Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 28 Februari 2026

Negara Teluk Diminta Kerja Sama Atasi Krisis Diplomatik Qatar

* Bahas Krisis Teluk, Menlu Qatar Berkunjung ke Rusia
- Senin, 12 Juni 2017 17:41 WIB
350 view
Jerman (SIB)- Kanselir Jerman, Angela Merkel, mengatakan bahwa dia prihatin dengan situasi di Qatar. Merkel menambahkan, semua negara Teluk, dan juga Iran dan Turki, harus bekerja sama untuk menemukan solusi atas krisis diplomatik akibat sengketa regional tersebut.

Merkel, yang berbicara bersama Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto, mengatakan, tidak mungkin mengatasi situasi tersebut kecuali jika semua aktor regional terlibat, merujuk Iran, Turki, dan Qatar. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi tuduhan negara-negara Arab dengan menyebut Qatar telah menjadi sponsor terorisme "tingkat tinggi".

Apa yang disampaikan  Trump itu berpotensi menghambat usaha Departemen Luar Negeri AS untuk mengurangi ketegangan dan blokade Qatar oleh negara-negara Arab dan negara-negara lain. Negara-negara Arab memperketat tekanan kepada Qatar dengan mendaftar puluhan tokoh yang memiliki kaitan dengan negara tersebut ke dalam daftar hitam terorisme.

Sementara sekutu Qatar, yakni Turki, mengambil langkah lain yakni memperkuat hubungan diplomatik dengan negara Teluk itu dengan rencana mengirim pasukan ke Qatar. Pentagon mengatakan, blokade Qatar menghambat kemampuan AS untuk merencanakan operasi jangka panjang di wilayah tersebut.
Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar merupakan rumah bagi lebih dari 11.000 pasukan koalisi AS dan menjadi pangkalan penting untuk memerangi kelompok teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS).  Al Udeit merupakan pangkalan Angkatan Udara AS yang terbesar di wilayah Teluk.

Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson, mengatakan bahwa dia mengharapkan semua pihak untuk menemukan sebuah resolusi atas krisis di Qatar. Tillerson mengatakan, blokade itu menyebabkan konsekuensi kemanusiaan dan bisnis serta menghambat operasi militer AS di kawasan, dan kampanye melawan ISIS.

Dialog merupakan cara terbaik untuk mengatasi guncangan politik di Jazirah Arab yang melibatkan Qatar dan Arab Saudi Cs. Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dan Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani saat keduanya bertemu di Moskow.

Kawasan Timur Tengah memanas setelah Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir, Bahrain, Yaman, Mauritius, Mauritania, Libya, dan Maladewa memutuskan hubungan dengan Qatar. Langkah Saudi Cs tersebut memicu krisis diplomatik terburuk yang melanda negara-negara Teluk Arab dalam beberapa dasawarsa terakhir. Negara-negara tersebut kompak menuding Qatar mendukung terorisme dan mendestabilisasi wilayah Timur Tengah melalui jalinan hubungannya dengan Iran dan sejumlah kelompok seperti Ikhwanul Muslimin dan Hamas. Qatar mengakui hubungannya dengan kelompok-kelompok tersebut, namun mereka membantah menyokong terorisme.

"Kami tidak senang dengan situasi ini, ketika hubungan antar mitra kami semakin memburuk," ungkap Menlu Lavorv menurut media yang dikelola negara. "Hanya melalui dialog langsung dimungkinkan untuk lebih memahami kekhawatiran masing-masing, memecahkan masalah ini, dan memastikan transparansi dalam semua masalah ini."

Lavrov mengatakan, krisis Teluk harus diselesaikan melalui Liga Arab, Dewan Kerja Sama Teluk, dan antar negara yang berseteru. "Kami menjaga kontak dengan sebagian besar pihak yang terlibat dalam proses yang masih berjalan," terang Lavrov.

Sheikh Mohammed  menyatakan, tujuan utama kunjungannya ke Moskow adalah untuk memberikan penjelasan kepada Rusia mengenai apa yang sebenarnya tengah terjadi dan tindakan-tindakan melawan Qatar. Salah satunya melalui sanksi.

Menurut Sheikh Mohammed, Rusia dan Qatar 'terikat hubungan persahabatan' dan menghargai kerja sama bilateral kedua negara. "Setiap masalah harus dipecahkan dengan dialog. Format dialog antar negara-negara Teluk Persia merupakan yang paling tepat," ujar Sheikh Mohammed.

Krisis Teluk disebut turut memengaruhi kebijakan Amerika Serikat dan perang regional melawan teroris ISIS. Konsentrasi terbesar personel militer AS di Timur Tengah berada di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar. Pangkalan yang dihuni 11.000 personel militer AS tersebut merupakan kunci dalam perang melawan ISIS di Suriah dan Irak. (CNNI/kps/l)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru