatu. "Kami tentu akan mendorong pihak-pihak untuk duduk bersama dan mengatasi perbedaan," ucap Tillerson di sela-sela kunjungannya ke Sydney, Australia. Tillerson tengah menghadiri pertemuan antara Menlu dan Menhan AS-Australia. "Jika ada peran yang bisa kami mainkan demi membantu mereka mengatasi perbedaan, kami pikir menjadi penting agar GCC tetap bersatu," imbuhnya.

Di sisi lain, Qatar sendiri merupakan anggota koalisi pimpinan AS dalam melawan kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). AS menyebut pemutusan hubungan itu tidak akan mempengaruhi pertempuran melawan terorisme. "Saya memperkirakan hal ini (pemutusan hubungan) tidak akan berdampak signifikan, jika memang ada dampak kecil, pada pertempuran melawan terorisme di kawasan ataupun secara global," sebut Tillerson.

Kawasan Teluk Arab memainkan peranan penting bagi militer AS dalam pertempuran melawan ISIS. Bahrain menjadi 'rumah' bagi pasukan Armada Kelima Angkatan Laut AS yang berpatroli di perairan Timur Tengah dan Asia Tengah. Sedangkan Qatar menjadi 'rumah' bagi pangkalan udara Al-Udeid yang menjadi pangkalan jet tempur AS melancarkan serangan terhadap ISIS di Suriah.

Turki Sedih
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu merasa sedih atas keretakan hubungan antara negara-negara Teluk Arab dengan Qatar. Cavusoglu menyerukan negara-negara itu melakukan dialog untuk menyelesaikan perselisihan.

"Kita melihat stabilitas di kawasan Teluk sebagai persatuan dan solidaritas kita sendiri," ucap Cavusoglu dalam konferensi pers, seperti dilansir Reuters, Senin (5/6). "Setiap negara mungkin memiliki masalah, tapi dialog harus berlanjut di bawah situasi apapun agar persoalan bisa diselesaikan secara damai. Kami merasa sedih atas situasi saat ini dan akan memberikan dukungan apapun bagi normalisasi hubungan," imbuhnya.

Pernyataan ini disampaikan Cavusoglu setelah Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab (UAE), Mesir dan Yaman memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar pada Senin (5/6) waktu setempat. Negara-negara itu menuding Qatar mendukung terorisme dan mencampuri urusan dalam negeri mereka.

Bukan Solusi Krisis
Iran mengomentari pemutusan hubungan diplomatik dengan Qatar oleh negara-negara Teluk Arab dan Mesir. Pejabat senior pemerintahan Iran menyebut pemutusan hubungan bukanlah solusi bagi krisis Timur Tengah. "Era memutus hubungan diplomatik dan menutup perbatasan sudah berakhir ... itu bukanlah cara untuk menyelesaikan krisis," sebut Hamid Aboutalebi yang menjabat Wakil Kepala Staf Kepresidenan Iran, seperti disampaikan via Twitter dan dilansir Reuters, Senin (5/6). "Negara-negara ini tidak memiliki opsi lain kecuali memulai dialog regional," imbuhnya.

Pemutusan hubungan dengan Qatar dilakukan setelah negara-negara Arab itu menuding Qatar mendukung terorisme dan ekstremisme. Qatar dituding mendukung agenda-agenda Iran, yang jelas merupakan musuh Saudi dan kawan-kawan. "Apa yang terjadi merupakan hasil awal dari tarian di atas pedang," sindir Hamid merujuk pada kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ke Saudi baru-baru ini. Dalam kunjungannya itu, Trump menyerukan dunia untuk mengisolasi Iran yang disebutnya mendukung terorisme.

"Seperti saya katakan sebelumnya, agresi dan pendudukan tidak akan ada hasilnya, selain instabilitas," imbuhnya, merujuk pada keterlibatan koalisi Saudi dalam konflik Yaman. Iran sendiri mendukung kelompok Houthi dalam konflik Yaman yang berkepanjangan. (Rtr/Detikcom/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru