Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 15 Februari 2026

Poroshenko Dilantik Sebagai Presiden Ukraina

* Obama: Putin Harus Akui Presiden Baru Ukraina
- Minggu, 08 Juni 2014 21:54 WIB
276 view
Poroshenko Dilantik Sebagai Presiden Ukraina
Kiev (SIB)- Presiden terpilih Ukraina Petro Poroshenko menyerukan digelarnya dialog menyelesaikan krisis di timur negara itu dan meminta kelompok-kelompok bersenjata menyerahkan diri. Namun Poroshenko menegaskan tidak akan bersedia berdialog dengan pemberontak yang disebutnya “gangster dan pembunuh.”

Seruan itu disampaikannya usai dilantik yang dihadiri seluruh anggota parlemen di Kiev, Sabtu (7/6). Pria berusia 48 tahun yang kerap disebut “Raja Coklat” memenangkan pemilihan presiden 25 Mei silam menggantikan presiden interim yang memimpin sejak tumbangnya Viktor Yanukovych Februari lalu.

Namun sejak tumbangnya Yanukovych, Ukraina dilanda perpecahan khususnya di wilayah timur dan selatan yang mayoritas penduduknya menggunakan bahasa Rusia yang mengecam pemerintahan di Kiev sebagai kudeta nasionalis yang bertujuan untuk menekan mereka.

Wilayah Crimea yang terletak di semenanjung Laut Hitam dianaksasi Rusia dan munculnya kelompok bersenjata di Donetsk dan Luhansk. Pasukan Ukraina kini tengah berperang dengan kelompok bersenjata yang sejauh ini telah menewaskan lebih 200 orang. Ukraina menuduh Rusia memicu kerusuhan di kedua provinsi tersebut. Rusia menganaksasi Crimea Maret silam setelah menguasai semenanjung Laut Hitam dan digelarnya referendum yang dikecam keras Kive dan negara Barat sebagai tindakan ilegal.

Poroshenko dalam pidato pelantikannya berjanji memberikan amnesti “kepada mereka yang tangannya tidak berdarah” dan menyerukan dialog damai. “Saya menyerukan semua pihak yang memegang senjata untuk menurunkan senjatanya,” ujarnya. Poroshenko juga meminta digelarnya pemilu di wilayah timur namun menolak  negara Ukraina berbentuk federal seperti yang diserukan Moskow.

Meski dirinya akan tetap menjaga hubungan dengan Rusia, Poroshenko menegaskan pemerintahannya tidak akan melakukan kompromi dengan Rusia, khususnya mengenai status Crimea serta sikap pro-Eropanya. "Crimea tetap dan akan selalu menjadi bagian dari Ukraina. Saya sudah menjelaskan hal tersebut kepada pemimpin Rusia (Vladimir Putin) di Normandy," tuturnya.

Sehari sebelumnya, Poroshenko bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin usai menghadiri perayaan D-Day di Normandy, Perancis. Pertemuan keduanya terjadi secara informal di Kastil de Benouville. Kanselir Jerman, Angela Merkel, turut serta dalam pembicaraan informal tersebut. Kedua kepala negara sepakat melakukan gencatan senjata.

Kehadiran Putin dalam acara tersebut merupakan inisiatif Presiden Perancis, Francois Hollande. Kantor berita Reuters bahkan menulis di akun Twitter mereka, Putin dan Poroshenko berjabat tangan ketika bertemu. Di mata para pejabat negara-negara barat, pertemuan itu memunculkan harapan ketegangan yang terjadi di Ukraina akan segera mereda. Khususnya, setelah Rusia menganeksasi Crimea.

Di saat yang sama, Putin juga melakukan pertemuan dengan Presiden Barack Obama. Menurut pernyataan pejabat Gedung Putih, pertemuan keduanya berlangsung selama 15 menit usai santap makan siang di kastil. Dalam pertemuan itu, Obama menegaskan penurunan ketegangan krisis di Ukraina bergantung kepada sikap Moskow, apakah mengakui presiden terpilih Poroshenko.

Obama mengatakan bahwa dia menghargai kerja sama dengan Rusia pada isu-isu termasuk perang Afghanistan dan kesepakatan sementara nuklir dengan Iran. "Tetapi diperlukan resolusi situasi di Ukraina," kata Obama. "Dan juga dibutuhkan Putin mengakui bahwa Ukraina baru saja memilih Poroshenko sebagai presiden yang sah, yang akan dilantik Sabtu, (dan) bahwa Putin harus bekerja secara langsung dengan  Poroshenko serta pemerintah Ukraina untuk mencoba menyelesaikan perbedaan antara kedua negara," kata Obama.

Rusia juga perlu "untuk menghentikan pembiayaan dan mempersenjatai separatis yang telah mendatangkan malapetaka di bagian timur negara itu," kata Obama, mengacu pada pemberontakan bersenjata di Ukraina yang telah merenggut sekitar 200 orang sejak pertengahan April. "Jika Rusia mulai bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip dasar internasional, maka saya yakin bahwa hubungan Amerika Serikat-Rusia akan membaik," katanya.(AP/R15/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru