Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 15 Februari 2026

Dilantik Jadi Presiden, al-Sisi Ingin Ciptakan Kebebasan di Mesir

* Pengadilan Mesir Hukum Mati 10 Pendukung IM
- Senin, 09 Juni 2014 11:18 WIB
302 view
Dilantik Jadi Presiden, al-Sisi Ingin Ciptakan Kebebasan di Mesir
SIB/rtr
Abdel Fattah al-Sisi (kanan) membacakan sumpah saat dilantik menjadi presiden Mesir, Minggu (8/6). Dalam pidatonya, al-Sisi mengatakan ingin menciptakan kebebasan di Mesir.
KAIRO (SIB) - Setelah melakukan kudeta, mantan Panglima Militer, Abdel-Fatah al-Sisi akhirnya resmi dilantik menjadi presiden pada 8 Juni 2014. Pelantikan ini dilangsungkan usai dirinya memenangkan hasil Pemilihan Presiden (Pilpres) Mesir. Mengutip Guardian, Minggu (8/6), Abdel Fattah al-Sisi mengklaim mendapatkan lebih dari 95 persen suara dalam pemilihan umum (pemilu) di Mesir.

Dalam pelantikan tersebut Sisi mengucapkan sumpah jabatan di hadapan Mahkamah Konstitusi Tertinggi Mesir. Sejumlah tamu negara turut hadir menyaksikan pelantikan tersebut dengan penjagaan yang turut diperketat oleh pasukan keamanan setempat di seluruh tempat-tempat utama di Mesir.

Usai dilantik menjadi presiden, al-Sisi pun "mengumbar" janji-janjinya. al-Sisi mengatakan, dia ingin adanya "kebebasan" setelah dilantik sebagai presiden ketujuh negara itu. Demikian seperti dilansir dari ITV, Minggu (8/6). "Perlu waktu untuk bekerja dan bekerjasama dalam pekerjaan membangun negara ini sehingga akan menyebabkan kemakmuran dan kemewahan," ungkap dia, dalam pidatonya yang disiarkan televisi. Sebelumnya, sejumlah negara barat prihatin dengan tindakan keras yang kerap muncul ketika adanya sebuah perbedaan pendapat. Situasi terjadi usai Mohamed Morsi digulingkan dari jabatannya sebagai presiden.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Inggris, William Hague, meminta kepada Mesir untuk menjalankan amanat dari Kontitusinya. Amanat tersebut termasuk kebebasan berekspresi dan berpendapat. Namun Hague dikabarkan tidak menghadiri pelantikan tersebut tetapi dirinya diwakili oleh Wakil Duta Besar Inggri untuk Mesir, Steven Hackey. Sisi akan menghadapi tantangan besar dan bertanggung jawab mengembalikan kestabilan politik serta menanggulangi kemiskinan yang terjadi di Mesir hingga saat ini.

Ancaman Pembunuhan

Menteri Dalam Negeri Mohammad Ibrahim mengatakan bahwa pihak keamanan Mesir berkoordinasi dengan angkatan darat untuk secara ketat melindungi al-Sisi. Penjagaan ketat terhadap al-Sisi itu juga dikemukakan oleh seorang petinggi Angkatan Darat Mesir kepada Al Arabiya News.

“Kami tidak gentar. Warga Mesir berbulan-bulan menunggu pelantikan ini,” kata petinggi AD Mesir yang tak mau identitasnya diungkap media. “Dalam 10 bulan belakangan, banyak warga Mesir merasakan ancaman dari Ikhwanul Muslimin dan memuncaknya aktivitas para pengganas, yang menyerang Sinai dan Kairo untuk melecehkan stabilitas Mesir, ujar Dr. Saaed Sadeq, analis politik di Kairo. “Ketakutan inilah yang justru mendorong orang memilih al-Sisi,”tambah Sadeq.

Ancaman pembunuhan terhadap Sisi ini benar-benar nyata. Polisi menangkap enam orang pada Jumat kemarin. Mereka berencana menyerang setelah upacara pelantikan al-Sisi, menurut koran Mesir al-Watan. Orang masih mengingat para presiden Mesir terdahulu mengalami nasib nahas setelah ditembak , seperti upaya pembunuhan bekas presiden Gamal Abdel Nasser, bekas presiden Anwar Sadat yang terbunuh oleh pasukan militernya sendiri.
Pelantikan al-Sisi juga dihadiri para pejabat Teluk Arab, diantaranya adalah Emir Kuwait Syekh Sabah al-Ahmed al-Jaber, Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Salman bin Abdulaziz al-Saud, Putera Mahkota Uni Emirat Arab Pangeran Mohammed bin Zayed bin Sultan al-Nahyan.

Pengadilan Mesir Hukum Mati 10 Pendukung IM

Pengadilan Mesir menjatuhkan hukuman mati terhadap 10 pendukung Ikhwanul Muslimin (IM). Hukuman tersebut diputuskan melalui proses peradilan tanpa kehadiran terdakwa (in absentia).

Para terhukum itu dikatakan terbukti bersalah, termasuk melakukan penghasutan kekerasan dan menutup jalan raya penting utama Kairo, dalam unjuk rasa setelah militer menggulingkan Presiden Mohamed Moursi salah seorang pemimpin organisasi itu, Juli tahun lalu.

Ke-10 orang itu diduga bersembunyi saat aksi kekerasan pemerintah terhadap kelompok itu sejak Moursi digulingkan. Salah seorang dari mereka yang divonis itu adalah Abdul Rahman al-Barr, seorang anggota Dewan Pimpinan Ikhwanul Muslimin, badan eksekutif gerakan itu.

Mohamed Abdel-Maqsoud, ulama Salafi terkenal yang lari ke Qatar setelah Mousi digulingkan, juga dihukum tanpa kehadirannya. Demikian diberitakan Reuters.

Rekomendasi hukuman mati di Mesir disampaikan kepada mufti besar negara itu, yang memiliki wewenang agama tertinggi, untuk ditinjau. Pengadilan dapat mengabaikan pendapatnya dan keputusannya dapat dibanding. Hakim Hassan Fareed mengatakan vonis bagi para terdakwa lainnya akan diumumkan dalam sidang 5 Juli. (Guardian/alarabiya/okz/c)


Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru